Senin, 10 Desember 2012

Penuturan Penjual Emprit

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg5_lCHYxyLzZSnBNoEeAWjIWOZYc-9kgpKuzELc_pTLNME2Qg8yqFwNTKVXT8ORHjHWQl4y-SIk62dM-m4yA3dUudfEqZ4RGtl6J-IAhnAxLrffROEXffh13h4zzpRLzmxw8ikimbXCqz-/s1600/DSC05099.JPG

Puluhan,bahkan ratusan burung emprit yang sudah diberi pewarna dijajakan olehnya.Ya,Udin,seorang penjual burung emprit di sekitaran Klaten yang saya temui beberapa saat yang lalu saat berjualan di sekitaran Matahari Dept Store.



Beliau mengaku mendapatkan pasokan burung-burung emprit yang dijajakannya dari seseorang temannya yang berdomisili di daerah Klaten dengan harga Rp. 3000 hingga Rp.4000 untuk tiap ekor burung yang dibelinya.Lalu,Udin memberikan pewarna pada burung emprit yang telah dibelinya.

Lalu ia menjual burung emprit yang telah diwarnai tersebut dengan harga Rp.6500 / ekornya. "Ya kalau jualan kayak gini ini hanya mengandalkan peruntungan saja mas",katanya kepada saya.Burung yang dijajakannyapun merupakan burung yang dapat dikategorikan burung yang siap produksi.


Begitu sayangnya ketika burung yang sudah siap ataupun malah sudah bertelur ditangkap lalu diperjual-belikan.Memang sayang,tetapi ya bagaimana lagi pekerjaan tersebut yang dapat merkea lakukan.Kita juga harus menghargai usahanya.

Seorang ibu yang kedapatan membeli beberapa ekor burung emprit yang dijajakan Udin menuturkan,bahwa "Memberli burung hanya untuk anak saya saja mas.Paling-paling saya beli,saya beri makan beras dan saya beri minum.Terus 2 atau 3 hari kedepannya mungkin mati mas.Saya buang".Begitulah penuturan singkatnya.

Memang,burung emprit yang telah tertangkap memiliki kecendurungan untuk tidak memakan makanan yang disediakan.Mungkin juga terdapat rasa trauma yang membuat si emprit lama kelamaan mati dan yang paling penting adalah populasi emprit semakin terancam.

0 komentar:

Posting Komentar