Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Oktober 2013

Jeholornis, SI Burung Berekor Dua


Gudang BurungTim paleontologi dari Chinese Academy of Sciences, di Beijing, China, mengungkapkan bahwa 120 juta tahun lalu burung memiliki dua ekor. Temuan ini membuat jalur evolusi yang rumit dari spesies burung. Melansir Fox News, 16 Oktober 2013, hal itu diketahui dari fosil burung purba Jeholornis. Habitatnya di China bersama hewan pra-sejarah lainnya. 

Dari temuan fosil, Jeholornis merupakan burung berukuran lebih besar dari kalkun, memiliki cakar pada sayap-sayapnya, dan terdapat tiga gigi kecil di bagian rahang bawah.

Uniknya, para ahli paleontologi juga menemukan Jeholornis jantan mempunyai ekor yang panjang dan berjumlah dua. Belum diketahui apa fungsi dari dua ekor itu, apakah sebagai pendukung terbang atau hanya berfungsi untuk memikat lawan jenisnya.

"Dua ekor yang ditemukan pada burung Jeholornis sangat mengherankan. Ini merupakan jalur evolusi baru untuk hewan spesies burung," kata Jingmai O'Connor, Pemimpin Penelitian dari Chinese Academy of Sciences.

O’Connor menambahkan, tim peneliti memprediksi fungsi dari salah satu ekor hanya untuk menarik lawan jenisnya. Mengingat satu ekor berukuran panjang dan satu ekor lagi berukuran pendek, mirip ekor burung merak.




"Fungsi salah satu ekor yang dipenuhi bulu-bulu berwarna-warni sepertinya mirip dengan fitur yang ada pada burung merak, yaitu untuk memikat perhatian lawan jenisnya," ujar O’Connor.

Namun, menurut Julia Clarke, ahli paleontologi dari University of Texas, AS, fungsi dari dua ekor adalah untuk menciptakan stabilitas terbang. 

Sebagian menyimpulkan, salah satu ekor itu sepertinya tidak mempunyai fungsi tertentu dan berevolusi menjadi satu ekor saja pada burung-burung modern.

"Bentuk dua ekor itu adalah sebuah jalur evolusi pada spesies burung. Tapi, temuan dua ekor pada burung Jeholornis adalah aneh dan ganjil," tutup Clarke.

Hasil penelitian sudah diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciences dengan judul "Unique caudal plumage of Jeholornis and complex tail evolution in early birds."

Usir Burung dengan Sinar Laser

Gudang BurungSetiap tahun para petani di Australia menghadapi serangan dari burung-burung pemangsa hasil panen. Namun, seorang petani mangga dari Northern Territory memiliki ide unik untuk menjaga buah-buah mangga yang sudah ranum dari incaran burung gagak.

Petani Han Shiong Siah menggunakan sinar laser yang dipancarkan dari senter ke arah pohon mangga, untuk mengusir burung-burung pengganggu tersebut.
Sebelumnya ia sudah mencoba berbagai metode namun tidak begitu berhasil. Tahun lalu ia kehilangan sepertiga panen mangganya yang habis "disikat" oleh burung-burung gagak.
Menurut Siah, burung-burung itu langsung beterbangan begitu sinar laser mulai mendekat. "Saya mereka beterbangan, berarti mereka tidak akan sempat makan. Jadi ini saya anggap berhasil," katanya.
Siah juga menggunakan bunyi sirene dan senapan angin untuk menjaga hasil panen mangganya. "Dengan sinar laser ini, saya bisa menghemat, dan burung-burung gagak itu mungkin sudah menganggap kawasan ini berbahaya," katanya.
Namun ia tetap menunggu apakah burung-burung tersebut kemudian akan "menyadari" taktik sang petani, dan kembali menemukan cara untuk bisa ikut "memanen" mangga yang sudah ranum.

Rabu, 16 Oktober 2013

Cash Flow Burung Capai Rp. 7T Per Tahun di 2007


Gudang BurungCobalah tebak berapa besar perputaran rupiah di dunia burung berkicau dalam setahun? Jawabnya mencapai Rp7 triliun. Itulah hasil survei Burung Indonesia bersama University of Oxford, Pelestari Burung Indonesia (PBI), AC Nielsen, Aksenta, dan Darwin Initiative pada 2007 di Pulau Jawa dan Bali.

