Tampilkan postingan dengan label Burung Punah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Burung Punah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 November 2013

Dua Tulang Burung Dodo Dilelang


Gudang BurungSebuah rumah lelang menjual tulang burung dodo untuk pertama kalinya dalam 80 tahun. Tulang yang dilelang adalah bagian kaki dan panggul dari burung yang punah pada pertengahan abad ke-17. Pelelangan rangka dodo yang lengkap di London terakhir kali terjadi pada tahun 1934. 

Sang vendor disebut sebagai satu dari tiga orang di dunia yang memiliki tulang dodo karena sebagian besar hanya dipajang di museum. Kedua benda lelang itu menjadi koleksi terbesar yang ditemukan setelah burung dodo punah. 

Pada 1886, George Clarke pergi ke Mauritius, satu-satunya habitat dodo, dan menyewa budak untuk mencari tulang-tulang dodo di rawa. Kaki dan panggul itu dihargai lebih dari 30.000 poundsterling oleh Summers Place Auctions dari Billingshurtst di West Sussex. Keduanya dalam kondisi terawat.

Burung dodo pertama kali ditemukan pelaut Belanda yang tiba di pulau di Samudera Hindia pada 1598, namun keberadaan dodo menghilang 64 tahun kemudian. Ada yang menyebut dodo punah karena diburu manusia, ada pula yang percaya bahwa mereka punah karena sarangnya dirusak oleh kera-kera yang dibawa ke Mauritius. 

Errol Fuller, pakar sejarah alam dan kurator lelang mengatakan, "Sebagian besar tulang dodo yang ada saat ini ditemukan di rawa Mauritius oleh George Clarke," katanya seperti dikutip dari Daily Mail. 

"Sisanya berada di museum dan kolektor, tapi lama kelamaan semuanya berpindah ke museum. Hanya sekitar sepuluh museum di seluruh dunia yang memiliki rangka utuh dodo."

Kamis, 17 Oktober 2013

Jeholornis, SI Burung Berekor Dua


Gudang BurungTim paleontologi dari Chinese Academy of Sciences, di Beijing, China, mengungkapkan bahwa 120 juta tahun lalu burung memiliki dua ekor. Temuan ini membuat jalur evolusi yang rumit dari spesies burung. Melansir Fox News, 16 Oktober 2013, hal itu diketahui dari fosil burung purba Jeholornis. Habitatnya di China bersama hewan pra-sejarah lainnya. 

Dari temuan fosil, Jeholornis merupakan burung berukuran lebih besar dari kalkun, memiliki cakar pada sayap-sayapnya, dan terdapat tiga gigi kecil di bagian rahang bawah.

Uniknya, para ahli paleontologi juga menemukan Jeholornis jantan mempunyai ekor yang panjang dan berjumlah dua. Belum diketahui apa fungsi dari dua ekor itu, apakah sebagai pendukung terbang atau hanya berfungsi untuk memikat lawan jenisnya.

"Dua ekor yang ditemukan pada burung Jeholornis sangat mengherankan. Ini merupakan jalur evolusi baru untuk hewan spesies burung," kata Jingmai O'Connor, Pemimpin Penelitian dari Chinese Academy of Sciences.

O’Connor menambahkan, tim peneliti memprediksi fungsi dari salah satu ekor hanya untuk menarik lawan jenisnya. Mengingat satu ekor berukuran panjang dan satu ekor lagi berukuran pendek, mirip ekor burung merak.




"Fungsi salah satu ekor yang dipenuhi bulu-bulu berwarna-warni sepertinya mirip dengan fitur yang ada pada burung merak, yaitu untuk memikat perhatian lawan jenisnya," ujar O’Connor.

Namun, menurut Julia Clarke, ahli paleontologi dari University of Texas, AS, fungsi dari dua ekor adalah untuk menciptakan stabilitas terbang. 

Sebagian menyimpulkan, salah satu ekor itu sepertinya tidak mempunyai fungsi tertentu dan berevolusi menjadi satu ekor saja pada burung-burung modern.

"Bentuk dua ekor itu adalah sebuah jalur evolusi pada spesies burung. Tapi, temuan dua ekor pada burung Jeholornis adalah aneh dan ganjil," tutup Clarke.

Hasil penelitian sudah diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciences dengan judul "Unique caudal plumage of Jeholornis and complex tail evolution in early birds."

