Tampilkan postingan dengan label Berita Burung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Burung. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 September 2013

Penggunaan Logo Burung di Mobil


Gudang BurungSudah empat produsen mobil asal Jepang, Toyota, Daihatsu, Honda, dan Nissan, yang telah meluncurkan mobil murahnya. Toyota dengan Toyota Agya, Daihatsu dengan Ayla, Honda dengan Brio Satya, GO dan Nisasn dengan Datsun Go dan Go+ dan kini gilran dari Suzuki untuk meluncurkan mobil murah mereka.

Pada gelaran IIMS 2013 kali ini Suzuki memamerkan mobil murah mereka, Suzuki Wagon R yang diberi nama Suzuki Karimun Wagon R untuk pasa Indonesia. penamaan itu dilakukan untuk memenuhi persyaratan dair program mobil murah dan ramah lingkungan dari pemerintah.
City car yang disebut Suzuki karimun Wagon R dan akan muncul dalam berbagai warna serta versi modifikasi.
Ini mobil kecil didasarkan pada Suzuki Wagon R yang diproduksi dan dijual di India. Indomobil akan memproduksi Suzuki Karimun Wagon R di Indonesia karena memasukkannya ke program mobil murah LCGC.
Suzuki menggunakan logo burung Garuda pada bumper depan Karimun Wagon R. Nama Karimun diambil dari Kabupaten Karimun Karimun atau dari Kepulauan Karimun.

Minggu, 28 Juli 2013

Gembira Loka Siapkan Burung Lory Jinak


Gudang BurungKebun Binatang Gembira Loka (GLzoo) Yogyakarta kini tengah mempersiapkan ratusan burung lory agar bisa jinak dan akrab dengan pengunjung. Nantinya, para pengunjung bisa berinteraksi dengan burung paruh bengkok ini dan memberi makan pada burung dalam sangkar berukuran 8x12 meter.

Direktur Utama GLzoo, Kangjeng Mas Tumenggung (KMT) Tirtodiprodjo, Kamis (25/7) mengatakan, burung lory itu akan melengkapi koleksi Bird Park di GLzoo. 

"Bird park itu sendiri dibangun di atas lahan seluah 4.500 meter persegi dan menelan dana Rp3,5 miliar," katanya.

Kangjeng Tirto menambahkan, pada taman burung itu terdapat kandang burung interaksi dan kandang burung berbentuk kubah atau dome. Ia menyebutkan pula terdapat kolam untuk itik mandarin, kandang kaca untuk burung comoran yang pandai menyelam dan bersebelahan dengan pinguin.

"Pinguin dan flamingo masih belum sampai," katanya.

Penguburan Langit Untuk Burung Nazzar


Gudang Burung - Setiap hari terdapat ribuan orang meninggal di dunia ini lantaran berbagai hal, mulai dari usia tua sampai menjadi korban perang. Kematian memang sesuatu yang alami yang akan dialami oleh semua makhluk hidup.

Berbagai bangsa di dunia merayakan kematian tersebut dengan beragam cara. Salah satunya di Cina, sejumlah warganya melakukan tradisi penguburan langit (sky burial) untuk melepas orang-orang yang telah meninggal dunia. Seperti dilaporkan Daily Mail, tradisi penguburan langit masih dilakukan warga Cina penganut ajaran Buddha Vajrayana yang tersebar di Tibet, Qinghai, dan Mongolia.
Mereka percaya bahwa setelah seseorang meninggal, akan ada transmigrasi roh. Oleh karena itu, penganut Vajrayana tak pernah melakukan penguburan seperti yang dilakukan warga lainnya di dunia, di antaranya memasukkan jenazah ke liang lahat. Warga Buddha Vajayana di Tibet dan Mongolia justru membuang jenazah melalui ritual penguburan langit.
Dalam hal ini, jenazah dipotong-potong lalu dibuang dan dilemparkan pada kerumunan burung nasar yang lapar. Sebelum ritual seorang biksu akan membacakan sejumlah doa dan membakar dupa.

Kamis, 25 Juli 2013

Ribuan Burung Kakatua Sebabkan Matinya Listrik Kota



Gudang Burung - Walikota Rick Britton mengatakan sekitar 2.000 burung kakaktua galah yang berwarna merah muda dan kakaktua putih singgah ke Boulia, Queensland, disebabkan kekeringan,

Ditambahkan bahwa para burung bertengger di kabel listrik menyebabkan mati lampu ketika terbang kembali. Kumpulan burung ini mungkin tidak akan pergi hingga November mendatang saat hujan datang, lanjutnya, sehingga "orang-orang harus bisa hidup bersama mereka".

Galah adalah tipe kakaktua berdada merah muda yang ditemukan di Australia. Beberapa daerah di Quensland tengah mengalami kekeringan akibat curah hujan yang rendah. Boulia adalah wilayah di bagian barat negara itu.