Boleh jadi, saat ini perputaran rupiah itu lebih besar lagi seiring melonjaknya beberapa harga pakan burung. Harap maklum, nilai sebesar itu merupakan akumulasi dari 6 parameter survei, yaitu nilai jual-beli burung, kandang, peralatan, pakan hidup, buah, biji, vitamin, obat, dokter, publikasi media, sampai perjalanan para pehobi.

Selasa, 15 Oktober 2013

Penjara Bagi Perampok Di Afghanistan Tempo Dulu


Gudang BurungHUKUMAN penjara bagi para penjahat atau perampok itu sudah lumrah. Namun bagaimana jika penjara bagi para tahanan dibuat menggantung seperti sangkar burung dan bisa dilihat publik? Tentu akan sangat aneh.

Pada era 1900-an, di masa pemerintahan Abdur Rahman, jalanan Kabul-Jalalabad-Peshawar yang menghubungkan antara Afghanistan-Pakistan rawan dengan aksi perampokan.

Agar menimbulkan efek jera dan malu, para perampok ini dipenjara dengan kurungan yang amat unik. Ketika perampok tertangkap oleh penjaga keamanan, mereka dimasukkan dalam sangkar besi dan digantung di atas tiang seperti seekor burung. Tak sampai di situ, ‘sangkar manusia’ inipun di tempatkan di sepanjang jalan yang merupakan sepenggal bagian dari Jalan Sutra yang terkenal saat itu.

Mereka digantung sehingga kawanan mereka tidak bisa memberi makanan sampai akhirnya mati kelaparan. Salah satu foto penjara gantung ini pertama kali dimuat dalam majalah National Geographic tahun 1921, dengan sebutan “Man Cage.” 

Senin, 14 Oktober 2013

Gaun Berbalut Bulu Burung Unta Dibandrol Rp. 150 Juta Oleh Gucci


Gudang BurungDi ajang fashion show beberapa waktu lalu,brand fashion raksasa, Gucci, merilis koleksi terbaru mereka. Yang salah satunya menjadi sangat disukai dan laris di kalangan selebritis.

Sebuah gaun cantik yang dihiasi bulu-bulu nan seksi, menjadi salah satu favorit selebritis yang terlihat sering dipakai, terutama saat menghiasi cover sebuah majalah. Dalam waktu yang hampir bersamaan, beberapa selebritis wanita, memakai gaun ini saat tampil di majalah.

Sabtu, 12 Oktober 2013

!4 Jenis Burung Hantu di Indonesia



Gudang Burung Burung hantu merupakan burung pemangsa yang aktif berburu dimalam hari. Namun tahukah anda kalau ternyata ada sekitar 222 jenis burung hantu yang hidup di dunia ini??? Apa saja jenis-jenis burung hantu tersebut? Berikut adalah 14 jenis burung hantu yang hidup di Indonesia versi tipsdancarabeternak.blogspot.com 

1. Burung Hantu Tito Alba
Foto burung hantu Tito alba

Dikenal juga dengan nama Burung hantu Tito, atau Serak Jawa atau Barn Owl. Jenis burung hantu ini bertubuh besar dengan tubuh bagian atas berwarna kuning tua kecokelatan dengan bercak halus, sedangkan bagian bawah berwarna putih dengan bintik hitam. Tingginya mungkin sekitar 34 cm. Ciri-ciri burung hantu Tito adalah memiliki wajah yang berwarna putih yang berbentuk seperti hati.  
Habitat burung hantu tito alba ini adalah daerah berpohon di tepi hutan, perkebuann, hingga taman kota dengan ketinggian mencapai 1.600 m di atas permukaan laut. Burung hantu jenis ini dapat ditemukan di seluruh benua, kecuali Antartika.

2. Wowo-wiwi
Foto burung hantu wowo-wiwi
Dikenal juga dengan nama Serak Bukit atau Oriental Bay Owl, dan memiliki nama latin Phodilus badius. Burung hantu jenis ini memiliki wajah khas yang bisa dibilang mirip ular sendok. Tingginya sekitar 27 cm. Daerah penyebarannya adalah wilayah Asia Tenggara.