Sabtu, 05 Oktober 2013

Pengungkapan Sejarah Kepunahan Burung Raksasa


Gudang BurungMoa masuk ke dalam kelas Aves (burung), memiliki tinggi tubuh hingga 3,5 meter dan berat lebih dari 200 kilogram. Ilmuwan mengungkap, hewan raksasa yang tidak dapat terbang asli dari Selandia Baru ini telah punah.

Dilansir Abc, Selasa (1/10/2013), ilmuwan yang meneliti hewan ini menemukan fosil kotoran yang memberi petunjuk mengenai aktivitas moa, serta gerakannya yang dianggap misterius oleh peneliti. Tim dari Australia dan Selandia Baru menganalisis serbuk sari pada tanaman serta bukti mengenai fosil tinja dari empat spesies moa.

Peneliti yang meneliti kotoran moa menemukan bahwa hewan ini memakan berbagai jenis sisa-sisa tanaman yang berbeda. Dengan menganalisis fosil tanaman serta habitat modern, peneliti menelusuri di mana lokasi berkumpul moa, sebelum mereka punah di era 1400-an.




Ilmuwan mengatakan, moa raksasa (Dinornis robustus) mencari makan di zona transisi antara hutan dan padang rumput. Burung yang lebih kecil, moa dataran tinggi (Megalapteryx didinus) memiliki pola makan campuran di habitat hutan serta ladang.

Ilmuwan memperkirakan pada ratusan juta tahun lalu, ribuan burung moa setinggi tiga meter mengalami kelaparan. Penyebab kepunahan lainnya yakni predator elang Haast serta perburuan dan pembersihan hutan oleh suku Maori. Wikipedia menerangkan, hewan pemakan tumbuhan ini diperkirakan punah pada tahun 1500-an.

Minggu, 01 September 2013

Gastornis, Si Dinosaurus Vegetarian


Gudang Burung Burung 'teror' raksasa prasejarah, yang pernah terpikir sebagai predator kejam yang mampu mematahkan leher mamalia dengan paruhnya besarnya, benar-benar seekor vegetarian (pemakan sayur dan buah), menurut sebuah studi baru.
Hewan gastornis setinggi dua meter ini merupakan makhluk terbang yang hidup di Eropa antara 40 dan 55 juta tahun yang lalu.Karena ukuran dan penampilannya, burung ini dianggap sebagai karnivora puncak, seperti diketahui dalam sebuah konferensi Goldschmidt di Florence.
Namun kini tim peneliti Jerman, yang mempelajari sisa-sisa fosil dari binatang-binatang yang ditemukan di bekas tambang batubara terbuka, mengatakan burung-burung ini dipercaya benar-benar bukan pemakan daging.
Dr Thomas Tütken dari Universitas Bonn mengatakan: "Burung teror dianggap telah menggunakan paruhnya yang besar untuk menangkap dan mematahkan leher mangsanya, yang didukung oleh model biomekanik kekuatan gigitannya."
Tetapi baru-baru ini penelitian telah meragukan reputasi menakutkan burung purba ini. Paleontologis di AS menemukan jejak kaki yang diyakini milik sepupu gastornis dari Amerika, dan tidak menunjukkan jejak cakar yang tajam yang digunakan untuk bergulat mangsa, yang mungkin diharapkan dari seekor raptor.
Juga, ukuran tipis burung dan ketidakmampuan untuk bergerak cepat membuat beberapa pakar percaya itu tidak bisa memangsa mamalia awal.
Dr Tütken dan rekan-rekannya, seperti diberitakan Mail Online, mengambil pendekatan baru untuk menentukan diet gastornis, dan dengan menganalisis komposisi isotop kalsium dalam tulang fosil, mereka mampu mengidentifikasi apa proporsi diet makhluk itu tanaman atau hewan, dan posisinya dalam rantai makanan.
Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa komposisi isotop kalsium dari tulang burung teror mirip dengan mamalia herbivora dan dinosaurus dan bukan yang karnivora. Namun para peneliti perlu cross check data menggunakan kumpulan fosil lain sebelum mengkonfirmasi temuan mereka.

