Tampilkan postingan dengan label Komunitas Burung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komunitas Burung. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 November 2013

Komunitas Jaka Prabu Lepas 150 Ekor Burung

image

Gudang Burung - Sebanyak 150 ekor burung berbagai jenis dilepas ke alam supaya bisa hidup bebas.
Pelepasan burung tersebut dilakukan oleh pecinta burung yang tergabung dalam Boja Komunitas Para Pecinta Burung (Jaka Prabu) di sela-sela kegiatan jelajah desa Bupati Widya Kandi Susanti di balai Desa Bebengan, Kecamatan Boja, Selasa (19/11). Widya Kandi dan Camat Boja Shobirin secara simbolis melepas burung merpati.


Ketua Jaka Prabu, Koko Abinaya mengatakan, burung yang dilepas ke alam tersebut berjenis antara lain ciblek, prenjak, kutilang, merpati, dan pleci.Pelepasan burung tersebut bertujuan untuk menjaga pelestarian alam sekaligus meningkatkan rasa solidaritas para pecinta burung dalam kehidupan sosial di masyarakat.

"Sebanyak 150 burung tersebut kami beli dari pedagang dengan biaya Rp 500 ribu yang berasal dari donatur," katanya yang berharap burung yang dilepas tersebut bisa berkembang biak. Widya Kandi Susanti mengapresiasi pelepasan burung ke alam bebas tersebut.

Menurutnya, hal itu bisa untuk pelestarian satwa, khususnya burung, supaya bisa hidup bebas di habitat yang sesungguhnya. Dengan begitu, burung-burung tersebut bisa membantu penyerbukan tanaman.

Selain itu, kata Widya Kandi, perlu ada perda yang melarang penangkapan burung - burung yang dilindungi di Kendal, sehingga masyarakat bisa bersama-sama ikut melestarikan sekaligus mengawasi keberadaan satwa tersebut.

"Alam akan menjadi semakin asri bila Perda SUSU dilaksanakan dan diiringi dengan suara kicauan burung-burung yang dilestarikan," tuturnya.

Camat Boja Shobirin, mengapresiasi atas apa yang dilakukan komunitas pecinta burung tersebut. Mereka tidak hanya sebatas mencintai burung, tetapi juga ikut berpartisipasi menjaga kelestarian alam.

"Komunitas tersebut juga memiliki komitmen untuk mewujudkan Kendal yang bersih, indah, barokah, damai, dan tertib," katanya.

Rabu, 23 Oktober 2013

Kian Eksisnya Komunitas Burung Hantu Di Surabaya


Gudang BurungBurung hantu yang tergolong liar dan buas, dapat juga menjadi binatang peliaharaan yang lucu dan jinak. Komunitas pnggemar burung malam ini pun kian banyak.

Tak hanya Limbad yang biasa memelihara burung hantu dan digunakan sebagai partner kerjanya. Kini semakin banyak komunitas pecinta burung hantu yang memelihara dan mengkoleksi burung hantu, termasuk di Surabaya.
Komunitas Burung Hantu Surabaya (Kabhasura), berdiri sejak tahun 2012. Kini, anggotanya 21 orang. Tujuan mendirikan komunitas ini, menurut Naufal, sekretaris Kabhasura, bertujuan untuk mempersatukan para pecinta burung hantu dan memperkenalkannya ke masyarakat umum.
“Dulu mitosnya, kalau ada burung hantu, biasanya ada orang mati. Nah, kita ingin menghapus mitos itu. Burung hantu juga bisa dipelihara sperti hewan lainnya,” kata Naufal.
Naufal juga menjelaskankan bahwa burung hantu liar, bisa menjadi jinak asalkan tahu caranya.
“Prosesnya harus melalui karantina. Jadi burung hantu kita taruh di tempat gelap. Bikin ruangan khusus seperti kotak, dan kita kasih makan. Perlu dinormalkan dulu. Karena kalau yang masih liar itu gak mau makan,” ungkapnya.
Harga burung hantu bervariasi, tergantung dari jenis, ukuran dan tingkat kejinakkannya. Selain ajang kumpul sesama pecinta burung hantu, Kabashura juga tidak sembarangan menerima orang yang ingin membeli burung hantu mereka.
“Kita lihat dulu orangnya. Kita tanyai. Kalau asal beli buat pengen-pengen doang, ya gak kita kasih. Kita harus percaya dulu apa falconer (pemilik burung predator) sungguh-sungguh memeliharanya.
Wakil Ketua Kabhasuran, Rendy, menambahkan, jika ada 8 jenis burung hantu asal Indonesia yang mudah dan biasa mereka pegang. Diantaranya, Scops Owl, Javan Owlet, Oriental bay owl, Brown Hawk owl, Barn owl, Spotted wood owl, Buffy Fish Owl, dan Barred Eagle owl.