"Karena kita berada di daerah kering, kita berusaha untuk membuat jalan terlihat bagus dengan rumput dan pepohonan jadi burung menganggap ini adalah surga rahasia di tengah kekeringan," kata Britton kepada BBC


"Ketika mereka mendarat, mereka bertengger di kabel listrik di jalan utama, dan saat mereka pergi di pagi harinya, kabel-kabel saling bertubrukan sehingga kami mengalami mati lampu," katanya.

Senin, 13 Mei 2013

Bertemu Kakatua Setelah Pisah 5 Tahun


Gudang BurungPerceraian tidak hanya memisahkan dua orang yang berpasangan, tetapi juga orang dengan hewan kesayangan. Mike Taylor sangat senang dapat bertemu kembali dengan burung kakaktua kesayangannya setelah lima tahun berpisah. Burung itu dijual mantan istrinya ketika mereka bercerai. 

”Saya sudah mencarinya ke mana-mana selama ini,” ujar Taylor.

Burung yang diberi nama Love Love itu tidak sengaja ditemukan salah seorang temannya, Steven Campbell. Campbell sedang berkunjung ke tempat penampungan kakaktua di Butte, Montana, dan mengenali burung kesayangan temannya itu. Taylor tidak begitu saja percaya dengan temuan Campbell itu sampai pada akhirnya dia menghubungi pendiri tempat itu, Lori McAlexander.

McAlexander pun hanya memiliki sedikit informasi tentang burung itu. Dia hanya tahu salah satu mata burung itu buta, suka mengatakan ”love love”, dan suka main petak umpet. Burung berusia 25 tahun itu diserahkan ke penampungan, beberapa tahun lalu, setelah mematuk seorang perempuan. Ketika itu, Love Love mematuk perempuan itu dan menyebabkan luka serius.

Taylor pun pergi ke tempat penampungan burung itu. Ketika bertemu, tampaknya Love Love mengenali tuannya. Dia segera bermain-main dengan Taylor. ”Pertemuan itu sangat menyentuh, dia tidak melupakan saya,” kata Taylor senang.

Selasa, 19 Maret 2013

Lovebird Hilang Senilai Rp. 200 Juta


Gudang Burung  - Keberadaan burung lovebird yang belakangan semakin diminati ternyata menjadi lahan empuk bagi para pelaku pencurian. Terbukti, sekitar pukul 02.00 kemarin (19/1) pencuri menggasak 10 pasang burung lovebird senilai Rp 200 juta di rumah Misturi, 40, warga Dusun Du’alas, Desa/Kecamatan Larangan. Dari data yang dihimpun, lovebird milik Misturi terdiri dari dua jenis, yakni lutino dan pastel kuning.
Adapun harga dari sepasang lovebird itu berada di kisaran Rp 20 juta, sehingga dalam peristiwa pencurian di rumah Misturi total kerugiannya mencapai Rp 200 juta. Dari penuturan Misturi, sekitar pukul 00.30 dirinya mendengar suara kicauan burung lovebird-nya yang ditaruh di dapur. 
Merasa curiga Misturi langsung mengecek burung koleksinya. Namun, ternyata dirinya hanya melihat seekor kucing sehingga Misturi langsung kembali ke dalam rumahnya. Sekitar pukul 02.00 dini hari kemarin, Misturi kembali ingat pada koleksinya itu.
Karena itulah, Misturi kembali lagi ke kandang burungnya. Belum sempat ke kandang, ternyata melihat pintu yang menghubungkan ke dapurnya tiba-tiba sulit dibuka. Selain itu, lampu di dapurnya padam sehingga sulit melihat dengan leluasa. 
”Waktu itu kayaknya ada seseorang yang menekan dari dalam dapur. Sedangkan suasana kan terlihat gelap,” ujarnya saat dimintai keterangan kemarin. Atas dasar itulah, kecurigaan Misturi semakin bertambah. Seketika, dirinya langsung mengambil senjata tajam berupa celurit. Misturi pun mendorong pintu agar terbuka.
Setelah berhasil di buka, ternyata di bagian belakang pintu dapurnya terdapat beberapa kursi yang ditumpuk. Saat itulah, Misturi mulai sadar telah kehilangan 10 pasang burung lovebird-nya. Saat itu pula Misturi menyadari telah kehilangan koleksinya yang jika dinominalkan diperkirakan mencapai Rp 200 juta. 
Berdasarkan pengamatan Mistruri, pelaku masuk lewat tembok yang dibobol di dapurnya dan membuka pintu keluar lewat pintu dapur. ”Saya yakin tidak hanya 2 atau 4 orang yang melakukannya, tapi lebih. Mungkin secara dijgilir mengambil burung dan dikirim ke temannya yang ada di luar,” paparnya kepada Jawa Pos Radar Madura.
Setelah kejadian, Misturi hanya bengong. Semula, dia berpikir untuk mengejar pelaku. Namun, dia memiliki rasa waswas takut menjadi korban dari beberapa maling tersebut. akhirnya Misturi hanya kembali ke rumahnya. 
”Memang sempat ada pikiran untuk mengejar para pelaku itu, tapi saya juga merasa waswas takut menjadi korban,” ungkapnya. Atas kejadian itu, Misturi mengaku belum melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwajib. ”Tapi, saya akan segera melaporkannya terhadap pihak kepolisian terkait adanya maling di rumah saya itu nantinya,” pungkasnya. (radar)

Jumat, 15 Maret 2013

Terluka Bubarkan Judi Burung

 http://img.okeinfo.net/dynamic/content/2013/03/05/500/771258/YO2QS45J4A.jpg?w=400

Gudang Burung - Petugas gabungan dari kepolisian, TNI dan Satpol PP di Surabaya, menggerebek lokasi perkampungan yang diduga sering digunakan judi adu burung merpati.
 