3. Celepuk Merah
Foto Burung Hantu Celepuk Merah
Dikenal juga dengan nama Reddish scops-owl serta memiliki nama latinOtus rufescens. Ukuran tubuh mereka sangat kecil, tingginya hanya sekitar 15-18 cm. Habitat celepuk merah adalah daerah dataran rendah dengan banyak pepohonan, perbukitan, serta hutan primer dan sekunder. Secara umum, habitat mereka berada pada dataran rendah, tetapi ada juga yang hidup di daerah dengan ketinggian mencapai 1.350 m di atas permukaan laut. Daerah penyebaran celepuk merah antara lain Sumatera, Jawa, Kalimantan hingga Semenanjung Thailand, dan Semenanjung Malaysia.

4. Celepuk Gunung          
Foto burung hantu celepuk gunung
Dikenal juga dengan nama Javan Scops Own dan memiliki nama latin Otus angelinae. Burung hantu berukuran kecil ini (tingginya sekitar 20 cm) merupakan spesies burung hantu langka yang hanya dapat ditemukan di Indonesia. Selain itu, burung hantu ini juga tidak memiliki sub-spesies.

5. Celepuk
foto-clepuk
Dikenal juga dengan nama Indian Scops Owl dan memiliki nama latin Otus bakkamoenaHabitat clepuk adalah di dalam hutan dan area yang banyak pohonnya. Meskipun ukuran tubuh mereka hanya sekitar 23 - 25 cm, tetapi mereka adalah salah satu yang terbesar dari spesies scops owl. Mereka adalah pemakan serangga dan merupakan binatang nokturnal. Karena kemampuan kamuflasenya yang cukup mumpuni, akan sangat sulit menemukan mereka di siang hari. Daerah penyebaran Indian Scops Owladalah bagian selatan Asia meliputi Bagian Timur dari Timur Tengah, anak benua India, hingga ke beberapa negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia.

6. Celepuk Rajah
Foto burung hantu celepuk rajah
Burung hantu yang hanya berukuran sekitar 23 cm ini emiliki nama latin Otus brookei. Bisa dibilang burung hantu kecil ini merupakan yang paling tidak populer dibandingkan dengan jenis burung hantu lainnya di Indonesia. Karena memang hanya pernah ditemukan beberapa spesimen saja yang berasal dari daerah pegunungan di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa Timur.

7. Hingkik
Foto burung hantu hingkik
Memiliki nama lain Beluk Jampuk atau Barred Eagle Owl serta memiliki nama latin Bubo sumatranus. Sering juga disebut dengan nama Malay Eagle OwlHabitat hingkik adalah di hutan tropis dan subtropis di dataran rendah. Daerah penyebaran Hingkik antara lain di Pulau Keeling, Brunei, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Singapura, dan Thailand.

8. Bloketupu
foto burung hantu bloketupu
Dikenal juga dengan nama Bubo Ketupu atau Ketupa Ketupu atau Beluk ketupa atau Buffy Fish Owl. Dikenal juga sebagai Malay Fish OwlHabitat Bloketupu adalah daerah hutan pegunungan tropis dan subtropis. Daerah penyebaran bloketupu ini antara lain di Brunei, Kamboja, India, Laos, Myanmar, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Indonesia.

9. Beluk watu Jawa
Foto burung hantu Beluk watu Jawa
Dikenal juga dengan nama Javan Owlet Glaucidium, serta memiliki nama latin Glaucidium castanopterum. Burung Hantu jenis ini adalah burung endemik Pulau Jawa dan Bali. Habitat beluk watu jawa adalah di kantung-kantung hutan di dataran rendah dan perbukitan. Namun mereka juga sering terlihat di pekarangan desa, hutan primer, dan hutan sekunder.

10. Punggok Cokelat
Foto Burung Hantu Pungok
Spesies burung hantu yang memiliki nama latin Ninox scutulata ini dikenal juga dengan nama Brown Hawk-Owl. Burung ini berukuran medium, dengan tinggi sekitar 32 cm. Habitat Punggok Cokelat antara lain di hutan dan daerah yang banyak pepohonan. Daerah penyebaran punggok cokelatmeliputi Asia Selatan mulai dari India dan Sri Lanka hingga bagian timur Indonesia dan China Selatan.

11. Seloputo
Foto Spotted Wood Owl
Burung yang dikenal juga dengan nama Spotted Wood Owl ini memiliki nama latin Strix seloputo. Termasuk kedalam spesies burung hantu yang berbadan besar. Tingginya sekitar 47 cm. Ada 3 sub-spesies dari Strix seloputo yaitu Strix seloputo seloputo (Myanmar dan Thailand Tengah hingga Singapura, serta Jambi (Sumatra) dan Jawa. Strix seloputo baweana(Endemik Pulau Bawean), dan Strix seloputo wiepkini (Pulau Calamian dan Palawan (Filipina)).

