Tampilkan postingan dengan label Konservasi Burung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Konservasi Burung. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Agustus 2013

YKAY Minta Elang Brontok Dari Warga


Gudang BurungYayasan Konservasi Alam Yogyakarta (YKAY) mengambil burung jenis Elang Brontok di Dusun Wonorejo, Desa Wedomartani, Ngemplak, Sleman. Burung yang dilindungi itu diambil dari rumah Wakijo, warga setempat.
Pengembilan Elang Brontok itu bukan dengan paksaan atau dengan surat pengeledahan, tetapi atas kesadaran Wakijo sendiri akan kelestarian hewan tersebut. "Supaya lebih terjamin perawatannya, tidak ada yang memaksa saya untuk menyerahkan burung elang itu," ujar Wakijo pada sejumlah wartawan di rumahnya.

Ia mengaku baru mengatahui jika hewan itu dilindungi. Elang Brontok bermata kuning muda itu baru seminggu dipeliharanya. Ia mendapatakan burung itu dari saudaranya. "Burung itu diperoleh setelah jatuh dari pepohonan dengan kondisi lemas, kemudian diambil dan dipelihara," jelasnya.

Selama di rumahnya, Elang diberi makan daging sapi. Salah satu kakinya diikat tali dengan tujuan agar tidak terbang. Burung tersebut dikandangkan di sebuah bilik bambu seluas sekitar 2 meter persegi dan tinggi 1,5 meter.

Sementara itu, Kasi Konservasi Alam Yogyakarta, Titi Sudaryanti mengapresiasi tindakan Wakijo. Sebab, kesadaran orang untuk menyerahkan hewan langka agar dilestarikan oleh suatu lembaga konservasi atau pemerintah masih minim.

"Kita apresiasi langkap Pak Wakijo ini. Biasanya orang tidak mau memberikan hewan peliharannya meski itu dilindungi pemerintah," jelasnya.

Ia menjelaskan, elang tersebut akan masuk karantina di Yayasan Konsevasi Alam Yogyakarta. Selanjutnya, di tempatkan kandang yang luar agar biasa mencari makan dengan instingnya. Setelah dirasa mampu bertahan hidup, elang tersebut bakal dilepas. 

Sabtu, 08 Juni 2013

Pelepasan Burung Eks. Habitat Merapi

 http://images.harianjogja.com/2012/01/burung-merapi-aan-370x257.jpg

Gudang Burung Sebanyak 97 jenis burung yang berada di sekitar Gunung Merapi kini sudah kembali ke hutan setelah sebelumnya menghilang saat terjadi erupsi (gunung meletus) tahun 2010 lalu. Selain burung, ada beberapa satwa lain yang juga sudah tampak kembali dengan sendirinya, di antaranya landak dan harimau.


“Setelah kami identifikasi, setidaknya sudah ada 97 jenis burung yang kembali ke hutan Merapi,” ujar Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) Kuspriyadi Sulistyo, di Klaten, Kamis (1/12).

Pihaknya sendiri terus melakukan identifikasi terhadap satwa-satwa lain seperti kera yang hingga kini masih berkeliaran di pemukiman penduduk yang berada di lereng Gunung Merapi. “Kera-kera turun gunung untuk mencari makan. 

Sebab, lahan makanan yang berada di atas belum sepenuhnya pulih,” ujarnya.

Selain melakukan identifikasi satwa, pihak BTNGM juga melakukan restorasi hutan di kawasan Gunung Merapi setelah beberapa bagiannya rusak akibat erupsi pada 2010 lalu. 

“Restorasi atau proses mendukung pemulihan dan pelestarian keanekaragaman hayati serta kesatuan ekosistem dilakukan untuk mengembalikan fungsi lahan seperti semula,” imbuh Kuspriyadi.

Jumat, 07 Juni 2013

Indikator Lingkungan yang Semakin Hilang

 http://www.kutilang.or.id/wp-content/uploads/2012/10/rajaudang-meninting_Alcedo-meninting_feeding_IT.jpg

Gudang Burung Berbagai kerusakan alam dan lingkungan masih terus terjadi, dan bahkan semakin masif saat ini. Meningkatnya permintaan akan bahan bakar fosil setiap tahun, masih melestarikan pertambangan batubara sebagai salah satu sumber energi utama bagi manusia dan industrinya.


Sementara di wilayah perkotaan, pertambahan penduduk yang tidak terkontrol membuat kebutuhan manusia terhadap pemukiman terus meningkat. Di kota Jakarta misalnya, pertumbuhan properti nasional di Indonesia tahun lalu bahkan mencapai 20% menurut Ketua Dewan Pertimbangan Real Estate Indonesia, Teguh Satria kepada investor.co.id tahun lalu.

