Tampilkan postingan dengan label Migrasi Burung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Migrasi Burung. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 November 2013

Migrasi Burung Starling Kotori Roma




Gudang Burung - Setelah beberapa waktu lalu Madrid, Spanyol, 'dihiasi' tumpukan sampah, kini giliran kota Roma, Italia, yang menjadi kotor dan tidak sedap dipandang. Kotornya Roma bukan karena unjuk rasa seperti yang terjadi di Madrid, tapi kotoran burung.


Spesies Burung Starling setiap tahun pasti bermigrasi dan terbang di atas Kota Roma, meninggalkan jejak berupa kotoran yang begitu banyak. Tahun ini, karena adanya krisis di Eropa dan pemotongan bujet negara, Roma kekurangan tukang pembersih sehingga kotanya diprediksi akan penuh kotoran burung Starling.

Burung Starling selama bertahun-tahun menghabiskan masa musim dingin di Roma, terutama di pusat kota yang udaranya lebih hangat. Diperkirakan akan ada 1,5 juta burung yang terbang dan berdiam di Roma tahun ini.

Biasanya kedatangan mereka tidak berpengaruh apa-apa terhadap turis maupun warga setempat. Burung-burung ini hidup berdampingan dengan warga, memakan buah-buahan atau biskuit yang diberikan turis.

Sayang, karena adanya pemotongan bujet tahun ini, kotoran yang dihasilkan burung-burung ini pun tidak ada yang membersihkan. AKibatnya, Kota Roma sebagian besar tertutupi oleh kotoran burung Starling, seperti dikutip dari News, Selasa (19/11/2013).

Pemandangan yang akan Anda lihat di Roma beberapa pekan ini adalah mobil dan jalanan yang tertutup kotoran burung, serta warga dan turis yang berjalan sambil menutup kepalanya karena takut terkena kotoran dari burung yang terbang. Waktu yang tidak tepat untuk berkunjung ke Roma.

Sabtu, 19 Oktober 2013

Migrasi Burung Ganggu Ketenangan di Queensland


Gudang Burung Pemandangan ribuan burung merpati di kota-kota besar, khususnya tempat wisata, cukup umum. Tapi bila burung kakatua dan galah yang habitatnya di hutan datang ke kota, bisa menimbulkan kerugian besar.

Ribuan burung tersebut telah berbondong-bondong menyerbu sebuah kota di Queensland, Australia. Dan menyebabkan pemadaman listrik, serta menghabiskan dedaunan pohon-pohon di sekitarnya.

Selasa, 30 Juli 2013

Optimalnya Migrasi Puffin


Gudang Burung Sekilas burung ini memang terlihat mungil dan sangat lucu. Namun, burung Puffin memiliki kepintaran dalam membaca arah migrasi buat mereka sendiri secara optimal.

Sebuah studi baru menunjukkan bahwa burung jenis ini tidak bergantung pada genetik 'pemrograman' atau rute yang diberitahu oleh induk mereka sendiri. Hal tersebut membuat ilmuwan berpikir bagaimana mereka bisa melakukannya?

Sebuah penelitian secara tim dari Universitas Oxford dan Cambridge Microsoft Research memanfaatkan teknologi BAS penanda geolocator yang berfungsi untuk melacak pergerakan 18 burung Puffin. Delapan burung dari populasi ini telah terlacak melakukan perjalanan pulang pergi ke tempat yang sama selama dua tahun.

Studi ini menemukan bahwa burung-burung memetakan berbagai rute migrasi yang berbeda, tapi mereka tidak acak karena burung yang sama mengikuti rute yang sama setiap tahun. Fakta bahwa mereka mengikuti berbagai rute migrasi menunjukkan bahwa gerakan itu tidak ditentukan secara genetik.

Sejak puffin muda meninggalkan sarangnya sendiri dimalam hari, ternyata mereka lebih cepat melakuakan perjalanan pergi dari induknya, Ilmuwan berpikir bahwa mereka belajar rute langsung dari Puffin lain walau ini tampak seperti tidak masuk akal.

"Kami pikir itu mungkin, karena sebelum mereka mulai berkembang biak, puffin muda mengeksplorasi sumber daya laut yang ditawarkan dan datang dengan individu mereka sendiri. Rute migrasi sering berbada sangat radikal ," ungkap Profesor Tim Guilford, dari Oxford University bagian Zoologi, salah satu pimpinan dalam penelitian ini.