Selasa, 13 Agustus 2013

Desas-Desus Wajah Asli Sang Burung Purba

(ilustrasi) 

Gudang BurungPerdebatan soal pendapat bahwa Archaeopteryx merupakan hewan peralihan antara dinosaurus dan burung sudah berlangsung lebih dari 150 tahun. Kini, para ilmuwan menemukan bukti baru tentang hewan purba ini.
Para ilmuwan meggunakan mikroskop untuk mencari gambaran mengenai bulu burung purba tersebut. Hasilnya, mereka menemukan bahwa Archaeopteryx yagn diperdebatkan itu memiliki bulu-bulu kaku berwarna hitam, seperti yang dimiliki burung zaman sekarang.

Penelitian yang dilakukan oleh sekelompok peneliti dari Brown University itu dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications. Demikian diwartakan 
Dailymail, Rab.

Menurut para ilmuwan, karakter yang membuat Archeopteryx dinilai sebagai penghubung evolusi dari dinosaurus ke burung, adalah kombinasi bentuk fitur tubuh reptil (gigi, cakar, dan ekor bertulang) dengan fitur tubuh burung (sayap berbulu dan tulang berbentuk Y).

Mereka mencoba mencari gambaran melanosomes (organel yang mengandung pigmen) yang dikandung fosil tersebut dan mengalami dua kali kegagalan. Kemudian, dengan memakai mikroskop elektron berkekuatan tinggi, kelompok peneliti itu berhasil menemukan ratusan potongan struktur yang masih tertutup oleh fosil bulu Archaeopteryx.

"Hal yang paling mempesonakan adalah saat ketiga kalinya kami mencoba, dan akhirnya kami menemukan kunci untuk mengungkap warna asli dari bulu yang terperangkap di bebatuan selama 150 juta tahun. Penemuan kami adalah bulu tersebut diperkirakan 95 persen berwarna hitam," terang Ryan Carney, Evolutionary Biologist di Brown University, sekaligus pimpinan penelitian tersebut.

"Jika Archaeopteryx mengepakkan sayapnya atau meluncur di udara, kehadiran sel-sel ini akan memberi struktur pendukung di bulunya," tambahnya.

Namun, Carney berpendapat hal tersebut belum bisa dijadikan bukti bahwa Archaeopteryx adalah hewan penerbang. Mewakili rekan-rekannya, dia mengungkapkan bahwa, "melanosomes menyediakan tenaga tambahan dan ketahanan terhadap abrasi yang terjadi ketika terbang, serta menjelaskan alasan mengapa bagian bulu sayap dan ujungnyalah yang paling banyak mengandung pigmen."

Minggu, 09 Juni 2013

Burung Paling Purba

http://assets.kompas.com/data/photo/2013/05/30/1631247-aurornis-xui-620X310.jpg

Gudang Burung - Dinobatkan selama 150 tahun sebagai leluhur dari seluruh burung yang ada di muka Bumi dan sejak dua tahun lalu terdegradasi menjadi kelas dinosaurus bersayap, Archaeopteryx kehilangan tahtanya pada Rabu (29/5/2013).


Dalam publikasi di edisi terbaru jurnal Nature, ilmuwan China menyatakan telah menemukan fosil yang merujuk pada burung yang lebih purba dari Archaeopteryx.

Sejak penemuan spesimen Archaeopteryx di Bavaria pada tahun 1861, kebanyakan pakar evolusi menempatkan Archaeopteryx pada dasar dari seluruh golongan burung purba, Avialae, golongan di mana seluruh burung mulai berkembang.

Archaeopteryx ditemukan hanya dua tahun sebelum Charles Darwin memublikasikan bukunya yang mengguncang dunia, The Origin of Species, dan telah lama diangkat menjadi studi kasus evolusi dari dinosaurus ke burung.

Pada tahun 2011, ilmuwan China menyatakan bahwa mereka telah menemukan dinosaurus berbulu, bukan burung, yang memiliki banyak kesamaan karakteristik dengan Archaeopteryx.

Hasil penemuan tersebut dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa Archaeopteryx bukan burung, tetapi termasuk dalam golongan Deinonychus, dinosaurus berbulu yang punya kenampakan mirip burung.

Kini, semuanya berubah lagi. Dalam penggalian yang dilakukan di Tiaojishan Formation, Liaoning Province, wilayah timur laut China, ilmuwan menemukan spesies berbulu dari masa Jurasic.