Lajunya pertumbuhan pemukiman dan pertambahan manusia, berdampak kepada hilangnya habitat satwa dan menurunnya kualitas lingkungan sekitar. Kerusakan lingkungan dan hilangnya habitat satwa, tak hanya mengancam berbagai satwa dilindungi dan spesies unik di Indonesia. Hilangnya habitat, juga mengancam berbagai satwa yang menjadi indikator alami kebersihan dan kualitas lingkungan di perkotaan. Salah satunya, adalah burung raja-udang meninting.

Semakin menurunnya kualitas lingkungan, bertambahnya jumlah bangunan dan hilangnya rawa di Jakarta membuat burung kecil ini semakin sulit ditemui di alam bebas.

”Lingkungan yang tercemar tidak hanya mengganggu kehidupan manusia, tetapi juga membuat kehidupan burung merana” ungkap Jihad, Bird Conservation Officer Burung Indonesia. “Raja-udang meninting merupakan jenis burung yang sangat alergi dengan lingkungan yang rusak, terutama daerah perairan dan lahan basah” jelasnya.

Selain itu, faktor tercemarnya sungai dan danau tempatnya mencari pakan pun telah menghilangkan ikan dan udang kecil yang merupakan menu andalannya sudah tidak ada lagi. Berdasarkan indikator alami ini, tergambar jelas berapa besar pencemaran air di sungai-sungai maupun kanal di Jakarta.

Raja-udang meninting (Alcedo meninting) merupakan burung kecil berukuran 14 cm yang tubuh bagian bawahnya berwarna merah-jingga terang dengan penutup telinga. Kakinya ramping berwarna merah dengan paruh besar berwarna kehitaman.

Kebiasaannya adalah mencari makan berupa ikan-ikan kecil dan udang-udangan serta mengangguk-anggukan kepalanya saat mengintai mangsa. Sarangnya biasa berada di ‘tebing-tebing’ tanah di pinggir sungai atau badan air lainnya. Tercemarnya wilayah perairan, membuat raja kecil ini tergusur dari Jakarta.

Meski status keterancamannya secara global hanya berisiko rendah (Least Concern/LC), akan tetapi jumlah populasinya terus menurun akibat perubahan fungsi lahan basah dan tercemarnya perairan. Pemerintah telah melindunginya melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Jelang peringatan hari lingkungan hidup sedunia yang diperingati setiap tanggal 5 Juni hal ini menjadi sebuah refleksi bagi manusia untuk semakin menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan keseimbangan ekologi dunia dan menekan dampak negatif bagi generasi mendatang menjadi semakin parah. Hilangnya berbagai jenis satwa di alam liar, seperti raja-udang meninting ini, ha

Minggu, 07 April 2013

Populasi Maleo Meningkat

 http://image.metrotvnews.com/bank_images/actual/144109.jpg

Gudang Burung - Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Kotamobagu (TNBNW), Sulawesi Utara, berhasil melepasliarkan anak burung Maleo sebanyak 10.005 ekor ke habitat alaminya selama kurun waktu 13 tahun terakhir.


"Karena dilepaskan, populasi (burung maleo) meningkat. Sebelumnya, hanya satu ekor yang bertelur per hari, saat ini bisa empat hingga lima ekor yang datang untuk bertelur," kata Kepala Balai TNBNW Agustinus Rante Lembang usai siaran pers di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Jumat (5/4).

Sementara, polisi hutan sekaligus pengelola lokasi peneluran TNBNW, Max W Lela, mengatakan sesuai plakat yang dikeluarkan International Union for Conservation Nature (IUCN), Maleo (Macrocephalon maleo) masuk kategori 14 spesies yang terancam punah.

"Sebelumnya, populasi burung Maleo menurun dari 25 ribu ekor hingga enam ribu ekor akibat perburuan liar, pencarian telur, dan pengalihan fungsi hutan," kata Max.

Selain itu, tanpa upaya konservasi atau pengembangbiakan semialami ini, populasinya menurun akibat pemangsaan telur oleh manusia, biawak, ular sawah, anjing, dan babi hutan.

Pelepasliaran anak burung Maleo ke 10 ribu dilakukan oleh Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA), Darori, di TNBNW, pada 30 Maret lalu.

Selain itu, juga dilepasliarkan burung Rangkong--jenis endemik Sulawesi--, Perkici Dora, Kus Kus, dan tukik penyu Sisik di Taman Wisata Alam Batuputih, Bitung.