Dalam penggerebekan ini sempat terjadi insiden, seorang petugas Satpol PP mengalami luka dibagian kepala setelah tertimpa atap pagupon atau rumah burung merpati.

Namun, upaya penggerebekan ini diduga bocor karena tidak satu pun pelaku yang ditangkap. Petugas akhirnya mengalihkan sasaran dengan menyita ratusan burung merpati serta merobohkan dan menghacurkan belasan pagupon.

Saat sejumlah petugas Satpol PP merobohkan sebuah pagupon yang berada diketinggian sepuluh meter, atap tiba-tiba ambruk dan mengenai kepala seorang petugas. Korban pun langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Selain insiden tersebut, petugas sempat terlibat adu mulut dengan seorang pemilik pagupon yang tidak terima rumah merpati miliknya dirobohkan dan dirusak.

Dalam penggerebekan ini, polisi berhasil menyita sedikitnya seratus ekor burung merpati dan merobohkan tiga belas pagupon. Burung balap yang dijadikan barang bukti untuk sementara diamankan di Mapolsek Dukuhpakis.-okezone

Jumat, 08 Maret 2013

Beraksi di Semarang

 http://img.lensaindonesia.com/thumb/350-630-1/uploads--1--2012--04--pencuri-burung.jpg

Gudang Burung - Empat pelaku pencurian burung yang beraksi di lokasi berbeda di wilayah hukum Polrestabes Semarang berhasil ditangkap, Jumat (8/3).  Sebelum digelandang ke kantor polisi, para pelaku tindak kejahatan jalanan itu sempat dihajar warga hingga babak belur. 


Keempat pelaku itu adalah Megi Suryo (27), warga Jalan Layur Kranjangan No 85 Semarang Utara, Didik Rianto (30), warga Jalan Simongan Raya, Semarang Barat, Agil Deni Maulana (16) warga Sendangguwo Selatan RT 02 RW 01, Tembalang serta Rudi Kristianto (19), warga Ngemplak RT 12 RW 01, Mranggen Demak. 

Megi dan Didik ditangkap saat hendak membawa kabur burung Cucak Hijau milik Suprapto (50) yang sedang dijemur di depan rumah di Jalan Pusponjolo Timur, Semarang Barat, Jumat (8/3) sekitar pukul 09.30. Adapun Agil serta Rudi ditangkap saat mencuri burung Trucuk milik Panca Nur Hidayat (26), di rumah Jalan Sendang Utara IV/11 RT 5 RW 7, Gemah, Pedurungan, Semarang. 

Pelaku Megi mengaku, tidak ada rencana untuk mencuri burung di rumah Suprapto. Namun, saat dia dan pelaku lain melintas di depan rumah korban dengan berboncengan menggunakan sepeda motor Yamaha Jupiter miliknya.

Dia melihat ada seekor burung di dalam sangkar yang sedang dijemur di depan rumah. "Kondisi di sekitar rumah sepi, tidak ada orang satu pun. Lalu motor kami hentikan tepat di depan rumah," ungkapnya saat berada di Mapolsek Semarang Barat.

Lalu, dia yang saat itu berposisi sebagai pembonceng langsung turun dan menghampiri di mana burung tersebut diletakan. "Begitu mendekat, tengok kanan dan kiri tidak ada orang, burung di dalam sangkar itu langsung saya ambil," ujarnya.

Dengan membawa barang curiannya itu Megi kembali menuju sepeda motor yang dikendarai Didik. Namun, saat hendak kabur, tiba-tiba dari dalam rumah pemilik burung itu keluar dan mengetahui perbuatan mereka. "Pemilik teriak, Didik juga sudah berusaha tancap gas, tapi warga lain sudah menghadang di depan dan akhirnya kami berhasil ditangkap," katanya. 

Warga yang geram kemudian langsung memukul kedua pelaku dengan beramai-ramai, hingga tubuh Megi dan Didik babak belur. Megi mengaku, burung itu rencananya akan dijual seharga Rp 300 ribu yang kemudian uangnya akan dibagi dua. "Kalut dan butuh uang, jadi kami nekat mencuri," akunya.