Kamis, 16 Mei 2013

Banyaknya Komunitas Burung Baru


Gudang Burung  - Komunitas pencinta burung mulai bermunculan di daerah, seperti di Kota Tegal dan Pekalongan. Selain sebagai upaya melestarikan keberadaan dan keindahan burung, para pencinta burung juga mengaku memelihara burung untuk memenuhi kegemaran dan menikmati keindahan suaranya.

Saekhun (29), warga Pekauman Kulon, Tegal, Jumat (13/3), mengaku mulai mencintai burung sejak enam tahun lalu. Saat ini, ia tergabung dalam Klub Bahari, salah satu klub pencinta burung ocehan di Kota Tegal. Jumlah burung yang dimilikinya sebanyak tujuh ekor, di antaranya burung cucak ijo, anis bata, love bird, dan kenari, dengan harga antara Rp 3 hingga Rp 7 juta per ekor.

Ia mengaku menekuni kegiatan tersebut karena kecintaannya pada alam. Menurut Saekhun, kicau burung merupakan suara alam yang mampu memberikan kesejukan pada hati. "Jadi di samping kerja, kita juga bisa bersantai sambil menikmati suara alam," ujarnya.

Secara keseluruhan, jumlah klub pencinta burung di Kota Tegal sekitar tujuh klub. Para pencinta burung biasanya melakukan latihan bersama untuk mengasah keindahan suara burung mereka. "Latihan bersama juga sebagai ajang komunikasi antarsesama pecinta burung," katanya.

Selain itu, para pencinta burung juga melakukan berbagai upaya pelestarian, di antaranya dengan penangkaran. Menurut Saekhun, terdapat beberapa tempat penangkaran burung di Tegal, di antaranya penangkaran burung cucak rowo, kenari, dan perkutut.

Munculnya komunitas pencinta burung sebagai salah satu bagian dari upaya pelestarian alam, juga dilakukan sebagian masyarakat Pekalongan. Arif Karyadi, warga Perumahan Gama Permai, Kelurahan Bendan, Kota Pekalongan, mengaku memiliki delapan ekor burung di rumahnya, di antaranya burung murai, tledhekan, kenari, dan penthet.

Menurut dia, sedikitnya terdapat lima klub pencinta burung di Kota Pekalongan meskipun ia tidak tergabung di dalam lima klub tersebut. Ia mengaku membuat komunitas informal, tanpa menggunakan nama.

Bersama dengan komunitas pencinta burung lainnya, mereka selalu berkumpul setiap hari Selasa dan Jumat untuk mengadakan latihan. Selain itu, sebagian dari anggota komunitas pencinta burung juga membuat peternakan burung, untuk melestarikan populasi jenis unggas tersebut.

Upaya tersebut juga untuk mengantisipasi lomba resmi yang diadakan oleh Pencinta Burung Berkicau Indonesia (PBI). Sesuai aturan yang baru, burung berkicau yang dilombakan harus burung hasil ternakan dan tidak boleh burung liar yang ditangkap.