Sabtu, 06 April 2013

Ribuan Maleo Dilepas ke Alam

 http://statik.tempo.co/data/2010/06/24/id_38938/38938_475.jpg

Gudang Burung - Populasi burung Maleo perlahan menjauh dari ancaman kepunahan. Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone di Sulawesi Utara berhasil menambah jumlah burung endemik Sulawesi itu lewat program pengembangbiakan semi alami. Total ada 10.005 ekor burung maleo yang telah dilepas ke habitat alaminya sejak program dimulai pada 2001.


Pelepasliaran burung maleo ke-10.000 dilakukan secara simbolis oleh Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Kementerian Kehutanan, Darori Wonodipuro, pada 30 Maret 2013 di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.

"Pengembangbiakan semi alami dilakukan untuk mendukung upaya konservasi burung maleo di habitat alaminya," kata Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan dalam siaran pers acara "Pelepasliaran Anak Burung Maleo ke-10.000 dan Hasil Monitoring Badak Jawa Tahun 2012" di Jakarta, Jumat, 5 April 2013.

Burung maleo (Macrocephalon maleo) merupakan satwa liar yang dilindungi undang-undang. Maleo termasuk satu dari 14 spesies prioritas Kementerian Kehutanan yang populasinya didongkrak sebesar tiga persen hingga 2014. Spesies lainnya antara lain harimau Sumatera, gajah Sumatera, badak Jawa, banteng, orangutan Kalimantan, komodo, owa Jawa, bekantan, anoa, babi rusa, jalak Bali, elang Jawa, dan kakatua kecil jambul kuning.

Populasi maleo di alam semakin berkurang terutama akibat pemangsaan telur oleh biawak, ular sanca, anjing, dan babi hutan. Perburuan ilegal telur maleo oleh manusia dan kerusakan habitat menjadi tantangan lain upaya konservasi maleo di habitat alaminya (in-situ).

Zulkifli mengatakan, maleo tergolong burung yang unik karena tidak membuat sarang seperti kebanyakan jenis unggas lainnya. Burung maleo betina akan membenamkan telurnya ke dalam tanah sedalam 30-150 sentimeter. Telur maleo cukup besar, berukuran 5-6 kali telur ayam. "Ini membuat telur maleo cukup rentan terhadap predator dan perburuan ilegal," kata dia.

Kementerian juga melepasliarkan sejumlah satwa dilindungi lainnya, antara lain satu ekor burung rangkong (Rhyticeros cassidix), satu ekor perkici dora (Trichoglossus ornatus), satu ekor kus kus (Ailurops ursinus), dan delapan ekor tukik penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Semuanya dilepaskan di kawasan Taman Wisata Alam Batuputih Kota Bitung di Sulawesi Utara.-tempo

Rabu, 20 Maret 2013

Tetaskan 3 Ekor Maleo

 http://www.kewang-haruku.org/maleo1.JPG

Gudang Burung - Kebun Binatang Bronx mengaku telah berhasil menetaskan tiga telur burung maleo yang langka.


Burung maleo adalah burung asli Indonesia. Maleo merupakan burung endemis di Sulawesi dan Kepulauan Buton. Burung bernama latin Macrocephalon maleo itu berstatus terancam punah.


Kebun binatang Bronx mempelajari dan menciptakan kondisi lingkungan khusus tempat tinggal asli burung tersebut sehingga mereka sukses bertelur hingga menetas.

Kamis, 14 Maret 2013

Konservasi Lahan Basah



Gudang BurungLahan basah di Indonesia terus menyusut akibat penggunaannya sebagai area pertanian, pemukiman, dan tambak. Ini sangat disayangkan sebab lahan basah memiliki fungsi ekologis.


Dwi Mulyawati, Bird Conservation Officer Burung Indonesia, kepada Kompas.com, Kamis (15/3/2012), mengatakan, "Lahan basah merupakan habitat penting bagi keperluan hidup burung-burung air penetap maupun pengembara."

Habitat lahan basah seperti mangrove penting bagi burung jenis Cangak (Ardea sp.), bangau (Ciconidae), atau pecuk (Phalacrocoracidae). Area ini memberi burung rasa aman dari pemanga.

Wilayah mangrove juga penting bagi kuntul (Egretta sp.) untuk tempat bertengger dan mencari makanserta bagi terutama Charadriidae dan Scolopacidae sebagai tempat beristirahat.Lahan basah yang penting bagi burung penetap misalnya area hutan rawa air tawar dan gambut. 

Mentok rimba (Cairina scutulata) dan Bangau storm (Ciconia stormi) memanfaatkan sebagai tempat mencari makan dan berkembangbiak.Sementara itu, hutan rawa rumput disukai burung dari keluarga keluarga Ardeidae, Anatidae, Rallidae, dan Jacanidae. 