Megi dan Didik kini mendekam di sel tahanan Mapolsek Semarang Barat, sedangkan Agil dan Rudi menghuni sel tahanan Mapolsek Pedurungan. Keempat pelaku tersebut akan dijerat Pasal 363 KUHP dengan ancaman maksimal 7 tahun penjara.-suaramerdeka

Senin, 04 Maret 2013

Pemain Bola Pelihara Burung

 http://static.republika.co.id/uploads/images/detailnews/burung_merpati_ilustrasi_100622115545.jpg

Gudang Burung - Ezequiel Schelotto lahir di Buenos Aires, Argentina. Namun ia memilih untuk menjadi warga negara Italia. Ia memiliki paspor Italia karena kakek buyutnya, Giovanni Battista Francesco Schelotto, melakukan emigrasi pada akhir abad 19.


"Kakek buyut saya dari Cogoleto. Saya belum pernah ke sana. Ada sebuah plakat dengan nama saya di dinding, tempat di mana saya tinggal dulu. Keluarga saya pernah ke sana dan menceritakannya kepada saya. Saya ingin sendiri ke sana suatu hari nanti," ujar Schelotto di situs resmi Internazionale. "Saya menyukai Tango tetapi saya tidak bisa menari. Saya bisa menari reggaeton dan menyukai cumbia Argentina."

"Saya sering ke sinema dan memiliki empat anjing, semua jenis Cocker. Rolando, Reina, Fatiga, dan Rocky.". "Saya juga memiliki beberapa burung juga, salah satunya bernama Messi. Ia burung Kenari."
"Saya juga memiliki beberapa ikan. Di Argentina saya memiliki rumah dengan taman dan itu mengapa saya memilih Como di Italia, sehingga saya bisa memiliki taman juga di sini. Ayah saya menyukai kegiatan bertaman sehingga ia dapat melihatnya," kata Schelotto.-republika

Minggu, 03 Maret 2013

Tega Ajak Anak Curi Burung

 http://assets.kompas.com/data/photo/2011/01/11/1808583620X310.jpg

Gudang Burung - Suryanto (42), warga Dusun Kemantren, Kelurahan Bandungrejosari, Kecamatan Sukun, Kota Malang tega mengajak anak keduanya, Fauzi Andri Lesmana (16), mencuri burung di Desa Sutojayan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, Rabu (27/2/2013).


Tapi aksi keduanya bisa dihentikan dan mengantarkan mereka mendekam di Polsek Pakisaji, Kabupaten Malang.

“Saya kapok. Awalnya saya juga tidak mau diajak Bapak,” kata Fauzi yang hanya protolan SD di Polsek Pakisaji kepada Surya Online, Rabu sore (27/2/2013).

Saat ditangkap anggota Polsek Pakisaji, mereka baru saja mencuri burung dalam sangkar milik Wasis Arianto yang berprofesi sebagai satpam.

Saat kejadian, korban berada di dalam rumah dan kemudian mendengar teriakan warga ada maling. Ia mencurigai ada koleksi burungnya yang dibawa. Ternyata benar, burung Jalak Koci miliknya raib bersama sangkarnya.

Ia pun mengejar pelaku sampai ke Jalan Raya Karangpandan, Pakisaji, tepatnya di depan Gedung Golkar. Saat itu kebetulan ada kemacetan, pelaku yang berboncengan mengenakan motor Suzuki Spin warna pink juga terhadang macet. Tak ingin kehilangan momen, Fauzi yang dibonceng ayahnya, diringkus dari belakang. Dari arah berlawanan, mobil patrol Polsek Pakisaji lewat.

Karena mencurigakan, mereka kemudian dibawa ke polsek. “Ketika digeledah, ditemukan banyak barang bukti. Motor yang dipakai juga hasil curian sebulan lalu di daerah Klayatan, Kota Malang,” kata Kapolsek Pakisaji, AKP Ni Nyoman Sri Efriandari.

Sabtu, 02 Maret 2013

Bisnis Sangkar Burung

 http://photo.kontan.co.id/photo/2010/10/11/147608314p.jpg

Gudang Burung - Bisnis penjualan sangkar burung di Jalan Tegalwangi, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, tembus ke pasar manca negara. "Dari sini, kadang-kadang dikirim ke India dan Australia," ujar pedagang sangkar burung di Plered, Lutfi (20), Senin (25/2).


Namun, pemuda itu belum pernah mengirim barang langsung ke dua negara itu tetapi melalui eksportir di Jakarta. "Mereka yang mengambil sangkar burung dari sini," katanya.

Pedagang lain, Suhada (40), juga mengatakan hal yang sama. Bedanya, biasanya, perempuan itu mengirim sangkar burung lewat para eksportir hasil kerajinan rotan di Plered.

"Saya mengirim ke luar negeri kalau ada pesanan aja. Saya titip melalui pengirim rotan ke luar negeri," kata dia. Lantaran pengiriman kerajinan rotan keluar negeri berkurang, ucap dia, pengirim sangkar burung tujuan manca negara dari tokonya merosot.

Tewas Karena Mencuri Burung

 http://images.solopos.com/2013/02/Ilustrasi-kekerangan-polisi-huffington-post-co.jpg

Gudang Burung - Heri Irawan (28) warga Dusun V Desa Bandar klippa Kec. Percut Seituan Kab. Deliserdang, yang menjadi korban amukan massa hingga tewas di Jalan KL Yossudarso Titipapan Medan Deli dibawa ke Instalasi Jenazah RSUD dr Pirngadi Medan, Rabu (27/2/2013) jam 18.00 wib.


