Tampilkan postingan dengan label Burung Kecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Burung Kecil. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Juni 2013

Pipit Zebra, Si Kecil nan Cantik


Gudang BurungBurung yang memiliki warna bulu unik ini sering juga disebut dengan gelatik zebra. Burung ini sering dijumpai di daerah Indonesia bagian timur dan benua Australia. Pipit Zebra memang tidak memiliki suara kicauan yang indah seperti burung kicauan pada umumnya, namun burung ini memang layak dijadikan burung hias karena memiliki corak warna bulu yang unik dan indah. 


Sesuai dengan namanya, Pipit Zebra memiliki corak bergaris gelap dan terang serta warna merah di bagian kepala dan paruhnya.

Ciri Burung Pipit Jantan
  • Memiliki garis warna hitam di bagian dada.
  • Memiliki warna pipi orange.
  • Memiliki warna paruh merah tua.
  • Memiliki bintik-bintik putih pada sayapnya


Ciri Burung Pipit Betina
  • Tidak memiliki banyak warna.
  • Hampir semua bulunya berwarna abu-abu.
  • Tidak memiliki warna orange pada pipi
  • Paruhnya berwarna orange.
  • Tidak memiliki bintik-bintik putih pada sayapnya

Senin, 14 Januari 2013

Kolibri Ninja



Burung Kolibri Ninja merupakan salah satu jenis kolibri yang paling banyak dipelihara oleh pecinta burung kicau. Selain memiliki warna bulu yang bagus burung ini juga mempunyai kicauan yang merdu. Burung yang makanan utamanya nectar ini memang agak sulit perawatannya. Perlu perhatian khusus agar burung dapat hidup sehat. Berikut beberapa tips tentang cara memilih dan merawat burung kolibri.

Memilih Burung Kolibri Ninja

  • Pilih yang lincah bergerak, menandakan burung sehat.
  • Pilih yang memiliki kondisi tubuh yang bagus, bisa dilihat dari anggota tubuhnya dan kondisi bulu.
  • Pilih yang berkepala dan berparuh besar.
  • Untuk membedakan antara burung jantan dan betina pada burung jenis kolibri adalah dengan memperhatikan warna bulunya. Burung jantan memiliki warna yang lebih mengkilap pada daerah kepala dan leher. Sedangkan pada betina bulunya tidak memiliki warna yang mencolok.

Merawat Burung Kolibri Ninja

Burung Kolibri adalah salah satu burung yang gampang-gampang susah untuk dipelihara. Hal ini dikarenakan makanan burung ini bukanlah biji-bijian seperti pada kebanyakan burung lain. Burung ini di alam memakan nektar yang ada pada bunga. Perlu diketahui bahwa burung ini makan hingga 5 sampai 15 kali dalam sehari. Burung ini harus makan hingga sampai 4 kali berat badannya. Berikut tips merawat burung kolibri jenis ninja.

Makanan - Selalu sediakan air gula di dalam kurungan. Air gula yang baik adalah dengan perbandingan takaran 1 : 4. 1 bagian gula dan 4 bagian air. Untuk menunjang kebutuhan nutrisinya, sebaiknya disediakan juga kroto agar burung tetap fit.

Sangkar - Burung kolibri memang memiliki tubuh yang kecil, tetapi usahakan untuk dipelihara pada kurungan atau sangkar dengan ukuran minimal 30 x 30 cm dan tinggi sekitar 60 cm. Bisa juga digunakan sangkar bundar yang banyak tersedia di toko sangkar burung.

Merawat - Cara merawat burung jenis kolibri memang sedikit sulit jika dibanding dengan burung lain. Namun pada intinya hampir sama dengan burung kicauan yang lain. Jaga kebersihan sangkar atau kurungan dengan membersihkan kotoran setiap hari. Jangan terlalu lama dalam menjemur burung ini, karena jenis kolibri tidak begitu kuat jika terlalu lama pada terik matahari.-jenisburung

Minggu, 23 Desember 2012

Apung ( Pippit )

 http://cdn1.arkive.org/media/55/55C0DB7E-E47B-4FFB-8451-4CFFA3841DA4/Presentation.Large/Richards-pipit-perched-in-bush.jpg

Apung adalah nama sejenis burung pemakan serangga dari marga Anthus, suku Motacillidae. Burung yang memiliki cara terbang khas, menggelombang, dan kerap hinggap di tanah ini memiliki persebaran kosmopolitan; ditemukan di hampir semua bagian dunia kecuali di tengah padang pasir yang kering, di hutan lebat, dan di Antartika.Dalam bahasa Inggris (dan juga Malaysia) burung-burung ini dikenal sebagai pipit, namun tidak sama dengan burung pipit dalam bahasa Indonesia.


Burung-burung yang bertubuh ramping, berukuran sedang, dan berjalan dengan anggun di darat. Paruhnya ramping, kakinya kecil dan panjang. Ekornya yang panjang kadang-kadang digoyangkan ketika berjalan.

 http://www.haryana-online.com/images/Birds/David/Paddyfield_Pipit.jpg

Apung memiliki penampilan yang cenderung konservatif. Warna bulunya umumnya tidak menarik, kecoklatan atau kekuningan, dengan bintik-bintik atau coret-moret hitam; warna yang cocok untuk menyamar di atas tanah atau bebatuan. Panjang tubuhnya berkisar antara 16 hingga 21 cm, meski yang terkecil, apung ekor-pendek, hanya sekitar 11,5–12,5 cm.