12. Kokok Beluk
Foto Burung Hantu Kokok Beluk
Burung hantu yang dikenal juga dengan nama Brown Wood Owl ini memiliki nama latin Strix leptogrammica. Mereka termasuk jenis burung hantu berbadan besar. Tubuhnya setinggi 45-47 cm. Burung hantu jenis ini hidup di wilayah Asia Selatan seperti Sri Lanka dan India hingga ke Timur sampai ke Indonesia dan China Selatan.

13. Beluk Telinga Pendek
Foto Beluk Telinga Pendek
Burung hantu yang dikenal juga dengan nama Short-eared Owl ini memiliki nama latin Asio flammeus. Jenis burung hantu ini memiliki setidaknyya 10 sub-spesies dan tersebar di seluruh benua kecuali Australia dan Antartika.

14. Celepuk Reban
Foto Celepuk Reban

Burung hantu kecil yang memiliki nama latin Otus lempiji ini memiliki banyak sekali nama panggilan. Nama umumnya adalah Celepuk, di Sunda disebut dengan beuek, sedangkan di Jawa Tengah disebut manuk kuwek, sedangkan dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama Sunda Scops-Owlatau Collared Scops-Owl. Dulunya spesies ini dimasukkan dalam sub-spesies Otus bakkamoena, tetapi sekarang sudah tidak lagi. Daerah penyebaran burung celepuk reban ini adalah di Filipina, Kalimantan, Sumatera, Jawa, dan Bali.

Jumat, 11 Oktober 2013

Kesadaran Pengusaha Walet di Solo Masih Minim Bayar Pajak


Gudang BurungRealisasi Pajak Sarang Burung Walet kembali jeblok. Hingga 30 September 2013, realisasi pajak tersebut baru mencapai Rp 2.281.000 atau 9,5 persen dari target yang ditetapkan sebesar Rp 24 juta. Hal itu diketahui dalam rapat kerja evaluasi triwulan III Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) dengan Komisi III DPRD Solo, Senin (7/10), di ruang komisi III.

Sekretaris DPPKA Solo, Tulus Widajat mengatakan Pajak Sarang Burung Walet merupakan pajak yang realisasinya paling rendah. Realisasi jenis pajak lainnya seperti Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Reklame, Pajak Air Tanah dan beberapa pajak lainnya rata-rata telah mencapai 80 persen.
Rendahnya realisasi Pajak Sarang Burung Walet itu lantaran pihaknya kesulitan mengakses pasar sarang burung walet. Hal ini karena penjulan sarang burung walet bersifat individual dan tidak ada standarisasi harga jual.
“Pasar sarang burung walet itu kan tidak terbuka seperti pasar umumnya. Sifatnya individual. Kami kesulitan juga menentukan besaran omset wajib pajak selain potensinya yang memang sedikit. Bahkan kami sudah door to door ke wajib pajak. Saat kami datangi mereka mengtatakan belum panen,” kata Tulus kepada jajaran Komisi III.
Anggota Komisi III DPRD, Abdullah AA mengatakan pihaknya mempertanyakan rendahnya realisasi Pajak Sarag Burung Walet yang selama tiga tahun dipasang tidak menunjukkan peningkatan. Dirinya meminta DPPKA mencari jalan lain agar tarikan Pajak Sarang Burung Walet dapat optimal.
“Ini saya justru tanda tanya, apa karena targetnya hanya Rp 24 juta kemudian DPPKA kerjanya tidak sungguh-sungguh? Pemilik Sarang Burung Walet itu kan kebanyakan kalangan menengah ke atas,” gugatnya.
Abdullah menyarankan agar DPPKA menempelkan stiker pada wajib pajak sarang burung walet yang enggan membayar pajak. Selain itu perlu adanya petugas khusus yang memantau dan menangani penarikan Pajak Sarang Burung Walet.-timlo