Menurut informasi yang didapat , Heri Irawan dipregok warga sedang mencuri burung Jalak Batu di rumah warga di perumahan Marinir Titipapan pada, Rabu (27/2) jam 07.00 wib.

Warga spontan meneriaki Heri, karena takut dimasa Heri langsung kabur ke kantor Bea cukai yang tak jauh dari daerah tempat ia beraksi. Sayangnya Heri ditangkap petugas beacukai disana. Tak berapa lama warga datang langsung memukuli korban hingga tak sadarkan diri lantara mengalami pendarahan hebat dikepalnya.

"Dia (Heri) terperegok warga mencuri, lalu dipukuli hingga tak sadarkan diri," kata Hari Kencana warga yang ikut mengantarkan mayat Heri ke Instalasi Jenazah RSUD dr Pirngadi Medan.

Tak berapa lama amukan masa berlangsung, satuan Reskrim Polsek Labuhan turun kelokasi. Melihat Heri sudah tak berdaya, Polisi langsung melarikan Heri ke RS Ametha Sejahtera Simpang Kantor Labuhan.
Di rumah sakit swasta itu, Heri mendapat perawatan, namun sayang tepat pada jam 14.00 wib, Heri menghembuskan nafas terakhirrnya.

Sementara hingga saat ini pihak polisi masih menunggu keluarga Heri. Sebab sampai berita ini dirilis pihak polisi belum mengetahui siapa keluarga mayat yang terbujur kaku di Instalasi jenazah.

"Kita masih menunggu keluarga untuk menjemput mayatnya. Dan tentunya pihak polisi masih mencari keluarga mayat tersebut," kata Aiptu Kastons petugas Polsek Labuhan yang mengantar mayat.-tribun

Jumat, 01 Maret 2013

Ciptakan Robot Burung Pipit

 http://wscdn.bbc.co.uk/worldservice/assets/images/2013/02/26/130226022235_robosparrow_304x171_bbc_nocredit.jpg

Gudang Burung - Seekor burung mati yang dihidupkan kembali sebagai robot membantu ahli biologi AS mempelajari perilaku spesies burung pipit rawa.Ilmuan di Duke University di North Carolina bekerja dengan mahasiswa teknik dan seorang pengawet hewan untuk mengoperasikan sayap dari seekor bangkai pipit rawa.

Mereka memprogram keping komputer Picaxe sederhana dan membuat motor lurus kecil yang pas diletakkan didalam burung bernama Robosparrow itu. Mereka mempelajari perilaku agresif burung jantan dari spesies ini.

Eksperimen itu dilakukan selama dua bulan dan memberikan para peneliti konfirmasi bahwa mengembangkan sayap adalah sinyal agresi pejantan, kata Dr Rindy Anderson yang memimpin studi. Proses perakitan robot burung itu memakan waktu sembilan bulan, kata Dr Anderson pada BBC.

"Kami harus dapat menggunakan piranti lunak komputer untuk mengendalikan motor, untuk memprogramnya agar menggerakkan sayapnya dalam waktu-waktu tertentu," kata dia. "Itu bukan gerakan acak. Yang paling sulit adalah mendapatkan berbagai instrumen kecil."


Dengan budget hanya sekitar $1.500 (Rp14 juta), Dr Anderson mengatakan rencana awalnya adalah memodifikasi motor yang ada dari pesawat berpengendali jarak jauh atau mobil tetapi mereka terlalu besar untuk dimuat dalam burung berbobot hanya 18 gram itu.

"Teknisi kami membangun sebuah motor lurus dari prinsip pertama, kemudian membuat miniatur ulang sampai kami mendapatkan alat yang cukup kecil."


Begitu motor sudah pada tempatnya dan keping robot diprogram, burung itu dikembalikan ke alam bebas dengan sistem suara rahasia yang mengeluarkan bunyi-bunyian panggilan khas pipit rawa.


Robot itu dapat bertahan selama dua bulan tetapi selalu diserang, kata Dr Anderson.


"Kami tidak punya cadangan, setiap hari adalah harapan dan doa ia dapat bertahan dari 60 kali uji coba," tambahnya. "Pada akhirnya kepalanya copot dan sayapnya berhenti bergerak."



Burung-burung pejantan bersikap agresif pada Robosparrow baik saat sayapnya mengepak atau tidak.

"Hal itu mengkonfirmasi hipotesis kami bahwa perilaku mengepakkan sayap menjadi isyarat komunikasi agresif pejantan," kata Dr Anderson. "Ini adalah kerja keras, para mahasiswa teknik belum pernah melakukannya sebelumnya, demikian pula pengawet hewan.