Di daerah Tulang Bawang, Lampung, tercatat ribuan ekor Blekok sawah (Ardeola speciosa), Cangak merah (Ardea purpurea), Kuntul besar (Casmerodius albus), dan Kowak-malam abu (Nycticorax nycticorax) berkoloni sarang pada rimbunan rumput gelagah.

Saat ini, 49 daerah penting bagi burung di Indonesia yang berpotensi sebagai tempat persinggahan burung telah diidentifikasi. Wilayah itu mampu mendukung 20.000 burung air atau 10.000 burung laut. Salah satu wilayah penting adalah Semenanjung Sembilang dan Banyuasin di pantai timur Sumatera. Wilayah ini menjadi persinggahan burung yang mengembara dari Asia Timur ke Australia.

Menurut Dwi, beragamnya burung yang memanfaatkan lahan basah seharusnya menjadi dorongan untuk melestarikan kawasan ini. Ke depan, pelestariannya tak hanya berfungsi untuk konservasi, tetapi juga bisa menyokong kebutuhan manusia akan makanan, bahan baku industri dan obat.-kompas

Rabu, 13 Maret 2013

Sensus Burung Air


Gudang BurungSudah lama tidak mengamati burung dan bermain ke Suaka Margasatwa Muara Angke [SM.Muara Angke]. Tak kusia-siakan ajakan dari Ferry Hasudungan yang bekerja di Wetlands International untuk ikutan sensus burung air di SM.Muara Angke. Dan berangkatlah Sabtu tanggal 31 Januari lalu. Sekaligus memperingati Wetlands Day yang jatuh pada tanggal 2 Februari.
Berhenti di Depan Pizza Hut Angke, kami langsung menuju pintu gerbang perumahan Pantai Indah Kapuk. Sempat berhenti sekitar lima menit di jembatan Angke, melihat keruhnya Kali Angke dan sampah-sampah plastik yang mengambang. Ada yang menarik, dari semak belukar, ada yang bergoyang-goyang. Ternyata, seekor burung berwarna abu-abu, kecil. Sepertinya Merbah cerukcuk.
Kami tak berlama-lama di jembatan Angke. Masih sekitar 500 meter lagi menuju pintu masuk SM.Muara Angke. Berjalan menyusuri trotoar yang becek dan bertanah merah, Menepi di antara rumput-rumput yang berembun. Besaing dengan kendaraan yang kencang melintas di jalanan.
“ Jakarta Green Monster Present : Water Bird Cencus 2009” tertulis di banner, tepat di pintu masuk SM.Muara Angke. Di depan Pos Muara Angke, di teras aula pertemuan, sudah menunggu panitia Bird Cencus, dan Ady Kristanto staf FFI yang mengkoordinir kegiatan.
Jam menunjukkan 08.25. Peserta baru diberangkatkan menuju titik pengamatan. Ada yang menyusuri Kali Angke, dengan perahu karet. Terus kelompok lain meuju Hutan Lindung Angke. Aku dan Ferry dapat jatah pengamatan di Muara Angke, menyusuri board walk, papan jalur pengamatan sepanjang 800 meter. Wow! Ini pertama kalinya aku menyusuri board walk. Terakhir datang ke Muara Angke, papannya sudah pada hancur. Takut terjerembab.
Selain papan pijakan, di SM. Angke sudah ada bird hide yaitu tempat bersembunyi saat mengamati burung. Tapi sangat jauh berbeda dengan yang pernah kulihat di Cagar Alam Titchwell, Inggris. Berbentuk bangunan kayu, hanya muat untuk beberapa orang saja. Dengan satu pintu dan lubang pengamatan, seperti di loket stasiun kereta api, cukup untuk menyimpan binokuler saja.Betul-betul tersembunyi, dan burungnya tidak terganggu oleh manusia yang mengamati. Dindingnya ditempel poster, gambar-gambar burung yang bisa diamati di sekitar danau di Titchwell. Memudahkan pengamat amatir, seperti saya.
Bird hide yang ada di Muara Angke, banyak digunakan untuk tempat beristirahat. Kisi-kisi dindingnya terlalu lebar. Luas ruangannya bisa memuat 20 orang. Siapa saja bisa lalu lalang mengganggu pengamatan burung. Tidak ada privasi. Bisa jadi, burungnya bisa melihat ke arah manusia.
Kurang lebih 1,5 jam menyusuri Board Walk. Sekitar 20 jenis burung air yang dijumpai dan dicatat peserta. Ada Pecuk padi hitam, Pecuk padi kecil, Pecuk padi asia, Bambangan merah, Bambangan hitam, Blekok sawah, Kokokan laut, Kowak malam kelabu, Kuntul besar, Kuntul kerbau, Kuntul kecil, Cangak abu, Cangak merah, Cangak laut, Itik benjut, Tikusan alis putih, Kareo padi, Mandar batu, Trinil pantai, Dara laut sp. Kami juga sempat di cegat gerombolan Monyet ekor panjang di antara daun Nipah. Ngeri deh! Ada monyet yang menyeringai, memperlihatkan giginya, merasa terancam.
Tepat jam 11.30 peserta melaporkan hasil pengamatannya di aula pertemuan. Peserta sensus burung air ini mahasiswa dari Universitas Indonesia, Universitas Nasional, Universitas Islam Negeri, Universitas Negeri Jakarta dan Universitas As-syafi’iyah.