 Berat tubuhnya antara 15–38 g. Baik dari ukuran tubuh maupun dari warna bulunya, tampak tidak ada atau hanya ada sedikit dimorfisme seksual (perbedaan di antara jantan dan betina). Satu ciri apung yang tidak biasa di kalangan burung petengger ialah bulu tersiernya yang seluruhnya menutupi bulu primer manakala sayapnya terlipat. Fenomena ini diyakini berlaku untuk melindungi bulu-bulu primer yang penting untuk terbang, dari kerusakan akibat sinar matahari yang terik di habitatnya.

Mencari makanannya yang berupa serangga dan invertebrata kecil lainnya, apung biasa menjelajahi tempat-tempat terbuka seperti persawahan, bantaran sungai, dan tepi jalan. Bila terganggu, terbang rendah menggelombang dan hinggap kembali dalam jarak yang tidak terlalu jauh.

Apung bersarang di antara rerumputan di atas tanah, bertelur hingga sekitar enam butir. Sebagaimana kerabatnya yang lain, apung bersifat monogami dan mempertahankan teritori tempat tinggalnya. Banyak spesiesnya yang bersifat migran.

Selasa, 11 Desember 2012

Cerecet jawa (Psaltria exilis)

 http://leesbirdblog.files.wordpress.com/2009/08/187-american-bushtit-psaltriparus-minimus-by-ian.jpg

Cerecet jawa (Psaltria exilis) adalah spesies burung dari keluarga Aegithalidae, dari genus Psaltria. Burung ini merupakan jenis burung pemakan serangga kecil, kutu loncat, laba-lab yang memiliki habitat di hutan pegunungan, hutan konifer, cemara, tepi hutan, perkebunan, tersebar di atas ketinggian 1.000 m dpl.



Cerecet jawa memiliki tubuh berukuran sangat kecil (8 cm). Burung ini merupakan burung terkecil di Jawa. Tanpa ciri khas, dengan ekor panjang. Tubuh bagian atas coklat, tubuh bagian bawah putih buram. Aktif bergerak dalam kelompok kecil. Mengunjungi pohon berdaun jarum dan jarang. Sering turun ke tanah mencari makan.

 http://sphotos-a.xx.fbcdn.net/hphotos-snc7/c0.66.843.403/p843x403/945_10151245243529486_129600533_n.jpg

Sarang mirip Burung cabai. Berupa kantung menggantung, dari daun, rumput, dilapisi lumut, dengan lubang masuk kecil. Telur berwarna putih, berbintik merah, jumlah 2-3 butir. Berbiak bulan Maret-Mei, Agustus-November.

Senin, 10 Desember 2012

Penuturan Penjual Emprit

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg5_lCHYxyLzZSnBNoEeAWjIWOZYc-9kgpKuzELc_pTLNME2Qg8yqFwNTKVXT8ORHjHWQl4y-SIk62dM-m4yA3dUudfEqZ4RGtl6J-IAhnAxLrffROEXffh13h4zzpRLzmxw8ikimbXCqz-/s1600/DSC05099.JPG

Puluhan,bahkan ratusan burung emprit yang sudah diberi pewarna dijajakan olehnya.Ya,Udin,seorang penjual burung emprit di sekitaran Klaten yang saya temui beberapa saat yang lalu saat berjualan di sekitaran Matahari Dept Store.



Beliau mengaku mendapatkan pasokan burung-burung emprit yang dijajakannya dari seseorang temannya yang berdomisili di daerah Klaten dengan harga Rp. 3000 hingga Rp.4000 untuk tiap ekor burung yang dibelinya.Lalu,Udin memberikan pewarna pada burung emprit yang telah dibelinya.

Lalu ia menjual burung emprit yang telah diwarnai tersebut dengan harga Rp.6500 / ekornya. "Ya kalau jualan kayak gini ini hanya mengandalkan peruntungan saja mas",katanya kepada saya.Burung yang dijajakannyapun merupakan burung yang dapat dikategorikan burung yang siap produksi.


Begitu sayangnya ketika burung yang sudah siap ataupun malah sudah bertelur ditangkap lalu diperjual-belikan.Memang sayang,tetapi ya bagaimana lagi pekerjaan tersebut yang dapat merkea lakukan.Kita juga harus menghargai usahanya.

Seorang ibu yang kedapatan membeli beberapa ekor burung emprit yang dijajakan Udin menuturkan,bahwa "Memberli burung hanya untuk anak saya saja mas.Paling-paling saya beli,saya beri makan beras dan saya beri minum.Terus 2 atau 3 hari kedepannya mungkin mati mas.Saya buang".Begitulah penuturan singkatnya.