"Kami benar-benar hanya melakukan penelitian awal mengenai perilaku burung ini.| Riset Dr Anderson telah dipublikasikan di jurnal Behavioral Ecology and Sociobiology.-detik

Selasa, 26 Februari 2013

Siap Dilepas di Merapi

 http://assets.kompas.com/data/photo/2013/02/19/1408248-20130219abkseekor-elang-jawa-siap-dilepasliarkan-di-tngm-merapi-620X310.jpg

Gudang Burung - Aktivis Wild Life Rescue Centre (WRC) Yogya dan Perkumpulan Ahli Burung Indonesia memasang wings marker, banding dan microchip pada seekor elang Jawa, Selasa (19/2/2013) di Taman Satwa WRC Yogya di Kulon Progo, Yogyakarta.


Aktivitas ini merupakan bagian dari rangkaian program pelepasliaran seekor elang Jawa yang sudah direhabilitasi selama dua tahun di Taman Satwa WRC Yogya.

Marketing Communication Taman Satwa WRC Yogya Rosalia Setiawati mengatakan, rencanaya elang tersebut akan dilepasliarkan di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi pada tanggal 26 Februari 2013 oleh Gubernur Sri Sultan hamengku Buwono X.

"Elang Jawa ini dua tahun lalu diserahkan seorang penyayang binatang di Yogyakarta. Dia sengaja membeli elang dari pedagang ilegal karena tahu bahwa ini hewan dilindungi. Setelah dibeli, elang ini langsung diserahkan kepada kami," ujarnya, Selasa (19/2/2013), di Yogyakarta.

Saat diserahkan ke Taman Satwa WRC Yogya, elang khas Jawa ini masih berusia dua tahun. Kini, hewan ini telah berusia empat tahun dan siap dilepasliarkan lagi.-kompas

Minggu, 24 Februari 2013

Penghentian Perburuan Enggang

http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/08/1344946688613746756.jpg

Perburuan burung enggang jenis paruh kuning di pedalaman Aceh Selatan yang belakangan ini terjadi semakin marak, agar segera dihentikan. Demikian disampaikan Kepala Balai Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) Aceh Selatan, Ir Rusman, kepada Analisa di Tapaktuan, Senin (18/2), sehubungan adanya laporan tentang aksi perburuan hewan langka itu di sejumlah kawasan di pedalaman kabupaten ini.

"Tindakan itu sama sekali tidak dapat dibenarkan, karena burung enggang paruh merah-kuning itu adalah salah satu hewan yang dilindungi," katanya.

Sebagaimana dilaporkan warga setempat, kawasan hutan pegunungan Kukusan Meunggamat Kluet Tengah Aceh Selatan dan sekitarnya menjadi lokasi perburuan burung langka itu dengan cara melumpuhkan dengan menggunakan senapan angin.

Salah satu bukti maraknya perburuan burung tersebut yakni meningkatnya pembelian senapan angin kaliber sembilan mm yang diperkirakan mampu menembus kulit burung tersebut.

Tindakan perburuan itu menyalahi Undang-Undang (UU) No 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Hutan serta UU No 41/1999 tentang Kehutanan yang dapat dikenakan sanksi hukum yang berat.

Pemicu terjadinya aksi perburuan tersebut karena harga burung tersebut mencapai Rp1-2 juta/ekor setelah sejumlah cukong dan pedagang penampung dari Medan (Sumut) menawarkan penjualan burung langka dan dilindungi tersebut.

Beberapa pegiat LSM di Aceh Selatan antara lain, Koordinator LSM LIbas Meyfendri dan Ketua YGHL Aceh Selatan Sarbunis menyesalkan aksi perburuan hewan dilindungi itu karena akan merugikan eksosistem alam apalagi di buru di TNGL.

"Aparat berwenang harus menangkap pelakunya dan proses secara hukum yang berlaku yakni UU No 5/1990," kata keduanya secara terpisah di Tapaktuan, Senin (18/2).

Menurut meraka, aksi perburuan di Aceh Selatan belakangan ini bukan hanya terhadap burung enggang, melainkan landak dan tringgiling setelah sebelumnya juga berlangsung perburuan di Danau Laut Bangko Kecamatan Bakongan Aceh Selatan atas penyu danau dan air tawar.

Jumat, 08 Februari 2013

Pengamen Dianaiaya Dituding Mencuri Burung

Dituding Curi Burung, Pengamen Dianiaya

Susanto, pengamen di Wonogiri, Jawa Tengah, diduga mengalami penyiksaan saat diperiksa polisi dari kantor Kepolisian Sektor Selogiri. Dia harus dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Wonogiri karena tubuhnya lemah setelah dua hari ditahan polisi. 


Menurut Susanto, dia ditangkap awal pekan ini saat sedang mangkal di halte utara alun-alun Wonogiri. Dia dituduh ikut serta dalam pencurian burung jenis lovebird bersama dua orang lainnya, Totok dan Angga. "Saya memang kenal Angga karena dia seringngamen bersama saya," katanya. Namun dia mengaku belum mengenal Totok.