Selasa, 12 Maret 2013

Komunitas Konservasi Burung


 

Gudang Burung  - Eksistensi Kerinci Birdwatching Club (KBC) dalam menyampaikan pesan konservasi dalam lingkup konservasi satwa burung patut diancungkan jempol karena pemikiran-pemikiran inovatif selalu diciptakan seperti yang dilakukan pada minggu 12 Februari 2012 kemarin, pada hari tersebut KBC mengadakan Lomba Mural (Melukis di dinding) di dinding Markas Besar atau Basecamp KBC yang berada di Jalan Gajah Mada Desa Pelayang Raya Kota Sungai Penuh (Depan Sempoa Ship, Jalan menuju Asrama Polisi Aur Duri).

Kegiatan yang bertema “Mendekatkan diri ke alam melalui kegiatan konservasi burung liar dengan beraktifitas melukis dinding/ mural” bertujuan untuk menyampaikan informasi konservasi satwa burung serta memperkenalkan atau mereview ingatan masyarakat akan pentingnya satwa burung dalam keseimbangan ekosistem kehidupan. 

Kegiatan ini diikuti oleh 12 tim yang setiap timnya berjumlah 2 hingga 3 orang. Tim tersebut berasal dari sekolah SMA/SMK, Kelompok Pecinta Alam dan umum. Tim yang mengikuti lomba mural, hanya dikenakan biaya Rp 30.000 (Tiga Puluh Ribu Rupiah) yang biaya tersebut dikembalikan dalam bentuk 2 tabung cat minyak (warna merah dan hitam), piagam dan snack.

Lomba mural yang dibuka secara resmi oleh Ketua Dewan Pembina Kerinci Birdwatching Club (KBC) yaitu Bapak Agung Nugroho, S.Si,MA berlangsung hikmat. Tim yang bekerja cukup kompak diketuai oleh saudara Ighun menarik perhatian penduduk setempat yang antusias menyaksikan peserta lomba dalam melukis dinding yang berukuran 1,5 x 2 meter tersebut. Kegiatan dimulai pukul 09.15 Wib dan selesai pukul 12.15 ,WIb. Peserta diberikan waktu untuk menyelesaikan lukisannya selama 4 jam.

Senin, 11 Maret 2013

Siap Dilepas

http://www.mongabay.co.id/wp-content/uploads/2012/12/bido.jpg

Gudang Burung - Dua ekor burung elang jenis elang ular bido (Spilornis cheela) akan dilepaskan ke alam bebas oleh Perkumpulan Suaka Elang dan Balai Taman Nasional Halimun Salak di Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi. Kedua elang ular bido ini dilepaskan di wilayah tersebut, setelah hasil penelitian menyatakan bahwa area ini adalah habitat yang sesuai bagi elang ular bido.


Zulham, dari Suaka Elang mengatakan bahwa kedua individu tersebut sebelumnya dijual di pasar satwa sebelum disita oleh Badan Konservasi dan Sumber Daya Alam Jawa Barat. Setelah penyitaan, kedua elang ini menjalani proses rehabilitasi di Suaka Elang selama setahun sebelum dianggap siap untuk kembali ke alam bebas.

Sebelumnya elang ini dipindahkan dari Pusat Penyelamatan Satwa di Cikananga.Sementara itu Kepala Balai TNGHS, Ir. Agus Pambudi mengatakan bahwa pelepasan elang sebagai satwa kunci diharapkan bisa meningkatkan nilai konservasi kawasan hutan koridor yang tidak hanya menjadi jembatan hidup untuk berbagai keragaman hayati , namun juga bermanfaat bagi manusia di sekitarnya, terutama dalam menjaga debit air di Daerah Aliran Sungai Citarik.