Spesies baru yang ditemukan dinamai Aurornis xui.

Diuraikan Discovery, Rabu, nama Aurornis xui diambil dari kata "Aurora" yang dalam bahasa latin berarti permulaan atau fajar serta "xui" yang merujuk pada palaentolog China, Xu Xing, yang punya spesialisasi pada dinosaurus berbulu dan spesies transisi antara dinosaurus dan burung.

Berdasarkan penemuan tersebut, Pascal Godefroit, dari the Royal Belgian Institute of Natural Science, yang memimpin penelitian mengatakan, "kami sampai pada pohon keluarga yang terdefinisikan dengan jelas dan kuat."

"Kami bisa menunjukkan bahwa Archaeopteryx memang merupakan burung primitif, dan makhluk kecil yang kita temukan merupakan burung yang lebih primitif lagi," jelas Godefroit.

"Untuk saat ini, Aurornis xui merupakan spesies burung tertua yang diketahui manusia," sambung Godefroit seperti dikutip AFP, Kamis (30/5/2013).

Aurornis xui hidup 150 juta tahun lalu. Spesies ini berukuran panjang sekitar 50 cm dan mungkin mampu berlari dengan sangat cepat.

"Gigi kecilnya memungkinkan kita untuk menduga bahwa makhluk ini mungkin memakan serangga," papar Godefroit.

Sementara Andrea Cau, palaentolog hewan bertulang belakang dari Museo Geologico Giovanni Capellini di Italia, seperti dikutip Discovery mengatakan, "Burung ini seperti burung darat, tetapi memiliki ekor panjang, tangan dengan cakar dan rahang yang bergigi."

Jumat, 29 Maret 2013

Fosil Burung Pterosaurus

 http://wscdn.bbc.co.uk/worldservice/assets/images/2011/01/21/110121110432_pterosaur_egg_466x262_junchanglu_nocredit.jpg

Gudang Burung - Telur itu mengisyaratkan bahwa reptil kuno yang bisa terbang itu adalah betina, dan penemuan ini meyakinkan para peneliti untuk pertama kali dalam menentukan jenis kelamin burung ini.Para ahli palaeontologi atau ahli ilmu pra sejarah itu menulis dengan tegas di majalah Science mengenai perbedaan gender burung pterosaurus, termasuk pengamatan bahwa hanya jenis jantan yang memiliki jambul.


David Unwin, palaeontolog dari Departemen Studi Museum dari Universitas Leicester Inggris adalah anggota tim peneliti.Dia mengatakan kepada BBC penemuan ini sungguh mengangumkan: "Jika ada yang mengatakan pada saya beberapa tahun lalu bahwa kita akan bisa menemukan hubungan ini, saya pasti akan menertawakannya dan menjawab, 'yah mungkin akan kita temukan sejuta tahun lagi', karena hal seperti ini sangat sangat langka."

Pterosaurus, kadang-kadang disebut juga sebagai pterodactils yang mendominasi angkasa pada era Mesozoic yaitu periode antara 250 juta tahun lalu dan 65 juta tahun lalu.

Periode ini dikenal juga sebagai Zaman Dinosaurus karena pada masa inilah dinosaurus berkembang dan juga punah pada saat itu. Walaupun binatang melata atau reptil seperti dinosaurus yang bergerak lamban di dataran dibawah mereka, mereka sendiri bukan tergolong dinosaurus, seperti anggapan banyak orang.

Betina berpanggul besar

Spesimen ini diperkirakan berumur sekitar 160 juta tahun lalu.
Fosil ini ditemukan oleh Junchang Lu dan rekan-rekannya ketika mereka menggali gunung batu hasil sedimentasi di provinsi Liaoning, Cina yang memang terkenal sebagai tempat berburu fosil.
 
Kami sekarang yakin bahwa kami disini menangani dua gender, jantan dengan jambul besar dan panggul yang kecil, sementara betina tidak berjambul dan bokongnya lebih besar

Dalam beberapa tahun terakhir ada banyak temuan besar di daerah ini, termasuk beberapa dinosaurus berbulu mirip burung yang mengubah pendapat mengenai evolusi burung.Fosil temuan terbaru ini berasal dari kelompok Darwinopterus tetapi tim peneliti lebih sering menyebutnya dengan sebutan "Nyonya T" [singkatan dari Nyonya Pterodactil].