Kamis, 10 Oktober 2013

Pengajuan Perdes Oleh Dinas Tentang Budidaya Burung Hantu


Gudang Burung Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Grobogan telah memulai program penangkaran burung hantu pada tahun ini. Keberadaan burung hantu dinilai akan menjadi predator alami tikus sawah yang menjadi hama pertanian.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Grobogan Edhie Sudaryanto mengatakan penangkaran baru dilakukan di dua wilayah yakni Kecamatan Godong dan Gubug. Hal itu menjadi stimulan, dan diharapkan wilayah lain bisa melakukannya secara swadaya.
“Tahun ini programnya penangkaran dan tahun depan pembuatan rumah burung hantu (rubuha),” kata Edhie seusai memeberikan paparan dalam acara Sarasehan Kontak Tani Nelayan Andalan di Gedung Riptaloka Setda Grobogan, Kamis (10/10).
Rubuha tesebut ditempatkan di masing-masing desa. Terutama yang memiliki wilayah pertanian besar dan produktif. Idealnya, ada satu rubuha di satu hektare lahan pertanian. Dalam satu rubuha minimal ada sepasang burng hantu, agar cepat berkembang biak.
Edhie menjelaskan jika karakter burung hantu yang nomaden (berpindah-pindah) tidak sama dengan burung piaraan lainnya. Burung hantu selalu tinggal di lokasi yang terdapat sumber pangan melimpah. Oleh karenanya masyarakat tidak boleh hanya mengandalkan burung sebagai penghilang hama tikus. “Gropyokan tikus harus terus dilakukan. Pelaksanaannya pun harus tepat waktu dan cari induknya,” kata Edhie.
Untuk menjalankan program tersebut secara serempak, pada tahun depan akan dibuat Peraturan Desa (Perdes). Perdes juga akan berisikan larangan mengganggu atau membunuh burung hantu.
Ketua KTNA Grobogan Wardi menyatakan sangat mendukung penangkaran burung hantu tersebut. Alasannya hama tikus sangat merugikan petani karena bisa menurunkan hasil tani hingga 75 persen. Itu terjadi saat hewan pengerat tersebut mulai tumbuh dewasa. Hama tikus juga menyerang segala macam tanaman mulai dari padi, jagung hingga sayuran. “Tikus ini memang setiap tahun menjadi kendala. Makanya penangkaran burung hantu harus dilakukan oleh petani,” ujar Wardi.
Persoalan lain yang dihadapi petani saat ini adalah kemarau yang berkepanjangan. Jelang musim tanam, suplai air sangat terbatas sehingga menyulitkan petani untuk mempersiapkan lahan. Di samping itu keterbatasan tenaga penyuluh membuat transfer teknologi pertanian tidak bisa maksimal.

Kotoran Puyuh Bisa Jadi Pakan Ikan


Gudang BurungPeternak ikan lele kini bisa menekan biaya pakan ternak mereka hingga sekira 50%. Bila biasanya mereka butuh Rp9.000 untuk membeli 1 kilogram (kg) pakan ikan lele, kini cukup dengan Rp5.000, mereka bisa memberi pakan tinggi protein bagi lele yang dibiakkan. 

Ketua Tim Pusat Pengembangan Kewirausahaan (PPKwu) UNS Ir. Suyono menjelaskan, harga pakan ikan yang mahal mengakibatkan usaha budidaya ikan banyak mengalami kerugian. Padahal, di sisi lain, pemerintah sedang menggalakkan program masyarakat gemar makan ikan.

"Itulah yang memunculkan wacana perlu upaya menemukan pakan lele yang murah dan ramah untuk masyarakat," ujar Suyono.

Bersama timnya, Suyono pun merekayasa kotoran burung puyuh untuk dijadikan alternatif pakan ikan lele. Awalnya, peternak burung puyuh ini merasa tertantang untuk memanfaatkan kotoran burung puyuh yang tersedia melimpah untuk dijadikan pakan lele. Selain murah, kata Suyono, kotoran burung puyuh dipilih karena kandungan proteinnya yang tinggi dibandingkan kotoran ayam. 

"Kandungan protein kotoran burung puyuh adalah 21 persen, sedangkan kandungan protein dalam kotoran ayam petelur 11-14 persen," jelasnya.

Suryono mencampur kotoran burung puyuh dengan bulu ayam dan sisa ikan asin. Bulu ayam berfungsi membuat pakan lele dapat mengambang di air. Sisa ikan asin digunakan untuk menambah nafsu makan ikan lele. 