Kematian hutan di wilayah ini akan mengakibatkan berbagai bencana, seperti longsor, dan kekeringan pada pemukiman warga. Terkait pelepasan kedua elang ini, kehadiran keduanya akan semakin memperkuat mata rantai makanan di dalam habitat Taman Nasional Gunung Halimun ini.

Elang ular bido adalah satwa Indonesia yang dilindungi oleh Undang-Undang No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Memperjualbelikan satwa dilindungi akan diancam hukuman kurungan dan denda. Kendati demikian, berbagai jenis satwa dilindungi masih diperjualbelikan pasar-pasar satwa secara ilegal di Indonesia hingga saat ini.

Hal ini juga terjadi dengan spesies elang Jawa, dari data Raptor Indonesia seperti dirilis Kompas.com, elang Jawa sudah berkurang 110 ekor dalam lima tahun terakhir. Di kawasan Gunung Slamet hanya tersisa 16 ekor.

Secara keseluruhan, populasi burung yang identik dengan lambang negara burung garuda itu tersisa sekitar 350 ekor. Perdagangan elang jawa dilakukan lewat Jakarta dan Surabaya menuju Korea Selatan, Singapura, dan Taiwan. Di pasar gelap, harga elang jawa mencapai miliaran rupiah.mongabay

Selasa, 05 Maret 2013

Siap Bangun Karantina di Yogyakarta

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjFfJGoZZ38eSv8hLI0bvmvFuTWwQRlzidS4m5rjdoMq57I0Ni3sHJSkOCK50knp7OO5jwPBefA8Fb_E5j-mpjQQi5friOgSBrUi628tMqv9GT6WrxKxHe93TdoXZhMM13tgP65OF8tfHOu/s1600/burung+hantu.jpg

Gudang Burung - Pemerintah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai merintis pengembangan karantina burung hantu di Kecamatan Sedayu sebagai predator tikus yang sering memakan tanaman padi di wilayah setempat.

"Sebagai tahap awal di beberapa lokasi di Desa Argomulyo dan Argosari, Sedayu, sudah dibuatkan lima sampai tujuh 'gupon' (kandang burung hantu) sederhana," kata Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertahut) Bantul Edy Suhariyanta, Kamis.

Menurut dia, pengembangan karantina burung hantu dibutuhkan di wilayah Sedayu, karena kawanan tikus sering menyerang sawah milik petani hingga mengakibatkan gagal panen. Oleh karena itu, perlu ada upaya untuk menanggulanginya.

"Burung hantu merupakan satu-satunya predator tikus, bahkan saat masih bayi, burung hantu makannya tikus untuk tumbuh, sehingga perlu ada populasi burung hantu. Untuk itu, arahnya perlu pengembangan karantina burung hantu," katanya.

Ia mengatakan dalam pengembangan karantina burung hantu, pihaknya bersama kelompok tani juga sudah melakukan studi banding ke Kabupaten Demak, Jawa Tengah, yang sudah berhasil selama dua tahun mengatasi tikus melalui pengembangan karantina burung hantu.

"Jadi, di situ ada keseimbangan ekosistem antara tikus dengan burung hantu. Di Demak keberadaan burung hantu sangat efektif membasmi tikus, sebelum ada karantina kerusakan lahan mencapai 60 persen, namun kini bisa ditekan menjadi dua persen," katanya.

Bahkan menurut pengamatannya, pada malam hari sepasang burung hantu akan keluar dari sarang untuk mencari mangsa, dan setidaknya bisa membunuh empat hingga lima ekor tikus semalam, sementara diketahui kawanan burung hantu di Demak jumlahnya lebih dari 40 pasang.

Oleh karena itu, kata dia, di wilayah Kecamatan Sedayu yang kerusakan lahan pertanian akibat hama tikus sekitar 20 persen, tetap membutuhkan karantina burung hantu guna menekan angka kerusakan lahan pertanian.

"Untuk di Bantul, saya kira tidak perlu sampai berpuluh-puluh pasang burung hantu seperti di Demak, karena burung hantu hanya mau makan tikus, sementara kalau tidak ada makanan justru burung hantu akan mati," katanya.

Ia berharap masyarakat bersama pemerintah desa setempat bisa bersinergi dalam merintis pengembangan karantina burung hantu, karena harus ada tim yang merawat dan mengawasi agar tidak ada yang memburu dengan cara menembak.