"Kecenderungan untuk mengeksplorasi dapat memungkinkan mereka untuk mengembangkan rute yang mengeksploitasi semua sumber makanan terbaik di daerah tertentu dimanapun dan mungkin berada," tambahnya, seperti dikutip TG Daily, Sabtu.

Para ilmuwan berpikir bahwa ini semacam "gerakan pramuka" untuk membuat rute perjalanan yang baik dan juga dapat digunakan oleh berbagai jenis burung terutama burung laut. Mereka dapat memilih untuk berhenti dan makan di laut mana-pun selama perjalanan mereka.

Selasa, 12 Maret 2013

Migrasi Burung Air

Gudang BurungMenurut Konvensi Ramsar, burung air merupakan jenis burung yang ekologinya bergantung pada lahan basah seperti rawa payau, lahan gambut, perairan tergenang, perairan mengalir, dan wilayah perairan laut yang kedalamannya tidak lebih dari 6 meter. Burung ini memiliki ciri-ciri kaki dan paruh panjang yang memudahkannya untuk berjalan dan mencari makan di sekitar air; contohnya bangau, kuntul, trinil, dan cerek.
Burung air dikelompokkan menjadi dua, burung penetap dan burung migran. Perbedaannya, burung penetap berkembang biak di tempat dia mencari makan dan tinggal sedangkan burung migran tidak akan berkembang biak di daerah migrasinya. Burung air migran biasanya terdapat di negara yang memiliki empat musim atau yang perbedaan musimnya mencolok. 
Biasanya, burung air yang bermigrasi ini berada di belahan bumi utara seperti Rusia, Cina, Siberia, dan Alaska. Saat musim dingin terjadi di daerah asalnya, burung ini akan bermigrasi ke belahan bumi selatan yang lebih hangat. Salah satu tujuannya adalah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Keberangkatan burung untuk bermigrasi ditentukan oleh pengaruh interaksi kompleks dari berbagai rangsangan luar (termasuk cuaca) dan penanggalan biologis yang memungkinkan burung mengetahui perubahan musim. Di antara penanggalan biologis tersebut terdapat kelenjar endokrin, alat yang dapat merangsang burung jantan untuk bernyanyi dan burung betina untuk bertelur. 
Burung mengalami perubahan biologis berhubungan dengan reproduksi di saat sebelum dan sesudah musim bersarang, sehingga kelenjar endokrin menjadi sangat aktif. Dalam periode inilah kebanyakan burung bermigrasi. Dengan demikian kegiatan periodik kelenjar endokrin tampaknya merupakan salah satu penyebab burung memulai perjalanan panjangnya.
Penyebab migrasi yang lain erat kaitannya dengan penambahan populasi baru. Ledakan populasi akibat menetasnya anak burung menyebabkan tuntutan makanan dalam jumlah besar secara tiba-tiba. Keadaan ini menyebabkan burung terbang ke daerah musim semi untuk memenuhi kebutuhan makanan.
Ada fakta menarik tentang siklus hidup burung air migran. Pada bulan Mei-Juni burung migran mencari pasangan di daerah asalnya. Bulan Juni-Juli burung-burung ini mengalami musim berbiak. Persiapan migrasi dilakukan pada bulan Agustus-September, dan dilanjutkan dengan perjalanan migrasi pada September-November. Bulan November-Maret burung migran ini mencari makan di daerah tujuannya dan mereka kembali ke kampung halaman pada bulan Maret-Mei.
Burung air migran sangat bergantung kepada lahan basah untuk beristirahat dan mencari makan. Hilang atau rusaknya lokasi persinggahan akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan mereka dalam melakukan migrasi. Berkurangnya jumlah burung yang bermigrasi dari tahun ke tahun pun disebabkan oleh rusaknya lingkungan yang menjadi tempat persinggahan mereka oleh limbah dan sampah.-unikonservasi

Sabtu, 09 Maret 2013

Burung Layang-Layang Api

 http://www.naturephoto-cz.com/photos/birds/hirundo-rustica-29748.jpg

Gudang Burung - Kala senja ribuan burung layang-layang api (Hirundo rustica) berputar-putar di atas sebuah pabrik tekstil di Bandung. Mereka berakrobat. Berputar-putar selama lebih dari setengah jam. Setelah itu, hinggap di tujuh pohon angsana, tepat di depan pabrik tekstil PT. Artostek,  tak jauh dari pintu tol Mohammad Toha. Mereka berdempet-dempet memenuhi setiap ranting pohon itu. Burung-burung ini berasal dari Jepang.