Pembuatan pakan lele dengan pemanfaatan limbah organik tersebut, menurut Suryono menggunakan perbandingan 1:1:1. Satu kg kotoran kering burung puyuh dicampur 1 kg bulu ayam yang telah dipresto dan 1 kg ikan asin.

"Setelah dikeringkan, kemudian digiling menjadi tepung dan dicampur. Baru kemudian diproses menjadi pelet," urai Dosen Fakultas Pertanian UNS itu.

Suryono mengimbuh, bila dijual, pakan lele dari limbah organik dihargai Rp5.000 per kg. Harga tersebut jauh lebih murah dibandingkan pakan ikan pada umumnya yang dibanderol Rp8.000-Rp9.000 per kg.

"Tetapi pakan ikan lele hasil ujicoba ini belum dipasarkan. Tetapi hanya sebatas dimanfaatkan oleh UNS sebagai pendampingan peternak ikan lele," tuturnya.

Rabu, 09 Oktober 2013

Indonesia Miliki Kupu-Kupu 'Bersayap' Burung


Gudang BurungIndonesia memiliki tingkat keanekaragaman jenis kupu-kupu tertinggi kedua di dunia. Hanya berbeda sedikit dari negara Brazil yang mempunyai 3.000 jenis, di Indonesia terdapat 2.500 jenis kupu-kupu. Namun, tingkat endemisitas kupu-kupu Indonesia sangat tinggi, yakni 50% dari jenis yang ada. Artinya, keunikan kupu-kupu di Indonesia melebihi negara lain di dunia.

Di antara keragaman jenis kupu-kupu di Indonesia, terdapat 20 jenis yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Salah satu jenis yang dilindungi tersebut adalah Ornithoptera goliath [Oberthur pada 1888], kupu-kupu dari Indonesia bagian Timur (Kepulauan Seram, Manokwari dan Papua Nugini). 


Secara umum, jenis ini dikenal dengan Goliath Birdwing, disebut sayap burung karena ukuran sayapnya yang besar dan pada saat beristirahat bentuk sayapnya menyerupai sayap seekor burung yang sedang hinggap.

Jenis Ornithoptera goliath sering hinggap di tumbuhan berbunga, seperti soka (Ixora coccine) dan pagoda (Clerodendrum japonicum), untuk menghisap nektar bunganya. Kupu-kupu yang biasa terbang tinggi ini memiliki enam subspesies, yaitu: 

Ornithoptera goliath atlas   [Rothschild, 1908] 

Ornithoptera goliath procus   [Rothschild, 1914] 

Ornithoptera goliath samson   [Niepelt, 1913] 

Ornithoptera goliath sorongensis   [Morita & Sugiyama, 1998] 

Ornithoptera goliath supremus   [Röber, 1896] 

Ornithoptera goliath ukihidei   [Hanafusa, 1994]

Kupu-kupu yang memiliki rentangan sayap 18-23 cm ini, merupakan jenis dengan ukuran terbesar kedua di dunia setelah Queen Alexandra’s Birdwing (Ornithoptera alexandrae) yang hidup di Papua Nugini. Seperti jenis kupu-kupu pada umumnya yang sexual dimorphism (penampilan luar/ morfologi jantan dan betinanya berbeda).


Ornithoptera goliath jantan memiliki warna sayap yang lebih cerah dibandingkan dengan betina. Dengan dominasi warna hijau kekuningan dan hitam, individu jantan mencoba menarik perhatian betina untuk menjadi pasangannya. Sedangkan, pada individu betina warna yang mendominasi hanya putih dan cokelat dengan corak menyerupai batik. 

Selain kombinasi warna sayap, ukuran tubuh individu jantan dan betina pun berbeda. Kupu-kupu betina biasanya memiliki ukuran yang lebih besar dikarenakan harus menyimpan banyak cadangan energi. Energi tersebut digunakan untuk terbang jauh dan meletakkan telur di tanaman inang. 

Masing-masing jenis kupu-kupu memiliki tanaman inang yang berbeda dengan jenis lainnya. Ornithoptera goliath sering dijumpai di tumbuhan sirih hutan (Aristolochia spp.), yang nantinya akan dimanfaatkan sebagai pakan larvanya setelah menetas dari telur.

