Tampilkan postingan dengan label Burung Kritis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Burung Kritis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 November 2013

Semakin Langkanya Kipasan Kebun



Gudang BurungNamanya memang kipasan kebun, julukan yang mengidentikkannya sebagai burung yang gemar bermain di perkebunan. Namun, kenyataannya adalah ia malah sering terlihat di perkotaan. 
Bagi kita yang tinggal di Pulau Jawa, mendengar dan melihat cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster) atau kerabatnya adalah hal biasa. Akan tetapi, jangan harap hal serupa terjadi di Ternate, Tidore, Halmahera dan sekitarnya. Burung raja permukiman di sini adalah kipasan kebun (Rhipidura leucophrys).
Sosoknya mudah ditandai. Seluruh tubuhnya berwarna hitam kecuali bagian perut yang putih. Kadangkala, tampak alis putih memanjang di atas matanya. Di Maluku dan Maluku Utara, sebutannya adalah Baikole yang dalam bahasa lokal mengandung arti “pantat bergoyang”.
Sebagaimana burung kipasan lain, kipasan kebun memiliki kebiasaan mengibarkan ekornya laksana kipas para pesilat mandarin, sembari menggoyang-goyangkannya. Jenis ini tersebar luas di Maluku dan Maluku Utara, Papua, hingga Australia. Di Maluku dan Maluku Utara, kipasan kebun lah yang mengisi relung yang biasa digunakan oleh cucak kutilang di Jawa, yaitu mulai daerah permukiman sampai kebun-kebun pinggiran hutan.
Di Ternate, kipasan kebun ini begitu mudah dilihat di wilayah kota. Mereka tidak begitu terpengaruh dengan kehadiran manusia. Dan sebagai pemakan serangga, mereka akan blusukan ke lorong-lorong perumahan, bahkan hingga ke tempat pembuangan sampah guna mencari mangsanya itu. 
Hal unik lainnya terlihat pada sarangnya. Mereka terbiasa bersarang di cabang-cabang kecil pohon mangga dan rambutan di pekarangan rumah. Akan tetapi, tidak sedikit pula yang membuat sarang di kabel listrik sepanjang jalan, hal yang tidak dilakukan oleh cucak kutilang. Sarangnya seperti mangkuk, berdiameter 8-10 centimeter. Meski terbuat dari rerumputan, namun terjalin sangat rapat, rapi, dan kokoh. Kala berbiak, jumlah telurnya sekitar dua butir.
Hal yang sedikit mengkhawatirkan adalah mulai datangnya tamu tak diundang di perkotaan, seperti di Ternate ini. Dia adalah cucak kutilang yang mungkin merupakan burung piaraan yang lepas.  Sebagai jenis introduksi, cucak kutilang memiliki relung ekologi yang sangat mirip dengan kipasan kebun. Bisa jadi, suatu saat jika tidak dikendalikan, cerita sukses cucak kutilang menguasai perkotaan Jawa, akan berlanjut menggusur kipasan kebun, sebagai tuan rumah, di Maluku dan Maluku Utara.

Rabu, 09 Oktober 2013

Poʻouli ( Melamprosops phaiosoma )



Gudang Burung - Poʻouli atau Black-faced Honeycreeper memiliki nama latin Melamprosops phaiosoma. Burung ini adalah burung endemik Hawaii. Burung ini merupakan bagian dari subfamily Drepanidinae (Hawaiian honeycreeper) dan merupakan satu-satunya anggota dari genus Melamprosops.

Burung Poʻouli memiliki bulu berwarna cokelat pada bagian atas, putih keabuan di bagian bawah, dan area wajah berwarna hitam. Untuk yang sudah dewasa, terdapat bagian berwarna silver keabuan atas bagian wajah yang berwarna hitam. Untuk burung Poʻouli yang masih remaja, penampilannya nyaris sama. Yang membedakan adalah warna hitam pada bagian wajahnya lebih kecil, dan pada bagian atas wajah tidak ada warna abu-abu.

Burung Poʻouli baru diidentifikasi pada tahun 1973 oleh siswa dari University of Hawaiʻi, yang menemukan burung ini di bagian Timur Laut Haleakala di Pulau Maui. Burung ini ditemukan selama dilakukan proyek Hana Rainforest pada ketinggian 1.980 m di atas permukaan laut.


Poʻouli merupakan spesies pertama dari Hawaiian Honeycreeper yang sudah dicari sejak tahun 1923. Burung jenis ini tidak memiliki kemiripan dengan burung-burung Hawaii lainnya. Berdasarkan penelitian DNA, ditemukan bahwa burung ini memiliki hubungan dengan honeycreeperspurba. Konon tidak ada satu pun burung di dunia ini--- baik yang sudah punah atau yang masih eksis--- yang memiliki struktur mirip dengan burung Poʻouli ini.