Di kantor tersebut, Susanto dipaksa untuk mengakui bahwa dia juga terlibat dalam kasus pencurian burung bersama dua orang tersebut. "Saya tidak mau mengakui karena memang tidak berbuat," katanya. Sikapnya tersebut membuat polisi marah kemudian menyiksanya.


Menurut Susanto, dia sempat dipukuli selama diperiksa dua hari. Penganiayaan itu menyisakan luka di lehernya akibat dicekik dengan tali. "Saya sudah tidak ingat lagi berapa orang yang menganiaya saya," kata Susanto. Dia juga mengaku sempat disengat dengan peralatan listrik.


Setelah dua hari berada di polsek, Susanto akhirnya dibawa ke Kepolisian Resor Wonogiri. "Di tempat tersebut sudah tidak ada lagi pemukulan," katanya. Bahkan, dia akhirnya dilepas lantaran tidak ada bukti keterlibatannya dalam pencurian burung.


Setelah dilepas, rekan-rekannya sesama pengamen langsung membawanya ke rumah sakit lantaran kondisi tubuhnya sangat lemah. "Tidak ada pengobatan selama berada di kepolisian," katanya.


Kepala Seksi Pelayanan Medik RSUD Wonogiri, Adhi Darma, mengatakan bahwa Susanto menderita patah tulang di bagian kelingking. Selain itu, dokter juga menemukan luka bekas cekikan di leher. "Kami sedang melakukan observasi untuk kemungkinan adanya luka dalam," katanya. Kemungkinan Susanto menderita luka di sistem saluran kencing. 


Sebab, Susanto juga mengeluh bahwa air seninya bercampur dengan darah.
Sedangkan Kepala Polres Wonogiri, Ajun Komisaris Besar Tanti Septiyani, belum bisa berkomentar mengenai kasus tersebut. "Saya masih berada di Semarang," katanya saat dihubungi. Dia juga mengaku belum mendapat laporan tentang kasus tersebut.-tempo

Jumat, 11 Januari 2013

Gereja Melambung, Pleci Tak Tergeserkan

http://yenpiaopiao.files.wordpress.com/2011/11/image5.jpg

Gudang Burung - Memang belakangan popularitas gereja di kalangan penjual serta penghobi burung makin dicari sebagai bahan masteran ataupun burung isian.Burung ini sekarang lebih dicari karena burung ini selain memliki daya tahan yang bagus,juga karena harganya yang murah dan mudah ditemui.

Sekarang harga satu ekor burung gereja berkisar antara Rp. 5.000 - Rp. 10.000,sedangkan harga satu ekor pleci mencapai Rp.15.000 - Rp. 25.000,dari segi harga memang harga gereja lebih terjangkau dan lebih dipilih oleh para pemaster burung kicau.

http://yenpiaopiao.files.wordpress.com/2011/11/image3.jpg

Gereja dapat dijadikan isian,begitu juga dengan burung pleci.Memang,konsistensi gereja semakin hari semakin menanjak,dan hal itu belum mampu menggoyahkan konsistensi dan popularitas burung pleci.Mungkin karena belum sering adanya lomba bagi para burung gereja.

Walaupun ada tetapi peminatnya hanya sedikit,karena dianggap hanya sebelah mata saja.Tapi apabila sudah sering diadakan lomba burung gereja,bersiap-siaplah bagi yang memiliki burung gereja bersenang ria karena mungkin harga burung gereja juga meroket seperti pleci.

Migrasi Burung Layang-Layang

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEieorNprwvuVLgCfMJjH-u4Fwt1tVhGi9jzmlB2Bh0tNxSY0nkgjrv0MvAy19lyzmhr2EqlDefuDRYqLLKTPziyoVl3sZre8DRjgLzoZWhV7k5BCAFjmEVbay2gX2xe2Ca75DGRWQinIqE/s1600/Layang-layang+1.jpg

Setiap tahun, masyarakat kota Bandung berkesempatan melihat fenomena migrasi burung layang-layang asia (Hirundo rustica). Burung ini berasal dari Jepang dan bermigrasi memasuki bulan September dan Oktober.

"Namun puncak kedatangan burung burung migrasi itu Desember. Januari, burung layang-layang api sudah berkurang,  dan balik pada Maret hingga April," kata Abdul Rahman Hafif, Koordinator Program Birds Conservation Society (Bicons) seperti dilansir dari Mongabay Indonesia, Rabu (2/1/2012).

Burung layang-layang asia memiliki morfologi tubuh sekitar 15 hingga 20 sentimeter. Warna biru metalik pada bagian dorsal, putih pada ventral, garis biru di dada, dan warna orange hingga merah di bagian dagu. Burung jenis ini memiliki ekor cagak agak dalam berbentuk V, dan hidup berkelompok.

"Tahun ini, sekitar 2.581 ekor burung pindah ke Mohammad Toha (nama jalan di Bandung). Uniknya, kedatangan mereka selalu di tempat dan waktu yang sama," tambah Hafif.