Selasa, 08 Oktober 2013

Pertamina EP Turut Serta Dalam Pelestarian Maleo

Gudang BurungJangan heran kalau kita makin susah bertemu dengan burung Maleo. Burung yang bertelur dalam tanah di tepi sungai kian langka karena selain hutan tempat mereka bermukin kian terdesak oleh pemukinan atau pembukaan lahan lain untuk berbagai aktivitas manusia, telur burung tersebut juga diburu masyarakat.
Tergerak oleh kondisi itulah PT Pertamina EP bekerjasama BKSDA (Badan Konservasi Sumber Daya Alam) Sulawesi Tengah melakukan upaya menjaga populasi burung Maleo. Komitmen tersebut, diwujudkan dengan melakukan pelepasan Maleo di Suaka Margasatwa Bakiriang, Kecamatan Moelong, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah Senin (7/10).

Hadir dalam pelaksanaan program CSR tersebut Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Sidharto, Direktur Exploration & New Discovery Project Director Eksplorasi Doddy Priambodo, General Manager Operasional Gas Matindok Medianto dan stakeholder lainnya.

Menurut Doddy, Penangkaran Maleo di pesisir pantai bangkiriang merupakan wujud kepedulian Pertamina EP terhadap lingkungan hidup. Lantaran, burung Maleo adalah satwa endemik Sulawesi yang hampir punah karena telur burung Maleo menjadi buruan masyarakat. "Dengan begitu konservasi Maleo harus ditingkatkan, dalam hal ini Pertamina EP membuat penangkaran Maleo untuk membantu proses penetasan telur Maleo," tutur Doddy.

Selain telur yang diburu, punahnya burung Maleo juga disebabkan karena banyaknya penebangan hutan di kawasan hutan Sulawesi. Sehingga burung tersebut bergeser ke tempat lain kemudian punah. "Padahal ini satwa endemik masyarakat Sulawesi harus dilestarikan jangan sampai punah," kata dia.

Sementara itu Kepala Balai KSDA Sul-teng Syihabuddin mengatakan, tanggung jawab penyelamatan satwa seperti Maleo bukan hanya tanggung jawab Pertamina. Namun, lanjut dia, harusnya diemban bersama masyarakat dengan penuh kesadaran menjaga habitat burung Maleo.

"Tanggung jawab hewan endemik bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Perusahaan swasta dan masyarakat di daerah Sulawesi Tengah harus turut berkecimpung dalam menjaga dan melestarikan hewan Maleo," tambahnya.

Wakil Gubernur Sulteng Sudharto mengapresiasi langkah Pertamina EP melestarikan burung Maleo di Sulawesi. Bahkan, dia nengucapkan terima kasih karena turut menjaga hewan endemik di Sulawesi tersebut. "Pertamina sebagai pahlawan pelestarian burung maleo," puji Sudharto.

Medianto menambahkan bahwa konservasi Maleo ini dilakukan sejak 25 Januari 2012, kemudian pada Juli 2013 Pertamina EP melepas 8 ekor burung Maleo. Bulan September 2013 kembali dilepas 12 ekor burung Maleo dan tanggal 8 Oktober 2013 dilakukan pelepas liaran kembali sejumlah 32 ekor burung Maleo.

Selain itu, sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan dan komitmen terhadap pelestarian bumi, Pertamina EP juga melakukan penanaman pohon 9.000 pohon. Adapun jenis pohon yang ditanam mahoni dan mangrove. Lokasi penanaman di Desa Pandanwangi Kecamatan Toili Barat seluas 5,1 ha, kemudian Desa Tohiti Sari Kecamatan Toiki seluas 1,5 ha dan Kelurahan Tombang Permai Kecamatan Luwuk seluas 0,2 ha. 

"Sasaran akan terus ditingkatkan dengan mengembangkan CSR lainnya baik bidang kesehatan maupun bidang lingkungan hidup yang memang sudah berjalan. Ke depan jauh akan dikembangkan lagi," tuturnya.

Senin, 07 Oktober 2013

Diduga Lepas dari Petshop, Nuri Menyetir Kendaraan di Inggris


Gudang BurungSeekor burung nuri yang lapar dan haus berhasil diselamatkan oleh dua orang petani di daerah Sufflok, Inggris. Burung itu berhasil diselamatkan setelah mereka melihat burung nuri tersebut menyetir kendaraan ladang selama 20 menit dan berhasil kembali ke tempat asal kendaraan itu.

Penemu burung nuri yang memiliki kepercayaan diri dan juga intelengensi tinggi ini adalah Mark Wells dan Andrew Barber. Mereka berdua bekerja di perkebunan George E & Sons di daerah Burry, St Edmuns.

