Minggu, 17 Maret 2013

Lebih Dekat dengan Pecinta Burung



Gudang BurungUntuk menyalurkan hobi, berapa pun biayanya akan dibayar. Apalagi jika hobi itu bernilai ekonomis, bisa-bisa lupa daratan demi merengkuh kepuasan batin. Salah satuya, hobi memelihara burung berkicau. Seperti apakisahnya?

Yang menjadi kepuasan bagi pemelihara burung berkicau, jika burung peliharaannya banyak dilirik pecandu burung. Jika sudah jatuh cinta, berapa pun harganya akan dibeli. Tapi tunggu dulu, tak mudah bagi si empunya untuk melepaskan burung kesayangannya.

Itulah yang dirasakan Dedi Irawan, 26, dan Zulfitri, 46. Burung murai yang dibelinya Rp 2 juta dahulu, telah ada yang menawar Rp 5 juta. Calon pembeli terpaksa gigit jari. Baik Dedi maupun Zulfitri belum kepikiran untuk menjual burung yang acap kali menjuarai sejumlah iven perlombaan burung berkicau.

Burung murai Dedi dan Zulfitri, sangat dahsyat bunyinya. Sekali dengar, orang-orang pada naksir dibuatnya. Bagi mereka, mendengarkan kicauan burung miliknya merupakan kepuasan tersendiri yang tak dapat dinilai dengan uang.

Untuk melakoni hobi ini, Dedi dan Zulfitri mengaku tak terbebani. Bahkan, hobinya itu malah sering mendatangkan rezeki karena harga burungnya bisa jutaan rupiah.

Dedi menjelaskan, hobinya ini warisan dari orangtua laki-lakinya. Sejak kecil, ia telah terbiasa dengan suara burung dan sudah paham cara merawat burung berkicau.

Untuk perawatan agar burung peliharaannya bisa berkicau dengan baik, tidak terlalu susah dan tidak perlu menggunakan biaya besar.

Setiap pagi dan sore, Dedi yang saat ini memiliki 15 ekor burung seperti jenis murai batu, kenari, kecer, rutin memandikan burungnya. Setiap selesai mandi, burung diberi makanan bergizi seperti beberapa jenis ulat dan jangkrik. Makanan alami ini sengaja diberikan karena akan menambah stamina dan memperindah suara burung.

Dedi sepertinya telah sejiwa dengan kondisi burung peliharaannya. Dalam setahun, ada masa ngurah pada burung. Masa ini adalah masa pertukaran bulu. Dalam setahun, burung mengalami masa ngurah sekali empat bulan.

Di saat itulah, pecinta burung berkicau melakukan pengisian suara pada burung. Misalnya, burung murai batu diisikan suara burung cak lili, kleret, slindak, dan lainnya. Caranya gampang, burung yang sedang mengalami ngurah ini didekatkan dengan burung jenis lain. Saat itu, burung akan merekam kicauan burung lain yang berada di dekatnya. Biasanya, Dedi saling mengisi suara burung miliknya sendiri.

“Karena memiliki beberapa jenis burung, jadi lebih gampang melakukan pengisian suara,” ujar pria yang sebelumnya memiliki toko burung di kawasan Paraklaweh ini.

Di tempat yang sama, Zulfitri menjelaskan, untuk memilih calon bibit burung berkicau yang bagus adalah dengan melihat secara fisik. Burung yang akan dijadikan burung berkicau tidak perlu dirawat sejak kecil (baru lahir). Burung yang telah berumur satu tahun pun bisa dijadikan burung kicau, dengan melihat bentuk kepalanya.

Para pecinta burung pasti akan memilih burung yang kepalanya pipih (picak). Selain itu, bukaan mulut burung yang besar juga menjadi salah satu indikator jika burung itu cocok untuk djadikan burung lomba.

“Kepala picak, mulut berongga besar akan menghasilkan suara yang khas dan panjang. Burung seperti ini cocok untuk dirawat dan dijadikan burung kicau. Hal ini berlaku untuk segala jenis burung,” imbuhnya ketika mengikuti lomba burung berkicau Wali Kota Padang Cup di Kuranji, Minggu (5/2) lalu.

Untuk perawatan, Zulfitri mengaku tidak membutuhkan biaya besar karena harga burung yang belum dilatih terbilang murah. Namun setelah dapat berkicau, apalagi memenangkan lomba, nilai jualnya akan tinggi.

Pria berkumis ini memiliki pengalaman menarik soal hobinya. Karena betah di rumah merawat burung, istri dan anak-anaknya makin sayang. “Pagi dan sore, saya sudah di rumah untuk memandikan burung. Istri saya tidak protes, bahkan semakin sayang. Pecinta burung jarang keluar rumah. Istri juga terperhatikan jadinya,” imbuhnya sambil tertawa.

Dia merasa puas setiap kali mengikuti perlombaan. Sekalipun itu tidak menang. Baginya, kemenangan itu merupakan bonus tambahan dalam hobinya ini. Dua penghobi burung berkicau ini mengharapkan ada iven perlombaan burung berkicau secara rutin.

“Kini, masih jarang ada lomba burung berkicau. Padahal, banyak penggemarnya di Padang ini. Kami berharap, pemerintah atau swasta bisa menggelar iven secara rutin,” pungkasnya.-padangekspress

0 komentar:

Posting Komentar