Rabu, 15 Mei 2013

Langka dan Punahnya Burung Hantu di Lebak


Gudang Burung  - Populasi burung hantu (spesies elang) di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, diduga sudah punah karena selama kurun tiga tahun terakhir tidak ditemukan lagi di pohon-pohon besar.



"Kami tidak mendengar lagi suara merdu burung hantu di malam hari, karena populasinya sudah punah," kata Sahrul Sabar, warga Judan Desa Rangkasbitung Timur, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Senin (14/3/2011).

Sahrul mengatakan, menghilangnya burung hantu di Rangkasbitung akibat kerusakan hutan yang menjadi habitatnya. Saat ini, burung hantu yang tinggal di di pohon-pohon besar, seperti pemakaman warga maupun hutan desa sudah tidak ditemukan.

Burung hantu adalah kelompok burung yang merupakan anggota ordo strigiformes. Burung ini termasuk golongan burung buas (karnivora, pemakan daging) dan merupakan hewan malam (nokturnal).

"Dengan menghilangnya burung hantu itu tentu kita merugi karena tnaman padi petani sering diserang hama tikus. Tikur adalah salah satu makanan burung hantu," ujar Sahrul seorang pencinta burung hantu.

Menurut dia, pada 1980-1990-an suara merdu burung hantu di Rangkasbitung masih ditemukan, namun beberapa tahun terakhir menghilang. Burung hantu di tengah masyarakat masih dianggap sebagai pembawa tanda buruk, seperti akan terjadi musibah bencana alam atau kematian.

Nana (45) warga Kongsen Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, menyatakan, sekitar tahun 1970-an di Kota Rangkasbitung hampir setiap malam suara burung hantu saling bersahutan mulai pukul 21.00 sampai 40.00 WIB.

"Jika burung itu bersuara maka suasana kampung sepi dan merasa ketakutan pertanda akan terjadi bencana," katanya.

Menghilangnya burung hantu selain karena menepisnya bahan makanan akibat kerusakan hutan juga banyak pemburu liar yang menangkap dan menjualnya ke luar daerah.

0 komentar:

Posting Komentar