Memang,burung emprit yang telah tertangkap memiliki kecendurungan untuk tidak memakan makanan yang disediakan.Mungkin juga terdapat rasa trauma yang membuat si emprit lama kelamaan mati dan yang paling penting adalah populasi emprit semakin terancam.

Jumat, 16 November 2012

Burung Madu Kelapa

 http://farm3.staticflickr.com/2244/2382992218_1736520002_z.jpg?zz=1

Burung Madu Kelapa atau burung yang mempunyai nama latin Anthreptes malacensis ini memiliki warna bulu yang hampir sama dengan burung kolibri ini memiliki panjang serta ukuran tubuh yang relatif lebih panjang dan lebih besar daripada kolibri .


Burung yang memiliki panjang sekitar 15cm ini merupakan 1 jenis dengan burung kolibri , tetapi burung ini menghisap sari buah kelapa , dan tak sering juga memakan serangga kecil . Burung ini sering hinggap di tangkai pohon yang rendah dan bersarang di atas ketinggian lebih dari 3 meter .

Ciri - ciri burung ini adalah memiliki paruh yang runcing dan panjang yang berwarna hitam , ini penting karena burung ini memperoleh makanannya dengan menghisap sari - sari makanan daro\i pohon kelapa . Warna bulu burung ini jugab beragam . Sedikitnya ada 5 jenis warna yang terdapat pada bulu burung ini .

http://farm4.static.flickr.com/3286/2297657570_6789545ff8.jpg

Pada bagian kepala hingga punggung terdapat warna hijau zamrud ( ekor juga , tetapi sedikit ) . Terdaapat bulu berwarna kuning yang mendominasi perut burung jenis ini . Pada sayap terdapat warna kuning keemasan yang diselingi dengan sedikit warna biru tosca sebagai bulu yang berfungsi menambah kecantikan jenis burung ini .

Burung ini mampu mengibaskan sayapnya lebih dari 100kali perdetik ketika sedang menghisap sari - sari bunga pohon kelapa . Burung ini bertelur setiap 23 - 31 hari sekali , dan biasanya bertelur antara 3 hinnga 4 butir pada sarang kecilnya .

Jumat, 09 November 2012

Burung Sriti


Sriti adalah sebangsa burung layang-layang yang masih saudara dekat dengan Walet. Secara anatomi burung Sriti mirip dengan Walet, bahkan karena kemiripan inilah banyak pengusaha Walet seringkali memaksa Sriti untuk bertukar telur dengan Walet, hal ini terjadi jika di peternakan populasi Walet masih lebih sedikit dibanding populasi Sriti. Telur yang ditukar sebaiknya memiliki umur sama agar sriti tidak merasa dibohongi.
Di rumah sriti yang belum banyak walet, keberhasilan penetasan 10%. Artinya dari 100 telur menetas, yang hidup sampai dewasa 10 ekor. Namun, begitu populasi walet mencapai 100 sarang, sukses penetasan mencapai 30%. Pergantian telur harus sesering mungkin karena populasi terlalu sedikit menyebabkan walet merasa tidak aman di tengah-tengah koloni sriti. Ruangan sebaiknya dibuat lebih gelap agar anak walet betah dan Sriti yang suka terang pindah ke tempat lain.

Sarang Sriti (Collocalia Esculenta) dibangun dari material seperti daun cemara, rumput, dan lumut laut yang direkatkan oleh air liur burung. Sedangkan sarang Walet (Collocalia Fuciphaga) murni terbuat dari liur walet. Harga sarang Sriti lebih murah, berkisar Rp500.000/kg; sarang Walet Rp 10-juta/kg tergantung kualitas.

Saat ini Sriti memang belum termasuk burung yang dilindungi, tetapi kalau melihat perubahan alam desa yang kurang bersahabat dengan kelangsungan hidup satwa ini tentu nantinya kita hanya akan melihat Sriti di sentra-sentra peternakan Walet. Itupun mungkin hanya di awal ketika peternakan itu baru akan mulai, tentu saja jika populasi Walet telah melimpah pasti Sriti akan terusir karena sudah tidak ekonomis lagi.

Dahulu sekitar tahun 80an di atas langit desa Ngaran Margokaton yang masuk wilayah Kabupaten Sleman DIY masih banyak terlihat Sriti berterbangan mencari mangsa atau pada sore hari ketika burung-burung ini terbang pulang ke sarangnya. Laron dan Capung biasanya menjadi santapan utama bagi Sriti ini selain serangga yang melimpah di areal persawahan yang terdapat di sekliling desa tersebut.

Populasi yang menurun ini kelihatannya di pengaruhi oleh factor lingkungan yang sudah tidak bersahabat lagi, walaupun Sriti tidak hinggap di pepohonan, tetapi akibat banyaknya pepohonan yang di tebang mengakibatkan sumber makanan Sriti juga berkurang sehingga memaksa Sriti untuk eksodus ke tempat-tempat yang masih banyak sumber makanannya. Di samping itu model rumah-rumah di pedesaan juga sudah mengalami perubahan, rumah-rumah tradisional jawa yang nyaman untuk tempat tinggal Sriti sudah jarang kelihatan lagi, hal ini membuat Sriti tidak kerasan lagi untuk tinggal di daerah seperti ini.