"Sambil menunggu populasi burung hantu bertambah, kami siap memfasilitasi kelompok tani melalui pendampingan hingga pengendalian, jika sudah waktunya diperlukan tempat karantina maka bisa mengajukan proposal ke APBD," katanya.-republika

Selasa, 12 Februari 2013

Konservasi Jalak Bali

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzfYp2HWxtRwzKpq-6zP-p39epJRvtjSCJjC2d5Oofbe5zKlD-d76WFmFN8JTbicTk1ZYnTyrqlNMf8D-S0Mxqpk86dc6WyVoQDpsfrECMeeVLmqM-J7hTs78GwmmwJWN2bxVmdzGoKgk/s320/3430812936_635e7f0d2e.jpg

Lima ekor burung jalak bali (Leucopsar rotschildi) dilepaskan di Pulau Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali, Senin (2/4/2012). Di Nusa Penida, populasi burung jalak bali yang merupakan satwa langka dan dilindungi saat ini sekitar 100 ekor.

Pelepasan burung jalak bali ini merupakan kerja sama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Bali dengan Begawan Foundation, yayasan yang bergerak dalam penangkaran burung jalak bali. Program konservasi burung jalak bali di Nusa Penida sudah berlangsung sejak tahun 2004.

"Kelima burung yang dilepas ini merupakan hasil penangkaran dari jalak bali yang bertelur di Nusa Penida," kata Kepala Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Bali Ida Bagus Arnaya. Telur yang ditemukan di Nusa Penida kemudian ditangkarkan oleh Begawan Foundation di Sibang, Kabupaten Badung, Bali.

Anakan burung jalak bali, kata Arnaya, rentan terhadap ancaman predator seperti ular jika tetap dibiarkan di alam bebas. Burung itu pun dilepas kembali ke alam setelah enam bulan dalam penangkaran dan dinyatakan mampu mencari makanan sendiri di alam.-kompas

Senin, 11 Februari 2013

Konservasi Burung Pengaruhi Impor Ular

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzTwVBv1v0IcmnlD8vMm8MvFNhYUwc5udKu8P56kCT1v-WpjJkSgludwNw-nVkAkNWt46BKiejMxjQI01ddYl_ilj6XWvFx8obDB-WtHvjOhLuVMKdUydcNQ48yR0IC6W3CVTz2pVDC2I/s1600/green_jobs.gif

Gudang Burung - Para ahli konservasi burung di Amerika Serikat meminta kepada Kongres untuk menghentikan impor lima tipe ular yang dianggap berbahaya bagi burung-burung lokal.

 
Dalam surat yang dikirimkan ke U.S.House Resource Committee, American Bird Conservancy meminta pelarangan impor dan perdagangan dalam negeri kepada jenis piton, anakonda hijau (Eunectes murinus), boa constrictor, dan dua spesies constrictor lain.

Menurut grup konservasi ini, ular-ular tersebut masuk dalam daftar "margasatwa berbahaya." Sesuai dengan Undang-undang Lacey, hukum pemerintahan berusia 112 tahun yang mengatur perdagangan margaswatwa dan produk tanaman.

"Rancangan undang-undang ini penting untuk mencegah penyebaran lebih lanjut atas predator agresif dan invasif ini," ujar Darin Schroeder, Wakil Presiden Conservation Advocacy di American Bird Conservancy, Rabu (28/11).

Ular-ular ini berbahaya karena mengonsumsi ragam variasi mangsa. Termasuk mamalia, amfibi, kadal, dan berbahaya bagi burung-burung yang sudah terancam punah.

Namun, masalah utama penyebaran ular-ular ini di AS bukan berasal dari perdagangan. Melainkan dari pemelihara ular yang tidak bertanggung jawab. Para pemelihara ini melepaskan peliharaannya yang sudah terlalu besar ke alam bebas hingga akhirnya sang ular memakan mangsa alami.

American Bird Conservancy mengutip hasil studi yang menyebut banyaknya ular piton burma (Python molurus bivittatus) yang berada di Rawa Everglades, Florida. Ular ini aslinya berasal dari Asia Tenggara, tapi kini mereka menyebar secara invasif di Florida.

Grup konvervasi ini memberi contoh di Guam, ketika terjadi kematian masif dari burung-burung lokal saat ular pohon cokelat (Boiga irregularis) diperkenalkan. Sembilan dari 11 burung asli wilayah tersebut akhirnya punah. Ular ini juga menimbulkan masalah lain ke kehidupan manusia karena merusak sistem komunikasi dan listrik.-nationalgeoghrapic

Kamis, 17 Januari 2013

Konservasi Pelikan Darmasian

http://www.sevcikphoto.com/images/pelecanus_occidentalis_3.jpg

Melebihi spesies Great White Pelican, burung Dalmatian Pelican telah menurun sangat drastis sekali, jutaan burung Dalmatian Pelican dilaporkan bisa ditemukan di negara Rumania sendiri. Pada abad ke-20, burung Pelican Dalmatian sudah mengalami penurunan dramatis, dengan alasan yang tidak sepenuhnya dipahami. Kemungkinan terbesar penyebab hilangnya habitat, sehubungan dengan drainase lahan basah dan pembangunan.