Makanan burung Poʻouli antara lain siput, serangga, dan laba-laba. Sementara Habitat asli burung Poʻouli ini hanyalah di hutan ‘ōhi‘a lehua(Metrosideros polymorpha).

Sejak tahun 2004, dilakukanlah sebuah survey yang sangat ekstensive  untuk menentukan berapa jumlah burung jenis ini yang masih hidup di dunia. Namun tidak ada hasil. Meskipun demikian, BirdLife International dan IUCN menetapkan bahwa populasi burung ini masih berada pada status "Kritis (CE)", hingga baru-baru ini dikabarkan bahwa burung jenis ini benar-benar sudah punah.

Banyak faktor yang diduga menjadi penyebab menurunnya populasi burung Poʻouli secara drastis. Diantaranya adalah hilangnya habitat, menjangkitnya penyakit yang disebarkan oleh nyamuk, dimangsa oleh babi, hewan pengerat, kucing, dan juga musang kecil Asia, serta menurunnya jumlah siput pohon yang merupakan makanan utama burung Poʻouli.

Senin, 13 Mei 2013

Burung Botak Upeh


Gudang BurungBurung Botak Upeh ialah burung randuk besar yang tergolong dalam famili burung botak, Ciconiidae. Spesies ini hidup di Kemboja, dan Semenanjung Malaysia serta juga di pulau-pulau Indonesia seperti Sumatera, Jawa, Bali, Sumbawa, Sulawesi, dan Buton. Nama saintifiknya, Mycteria cinerea.




Burung Botak Upeh boleh mencapai 97 sentimeter panjangnya. Rupa kedua-dua jantina kelihatan serupa. Warna bulu Burung Botak Upeh putih kecuali mukanya yang botak dan berwarna merah serta bulu ekor dan bulu pelepah terbang yang panjang dan berwarna hitam-hijau berkilat-kilat. Burung ini tergolong dalam spesies terjejas, akibat kehilangan habitat pantai, pemburuan, serta perdagangan.


Burung Botak Upeh ialah haiwan yang tergolong dalam golongan benda hidup, alam : hewan, filum : kordata, sub-filum : bertulang belakang (vertebrata), kelas : burung. Burung Botak Upeh ialah haiwan berdarah panas, mempunyai sayap dan badan yang dilitupi bulu pelepah. Paruh Burung Botak Upeh tidak bergigi.

Burung Botak Upeh membiak dengan bertelur. Telur Burung Botak Upeh bercangkerang keras. Burung Botak Upeh merupakan burung yang dilindungi di bawah Akta Perlindungan Hidupan Liar Malaysia.

Selasa, 29 Januari 2013

Terancam Punah


Ribuan ekor flamingo mulai menempati lahan basah cadangan di Celestun, Semenanjung Yucatan, Meksiko, Jumat (16/12/2011). Populasi flamingo liar ini sendiri masuk dalam kategori terancam punah dikarenakan maraknya pasar gelap perdagangan hewan. Dengan demikian, cadangan lahan basah yang berkembang diharapkan mampu membuat flamingo mendapat lingkungan untuk musim dingin yang ideal sehingga mampu berkembang biak dengan baik.

Jumat, 23 November 2012

Amsterdam Albatross ( Diomedea-amsterdamensis )

 http://cdn1.arkive.org/media/5A/5A5F557B-12A9-43DC-9FFA-F22BFD4F5BC6/Presentation.Large/Amsterdam-albatross-displaying.jpg

Burung yang satu ini keberadaannya jauh lebih parah dibandingkan dengan semua jenis burung yang masuk daftar 100 jenis fauna yang terancam kepunahannya di dunia . Ya , inilah Amsterdam Albatross . Burung ini juga mirip dengan jenis burung yang sebelumnya telah punah , burung dodo .


Burung yanng bernama latin Diomedea-amsterdamensis ini memiliki warna bulu dominan berwarna putih . Hanya pada bagian sayap , ekor , dan sekitar leher saja yang berwarna hitam . Burung ini cenderung lebih senang hidup di air daripada din darat .

http://www.environment.gov.au/cgi-bin/sprat/public/displaydistmap.pl?type=species;id=64405

Burung ini memakan jenis ikan kecil yang ada di laut ataupun di air tawar . Daerah persebaran burung ini adalah sekitar Timor Leste dan Australia . Burung ini lebih sering berada di Australia , di sekitar pesisir selatan.

Populasi burung ini di seluruh dunia hanya 100 ekor saja di alam liar . Sungguh angka yang mengkhawatirkan untuk ukuran burung yang tinggal di alam liar . Usaha penangkaran burung ini mulai di galakkan di Australia dan sekitarnya . terutama Australia bagian selatan .