Sabtu, 09 Maret 2013

Burung Layang-Layang Api

 http://www.naturephoto-cz.com/photos/birds/hirundo-rustica-29748.jpg

Gudang Burung - Kala senja ribuan burung layang-layang api (Hirundo rustica) berputar-putar di atas sebuah pabrik tekstil di Bandung. Mereka berakrobat. Berputar-putar selama lebih dari setengah jam. Setelah itu, hinggap di tujuh pohon angsana, tepat di depan pabrik tekstil PT. Artostek,  tak jauh dari pintu tol Mohammad Toha. Mereka berdempet-dempet memenuhi setiap ranting pohon itu. Burung-burung ini berasal dari Jepang.


“Pemandangan seperti itu akan terlihat setiap tahun, sejak memasuki September dan Oktober. Namun puncak kedatangan burung burung migrasi itu Desember. Januari, burung layang-layang api sudah berkurang,  dan balik pada Maret hingga April,”  kata Abdul Rahman Hafif, Koordinator Program Birds Conservation Society (Bicons), pada pertengahan Desember 2012.
 
Sekilas, jenis burung  ini hampir sama dengan jenis burung walet tetapi jika diteliti lebih dalam lagi terdapat banyak perbedaan dengan burung lokal, layang-layang batu. Burung Layang-layang api sekitar 15-20 cm, warna biru metalik pada bagian dorsal, putih pada ventral, garis biru di dada, dan warna orange hingga merah di bagian dagu. Burung jenis ini memiliki ekor cagak agak dalam berbentuk V, dan hidup berkelompok.

“Tahun ini, sekitar 2.581 ekor burung pindah ke Mohammad Toha. Uniknya, kedatangan mereka selalu di tempat dan waktu yang sama.”

 http://www.mongabay.co.id/wp-content/uploads/2013/01/indra-burung-layang-layang2-Fenomena-yang-terjadi-setiap-tahun.-Kawanan-Hirundo-rustica-saat-beristirahat-di-pohon-angsana-kering-di-daerah-moh.toha-.jpg
 
Hafif mengatakan, kedatangan burung  ini fenomena unik.  Pagi hari mereka terpisah dalam beberapa kelompok dan terbang ke arah berlainan untuk mencari pakan. Namun saat senja, mereka kembali berkumpul di tempat yang sama, berakrobat  lalu kembali menempati tujuh pohon itu. Sebelum di tujuh pohon itu, ribuan burung ini, menempati beberapa pohon di pabrik PT. Ceres, terletak beberapa meter dari PT. Artostex.

“Kita belum tahu persis kenapa lokasi persinggahan burung ini disitu terus. Kita sedang meneliti faktor apa yang menjadikan tempat itu dijadikan persinggahan,”  kata Gema Ikrar, Manager Sistem Pengolahan Informasi Bicons.

Habitat paling umum tempat singgah burung ini biasa di kabel listrik. Pemandangan ini bisa dilihat di kawasan Ciranjang-Cianjur, juga tempat migrasi burung ini. Di sana, mereka terlihat rapih berjajar di sepanjang aliran kabel listrik seperti berbaris. Sementara di Kalimantan, burung-burung ini menempati rangkai bangunan pabrik.

“Kami terus membandingkan dengan lokasi lain seperti Ciranjang dan Kalimantan. Kesimpulan sementara, habitat umum biasa selalu ditentukan keberadaan pakan. Di lokasi itu mungkin banyak serangga karena pakan yang dikonsumsi burung itu serangga,” ucap Gema.

Bicons  mengamati burung layang-layang api sejak 1996. Program pengamatan dimulai kedatangan peneliti burung asal Jepang bernama Kobayashi ke kampus  Biologi, Universitas Padjajaran.  Kobayashi berkeliling Bandung meneliti keragaman burung di kota itu. Hingga menemukan persinggahan burung di Mohammad Toha.

“Saat itu Kobayashi  mengamati sekaligus  penandaan burung ini mengajak beberapa mahasiswa biologi yang tergabung dalam Bicons untuk terlibat dalam penelitian.”

Sejak itu Kobayashi mendukung Bicons terus meneliti burung ini. Terakhir 2010,  Bicons berkomunikasi dengan Kobayashi perihal perkembangan penelitian burung layang-layang api ini.

Menurut Gema, masyarakat sekita awalnya tidak tahu, dan mengira burung itu walet. Mereka sampai mencari sarangnya. “Ada juga yang mengambil burung itu untuk pakan ternak. Sekarang karena sudah terjadi bertahun-tahun, menganggap hal ini biasa.”-mongabay

0 komentar:

Posting Komentar