Keadaan kulit telur burung ini mengisyaratkan bahwa telur ini sudah matang dan bahwa Nyonya T hampir menetaskan telur itu ketika mati.Dia tampaknya mengalami cedera sehingga kaki kirinya patah. Para peneliti berspekulasi, mungkin dia jatuh dari langit ketika badai atau mungkin ledakan gunung berapi, jatuh tenggelam ke sebuah danau dan kemudian awet dalam lapisan tanah.

"Yang paling penting mengenai temuan ini adalah burung ini memiliki bokong yang lebih besar dibandingkan pterosaurus yang sama, Darwinopterus," jelas Dr Unwin. 

"Tampaknya ini masuk akal karena burung betina bertelur dan mereka perlu bokong yang lebih besar. Dan yang lebih seru lagi adalah tengkorak kepalanya polos, sementara beberapa fosil-fosil Darwinopterus, ada beberapa tengkorak kepalanya yang berjambul.

"Kami sekarang yakin bahwa kami disini menangani dua gender, jantan dengan jambul besar dan panggul yang kecil, sementara betina tidak berjambul dan bokongnya lebih besar."-bbc

Rabu, 20 Maret 2013

Burung Bersayap 4

 http://ciricara.com/wp-content/uploads/2013/03/18/Fosil-Burung-Purba-bersayap-4.jpg

Gudang Burung - Beberapa spesies burung primitif yang hidup 130 juta tahun lalu telah beradaptasi dengan empat sayap yang ada di tubuhnya. Inilah hasil riset terbaru tim palentolog asal China.



Temuan ini terungkap berdasarkan hasil analisis yang dilakukan tim peneliti tersebut terhadap 11 spesimen fosil burung primitif bersayap empat yang ditemukan di Provinsi Liaoning, wilayah timur laut China.

Dalam laporan hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science, Kamis (14/3/2013), tim peneliti yang dipimpin Zheng Xiaoting dari Shandong Tianyu Museum of Nature mengatakan bahwa burung awalnya punya empat sayap sebelum "membuang" bulu yang ada di tungkai bawah.

Menurut peneliti, transisi evolusioner pada spesies ini "mungkin memiliki peran yang penting dalam proses evolusi terbang". Sayap pada tungkai atas dipertahankan karena bisa mendukung aktivitas terbang lebih efisien.

Peneliti menduga, saat itu moyang burung ini tampaknya menggantikan bulu pada tungkai belakang mereka dengan sisik dan mengembangkan kaki yang menyerupai kaki burung modern. Burung juga tengah bersiap untuk menggunakan tungkai belakang untuk begerak di darat, seperti burung robin.

Spesies dinosaurus dengan tungkai berbulu yang pertama kali ditemukan di China bernama microraptor dan sinornithosaurus. Bulu besar di kaki microraptor digunakan untuk pergerakan di udara, misalkan untuk mempercepat penerbangan, atau meluncur di antara pepohonan atau terjun ke tanah.

Fosil burung primitif yang ditemukan kali ini mencakup beberapa kelompok sapeornis, yanornis, dan confuciusornis. Estimasi oleh Xu Xing, anggota tim dari Institute of Vertebrate Paleontology and Paleoanthropology di Beijing, fosil-fosil itu diperkirakan hidup pada periode cretaceous awal.

Penemuan terbaru ini memang mengonfirmasi adanya burung bersayap empat pada garis kekerabatan burung. Akan tetapi, fungsi aerodinamis dari konfigurasi spesies-spesies ini masih menjadi perdebatan.

Zheng berpendapat bahwa sayap di tungkai bawah yang dimiliki oleh nenek moyang burung tersebut pasti memiliki fungsi. "(Ini mendukung) fungsi aerodinamis, seperti mengangkat tubuh burung, mempercepat laju, dan atau meningkatkan kemampuan manufer burung saat sedang terbang," tulis Zheng dalam laporannya seperti dikutip oleh New York Times, Kamis.

Hasil penelitian Zheng dan timnya menarik perhatian paleontolog lainnya, Mark A Norell. Paleontog dinosaurus di American Museum of Natural History di New York ini mengatakan, banyaknya kuburan fosil cretaceous China telah membuka pandangan akan keberadaan dinosaurus berbulu dan awal evolusi burung.-kompas