Disebutkannya lagi, burung-burung ini terpisah dalam beberapa kelompok pada pagi hari dan terbang ke arah berlainan untuk mencari pakan. Namun saat senja, mereka kembali berkumpul di tempat yang sama, berakrobat lalu kembali menempati pohon yang sama.



 http://un2kmu.files.wordpress.com/2010/04/birdlove7.jpg?w=490

"Kita belum tahu persis kenapa lokasi persinggahan burung ini di situ terus. Kita sedang meneliti faktor apa yang menjadikan tempat itu dijadikan persinggahan," kata Gema Ikrar, Manager Sistem Pengolahan Informasi Bicons.

Habitat paling umum tempat singgah burung ini biasa di kabel listrik. Pemandangan ini bisa dilihat di kawasan Ciranjang-Cianjur, yang juga tempat migrasi burung ini. Di sana, mereka terlihat rapi berjajar di sepanjang aliran kabel listrik seperti berbaris.

Sementara di Kalimantan, burung-burung ini menempati rangkai bangunan pabrik."Kesimpulan sementara, habitat umum biasa selalu ditentukan keberadaan pakan. Di lokasi itu mungkin banyak serangga karena pakan yang dikonsumsi burung itu serangga," ucap Gema.-kompas

Selasa, 08 Januari 2013

Kembali Ditemukan


Petugas Bea & Cukai Bandara Soekarno-Hatta berhasil menggagalkan upaya penyelundupan ekspor paruh burung Enggang yang merupakan binatang dilindungi. Paruh burung Enggang sebanyak 248 psc tersebut bernilai Rp 1.002.800.000. 


Paruh burung ini dibawa sebagai barang bawaan penumpang dengan pelaku sebanyak empat orang yang berasal dari China, yang berinisial YZ, LZ, WQ dan LB.

Penyelundupan itu dilakukan pada Kamis (3/1) lalu pukul 23.00 WIB. Petugas yang mendapati informasi tersebut segera menindaklanjutinya, dengan memeriksa keempat WN China berserta barang bawaannya yang berangkat dengan pesawat China Airlines dengan nomor penerbangan CI-678 tujuan Hongkong di Terminal 2D. Selain membawa paruh burung, petugas juga mendapati pelaku membawa kulit sisik trenggiling sebanyak 189 buah.

"Penumpang berinisial LB kedapatan membawa 83 pcs paruh burung Enggang, WQ membawa 36 keping kulit trenggiling. Sedangkan LZ membawa 87 pcs paruh burung Enggang gading dan 80 keping kulit trenggiling. Tersangka terakhir YZ membawa 78 pcs paruh burung Enggang gading dan 73 keping kulit Trenggiling," ujar Kepala Kantor Bea dan Cukai Bandara Soekarno-Hatta, Oza Olavia, Jumat (4/1/2013)

Berdasarkan peraturan RI No 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, diketahui bahwa burung Enggang gading dan trenggiling merupakan satwa yang dilindungi dan termasuk apendik 1.

"Jadi pelaku melanggar Undang-undang No 17/2006 tentang kepabeanan paling lama 10 tahun atau pidana denda paling sedikit Rp 50 juta," ujar Oza, seraya menduga barang tersebut berasal dari Kalimantan. Pelaku kemudian diserahkan kepada penyidik Balai Konservasi Sumber Daya Alam DKI Jakarta.

Penemuan Fosil Burung Aneh


Burung masa kini memiliki variasi paruh untuk menyesuaikan diri dengan jenis makanannya. Tak disangka, di masa lalu, burung menyesuaikan diri tak cuma dengan paruh, tetapi juga dengan variasi gigi.

Ilmuwan baru saja mengungkap adanya spesies burung yang mengembangkan karakteristik gigi khusus untuk menyesuaikan diri dengan mangsanya. Ilmuwan mempelajari fosil dari jenis Sulcavis geeorum. Hasil studi dipublikasikan di Journal of Vetebraate Paleontology. 

Menurut hasil studi itu, S. geeorum mengembangkan gigi untuk dapat memangsa hewan yang memiliki skeleton luar, seperti serangga dan kepiting. Gigi spesies tersebut memiliki ornamen, alur di bagian permukaan dalam untuk memudahkan melumat hewan yang keras. 


S. geeorum adalah jenis burung enantiornithine, jenis burung yang paling banyak jumlahnya di masa Mesozoikum atau masa kejayaan Dinosaurus, sekitar 121-125 juta tahun lalu. Fosil burung tersebut ditemukan di provinsi Liaoning, China.

Jingmai O'Connor, pimpinan penelitian ini, S. geeorum adalah fosil pertama burung dengan gigi berornamen. "Sementara burung lain kehilangan gigi, enantiornithines mengalami evolusi morfologi baru dan spesialisasi gigi," katanya.

"Kami masih belum memahami mengapa enantiornithines yang begitu sukses di masa Cretaceous itu lenyap. Mungkin diet yang berbeda turut berperan," tambahnya seperti dikutip Physorg, Senin (7/1/2013).

Studi ini menunjukkan betapa beragamnya burung pada masa Cretaceous. Ada lebih banyak lagi golongan burung enantiornithines pada masa tersebut, melebihi golongan burung lainnya.-kompas