Saat melihat kejadian ini, mereka langsung berhenti bekerja untuk menangkap burung ajaib tersebut. Mereka percaya, burung eksotis ini lepas dari Pet Shop. Keduanya pun tidak ingin memiliki burung ini dan berencana mengembalikan ke pemiliknya.

Bagi mereka berdua merupakan hal yang langka dapat melihat kejadian tersebut, di mana burung bisa menyetir selama 20 menit.

"Sangat aneh menemukan burung macam ini di perkebunan Inggris. Tetapi bisa melihat burung menyetir itu sangat gila," ungkap Wells, dilansir Metro, Minggu (25/8/2013).

Bahkan, istri Wells hingga saat ini masih belum bisa menyembunyikan ketakjubannya pada burung yang mereka beri nama Rio ini. 

Ratusan Burung Terbakar Saat Kebakaran Kios di Tegal


Gudang Burung Ratusan burung dan binatang lainnya mati terpanggang akibat sejumlah kios dan 7 los pasar burung di jalan Semeru, Kelurahan Panggung, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal ludes terbakar. Tidak ada korban jiwa manusia namun diperkirakan kerugian mencapai ratusan juta rupiah.

Hingga berita ini ditulis, petugas Polresta Tegal belum dapat menyimpulkan penyebab pasti kebakaran itu, namun diperkirakan akibat bakaran sampah didekat pasar burung tersebut. Petugas masih mencari tahu siapa orang yang telah membakar sampah di dekat pasar burung itu. 


Sementara belasan kios dan los lainnya selamat dari kobaran api, namun para pemiliknya panik dan berusaha menyelamatkan barang dagangannya utamanya burung ocehan yang harganya cukup mahal.

"Kami masih menyelidiki penyebab kebakaran itu, beberapa orang saksi sudah kami mintai keterangan", ujar Kapolresta Tegal, AKBP Darmawan Sunarko SIK, yang ditemui KRjogja.com, di TKP, Senin (07/10/2013) malam. 

Pedagang Pasar Gawok Desak Sosialisasi BKSDA


Gudang BurungPedagang di Pasar Burung Gawok Kecamatan Gatak meminta sosialisasi dari pejabat terkait mengenai hewan yang dilindungi Undang Undang. Tujuannya agar tidak ada pelanggaran penjualan hewan langka.

Seperti diketahui beberapa hari lalu ada penyitaan hewan langka yang dilindungi Undang Undang dari kantor Kecamatan Kartasura oleh petugas BKSDA. Atas kejadian ini, pedagang burung di Pasar Burung Gawok Kecamatan Gatak ikut memberikan perhatian.
"Disini memang jarang atau tidak ada hewan langka yang dijual disini, tapi saya dan pedagang lain perlu mendapatkan sosialisasi hewan apa saja yang tidak boleh dijual karena dilindungi Undang Undang,” jelas Siwiyono salah satu pedagang burung di Pasar Burung Gawok Gatak ditemui ditempat usahanya, Minggu.
Senada diungkapkan oleh Junaidi pedagang lainya. Menurutnya aktifitas jual beli di Pasar Burung Gawok sama ramainya dengan di Pasar Burung Depok Kota Solo. Sebab di Pasar Burung Depok Kota Solo beberapa hari lalu juga ada penyitaan hewan langka yang dilindung Undang Undang.
Karena sama-sama berada di pasar, Junaidi berharap ditempat usahanya tidak ada penyitaan. Karena itu pedagang harus segera diberikan sosialisasi. Dengan sosialisasi ini dirinya bersama pedagang lainya bisa mengetahui aturan. Menurutnya selama ini petugas terkait termasuk BKSDA sama sekali belum pernah melakukan sosialisasi.
“Kami ini berjualan kalau ada barang yang disita jelas merugikan, jadi perlu diberi penjelasan dulu mana yang boleh dan tidak untuk dijual,” ujar Junaidi.
Camat Gatak Suseno menambahkan bahwa keberadaan Pasar Burung Gawok diwilayahnya memang menjadi sentral penjualan berbagai jenis burung. Pedagang maupun pembeli tidak hanya berasal dari Gatak saja, tapi juga banyak dari luar daerah. Dengan aktifitas yang banyak ini maka, Suseno mengaku sangat sulit melakukan pengawasan.