“Pemandangan seperti itu akan terlihat setiap tahun, sejak memasuki September dan Oktober. Namun puncak kedatangan burung burung migrasi itu Desember. Januari, burung layang-layang api sudah berkurang,  dan balik pada Maret hingga April,”  kata Abdul Rahman Hafif, Koordinator Program Birds Conservation Society (Bicons), pada pertengahan Desember 2012.
 
Sekilas, jenis burung  ini hampir sama dengan jenis burung walet tetapi jika diteliti lebih dalam lagi terdapat banyak perbedaan dengan burung lokal, layang-layang batu. Burung Layang-layang api sekitar 15-20 cm, warna biru metalik pada bagian dorsal, putih pada ventral, garis biru di dada, dan warna orange hingga merah di bagian dagu. Burung jenis ini memiliki ekor cagak agak dalam berbentuk V, dan hidup berkelompok.

“Tahun ini, sekitar 2.581 ekor burung pindah ke Mohammad Toha. Uniknya, kedatangan mereka selalu di tempat dan waktu yang sama.”

 http://www.mongabay.co.id/wp-content/uploads/2013/01/indra-burung-layang-layang2-Fenomena-yang-terjadi-setiap-tahun.-Kawanan-Hirundo-rustica-saat-beristirahat-di-pohon-angsana-kering-di-daerah-moh.toha-.jpg
 
Hafif mengatakan, kedatangan burung  ini fenomena unik.  Pagi hari mereka terpisah dalam beberapa kelompok dan terbang ke arah berlainan untuk mencari pakan. Namun saat senja, mereka kembali berkumpul di tempat yang sama, berakrobat  lalu kembali menempati tujuh pohon itu. Sebelum di tujuh pohon itu, ribuan burung ini, menempati beberapa pohon di pabrik PT. Ceres, terletak beberapa meter dari PT. Artostex.

“Kita belum tahu persis kenapa lokasi persinggahan burung ini disitu terus. Kita sedang meneliti faktor apa yang menjadikan tempat itu dijadikan persinggahan,”  kata Gema Ikrar, Manager Sistem Pengolahan Informasi Bicons.

Habitat paling umum tempat singgah burung ini biasa di kabel listrik. Pemandangan ini bisa dilihat di kawasan Ciranjang-Cianjur, juga tempat migrasi burung ini. Di sana, mereka terlihat rapih berjajar di sepanjang aliran kabel listrik seperti berbaris. Sementara di Kalimantan, burung-burung ini menempati rangkai bangunan pabrik.

“Kami terus membandingkan dengan lokasi lain seperti Ciranjang dan Kalimantan. Kesimpulan sementara, habitat umum biasa selalu ditentukan keberadaan pakan. Di lokasi itu mungkin banyak serangga karena pakan yang dikonsumsi burung itu serangga,” ucap Gema.

Bicons  mengamati burung layang-layang api sejak 1996. Program pengamatan dimulai kedatangan peneliti burung asal Jepang bernama Kobayashi ke kampus  Biologi, Universitas Padjajaran.  Kobayashi berkeliling Bandung meneliti keragaman burung di kota itu. Hingga menemukan persinggahan burung di Mohammad Toha.

“Saat itu Kobayashi  mengamati sekaligus  penandaan burung ini mengajak beberapa mahasiswa biologi yang tergabung dalam Bicons untuk terlibat dalam penelitian.”

Sejak itu Kobayashi mendukung Bicons terus meneliti burung ini. Terakhir 2010,  Bicons berkomunikasi dengan Kobayashi perihal perkembangan penelitian burung layang-layang api ini.

Menurut Gema, masyarakat sekita awalnya tidak tahu, dan mengira burung itu walet. Mereka sampai mencari sarangnya. “Ada juga yang mengambil burung itu untuk pakan ternak. Sekarang karena sudah terjadi bertahun-tahun, menganggap hal ini biasa.”-mongabay