Jumat, 19 April 2013

Tasrik Minat dengan Lomba Burung


Gudang BurungPengunjung di Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTY) ini paling ramai saat akhir pekan dan libur anak sekolah. Maklum, pengunjung tak hanya datang dari sekitar Yogyakarta, tapi juga sampai Sukabumi, Purworejo, Kebumen, dan Jakarta.
Pasar ini diminati lantaranbarang dagangannya terbilang lengkap. Pedagang pakan dan perlengkapan burung, Rusditanto bilang, tak jarang pengunjung membeli dalam jumlah besar. "Ada juga yang beli untuk dijual lagi," kata pemilik kios Los Buris ini.

Produk yang paling sering dicari pembeli adalah pakan lolohan, yang dibanderol Rp 10.000 hingga Rp 15.000 per bungkus. Menurut Rusditanto, agak sulit mencari pakan  lolohan, sehingga jarang ada kios yang menjualnya. Ia memasok barang dari  agen di Yogyakarta.

Pedagang ayam hias, Suyono mengklaim, ayam kate masih yang paling dicari sejauh ini. Ia mendapat suplai ayam dari para pembudidaya di sekitar Yogyakarta. "Kadang ada juga yang dari Jawa Barat," imbuhnya.

Di kiosnya, ia memajang berbagai jenis ayam, mulai dari ayam kate, ayam bekisar,  ayam cemani, hingga beragam burung hias, seperti seperti merpati kipas. Harganya bervariasi mulai dari Rp 200.000 hingga Rp 900.000 per pasang. "Dulu merpati ini pernah naik daun, harganya bisanya Rp 2 juta per pasang," ujarnya sambil menunjuk merpati kipas dengan buntut yang menyerupai kipas. 

Nah, supaya PASTY kian dikenal, sering digelar lomba kicau burung di sini. Memang, di salah satu bagian dari pasar ini tersedia arena khusus untuk perlombaan. 

Suyono bilang, perlombaan burung diadakan pada waktu-waktu tertentu oleh komunitas burung yang ada di Yogyakarta. Biasanya, peserta lomba berasal dari anggota komunitas tersebut, juga ada peserta dari luar termasuk pedagang.

Selain sebagai promosi PASTY, ajang perlombaan ini juga bertujuan meningkatkan kualitas burung kicau yang ada di Yogyakarta dan Jawa Tengah. "Lomba ini juga berdampak positif pada penjualan kami. Saat lomba, pengunjung lebih banyak dan berpeluang membeli dagangan kami," ujarnya.

Rusditanto mengaku, sejak direlokasi ke pasar ini, tak ada kendala berarti yang dihadapinya. Pembeli tak sungkan datang lantaran pasar tertata rapih dan bersih. Ia pun tak cemas soal persaingan di antara para pedagang. Sebab, menurutnya, rata-rata pembeli sudah memiliki langganan kios masing-masing. "Jadi, kualitas dagangan dan layanan saja yang harus diperhatikan," imbuhnya.

Sementara, pedagang tanaman hias, Sri Mulyati tahu persis strategi memikat pembeli. Katanya, selain kios yang dagangannya lengkap, pembeli pasti mencari tanaman yang terawat dan terlihat segar. 

Makanya, ia rajin merawat tanaman supaya tetap sehat dan cantik sebelum berpindah tangan. "Kalau ada waktu luang saat berjualan, saya selalu menyempatkan menyiram, memangkas daun yang layu, dan merawat dagangan saya," ujarnya.-peluangusaha

0 komentar:

Posting Komentar