Kamis, 04 April 2013

Pasar Oprokan Picu Kecemburuan

 http://images.solopos.com/2012/05/210512_SOLO_PASAR-DEPOK_BUR1-370x238.jpg

Gudang Burung - Kecemburuan sesama pedagang mencuat di Pasar Depok. Aktivitas jual-beli pedagang oprokan dinilai mempengaruhi daya jual pedagang yang berjualan di dalam pasar. Sementara Dinas Pengelola Pasar (DPP) dan Satpol PP yang menangani persoalaan ini terkesan tak mengubris keluhan pedagang di dalam pasar. 


”Ini tinggal bagaimana DPP dan Satpol PP bertindak tegas. Karena masih terdapat pedagang oprokan yang tersebar, terutama di jalan masuk sisi timur. Lalu-lintas di sana terganggu karena badan jalan dipakai berjualan. Seharusnya, mereka juga masuk ke dalam pasar. Tidak tersebar seperti saat ini,” kata pengurus paguyuban pedagang Pasar Depok, Suwarjono.

Ketua Ikatan Keluarga Pedagang Burung Surakarta (IKPBS) Sub Lomba ini mengaku khawatir  bila tidak ditertibkan, aktivitas pedagang oprokan kian semarak. Padahal 281 pedagang pemilik Surat Hak Penempatan (SHP) sudah bersedia masuk ke Pasar Depok setelah setahun berjualan di lokasi yang sama. Suwarjono menambhakan, aktivitas jual-beli pedagang oprokan juga membuat lingkungan sekitar pasar kumuh.

”Sepanjang Jalan Balekambang sudah bersih dari lapak dan los darurat, karena seluruh penggunanya sudah pindah ke pasar. Tinggal pedagang oprokan yang masih berjualan. Pasar Depok bisa ramai seperti dulu apabila semua pedagang masuk ke pasar,” jelasnya.

Kepala DPP Subagiyo menegaskan sterilisasi jalan dari aktivitas PKL mutlak dilakukan. Adapun pemindahan pedagang oprokan menunggu perluasan Pasar Depok beres.

”Tahapannya (pemindahan) setelah perluasan dan pembuatan shelter. Jadi tidak langsung bisa memindahkan karena perlu tempat yang memadai. Namun pada prinsipnya, aktivitas berjualan -soloposdi jalan tidak diperbolehkan,” jelasnya.

0 komentar:

Posting Komentar