Koloni secara teratur terganggu oleh aktivitas manusia dan, seperti dalam semua pelikan, sementara orang tua dapat meninggalkan sarang mereka jika terancam, yang pada gilirannya membahayakan anak pelican pada predator. Sesekali, Pelican Dalmatian bisa ditembak oleh nelayan. Hari ini, pembunuhan tersebut umumnya terjadi pada skala kecil tapi lokal eksploitasi berlebihan oleh nelayan merupakan masalah lanjutan.  

Burung Pelican Dalmatian dibunuh oleh orang-orang lokal di Mongolia, karena penggunaan paruh pelican sebagai kantong. Disebabkan dari perburuan liar Mongolia untuk tengkorak pelican, sampai dengan 50 paruh pelican bisa ditemukan di pasar komersial di sana dan yang dikenal karena kelangkaan spesies bahwa pelican tunggal dianggap sebagai perdagangan yang adil untuk 10 kuda dan 30 domba . Burung Pelican Dalmatian juga terbang dan terbunuh oleh tiang listrik dengan beberapa peraturan.

 Di Yunani, pelikan sering terganggu oleh perahu listrik, biasanya oleh orang-orang yang membawa turis begitu banyak sehingga pada dasarnya mereka mampu untuk memberi makan pada ikan yang mereka butuhkan. Pada tahun 1994, di Eropa terdapat lebih dari seribu pasang pembibitan, kebanyakan dari mereka di Yunani, tetapi juga di Ukraina, Macedonia, Rumania, Bulgaria dan Albania (Karavasta Lagoon).

Burung Pelican Dalmatian telah dianggap punah di sinces Kroasia tahun 1950-an, meskipun Pelican Dalmatian tunggal diamati di sana pada 2011. Koloni terbesar tunggal tersisa di Danau Mikri di Yunani, dengan sekitar 1.400 pasang dan sekitar 450 pasang tersisa di Delta Danube. Negara dengan populasi peternakan terbesar saat ini, termasuk sekitar 70% dari pasangan atau mungkin lebih dari 3.000 pasang adalah Rusia. Di seluruh dunia, diperkirakan ada 3.000-5.000 pasang peternakan

Karena eksploitasi di semua tahap siklus hidup, spesies ini terancam punah dalam jangkauan Mongolia, dengan total populasi kurang dari 130 individu burung. Ada kemungkinan bahwa hingga 10,000-20,000 pelikan ada di tingkat spesies. Satu laporan sekitar 8.000 burung Pelican Dalmatian di India ternyata salah diartikan menjadi Pelicans Great White.

Burung Pelican Dalmatian adalah salah satu spesies dalam Perjanjian tentang Konservasi Afrika-Eurasia Bermigrasi Waterbirds (AEWA). Usaha konservasi sudah dilakukan atas nama spesies, terutama di Eropa. Meskipun mereka biasanya bersarang di tanah, burung Pelican Dalmatian juga bersarang pada platform luar di Turki, Yunani, Bulgaria dan Rumania dalam rangka mendorong mereka untuk berkembang biak.

 Rakit di atas air juga telah diatur untuk spesies dan digunakan digunakan di Yunani dan Bulgaria. Tiang listrik juga sudah ditandai atau dibongkar di daerah berdekatan dengan koloni di negara-negara itu. Selain itu, tingkat manajemen air dan program pendidikan bisa membantu mereka di tingkat lokal. Meskipun upaya diatas telah dilakukan di Asia, ada kehancuran yang jauh lebih tinggi dari perburuan, menembak dan upaya konservasi habitat yang diterapkan mungkin lebih sulit. 

Pada 2012, saat kondisi musim dingin yang luar biasa dingin menyebabkan Laut Kaspia membeku, ini mengakibatkan kematian dan kelaparan setidaknya 20 Burung Pelican Dalmatian yang menahan musim dingin di sana. Meskipun ada upaya pemerintah daerah untuk mencegahnya, banyak penduduk setempat memberi ikan dan makanan burung, tampaknya ini memungkinkan pelikan besar untuk bertahan musim dingin.

Tindakan konservasi Burung Pelican Dalmatian telah menghasilkan peningkatan populasi di Eropa, terutama di koloni terbesar spesies ini, di Danau Mikri Prespa di Yunani, dan juga di negara-negara lain, menyusul pelaksanaan tindakan konservasi. Namun, penurunan populasi yang cepat di sisa jangkauan diduga akan berlanjut dan karena spesies ini terdaftar sebagai Rentan.