Tampilkan postingan dengan label Burung Langka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Burung Langka. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 November 2013

Duh, Malangnya nasibmu Nuru Talaud


Gudang BurungUnit Buru Sergap (Buser) Polres Talaud, Sulawesi Utara, menggagalkan upaya penyelundupan burung nuri talaud (Eos histrio talautensis) dari Talaud ke Filipina, Rabu (13/11/2013).

Upaya penyelundupan tersebut terbongkar setelah warga Desa Bowombaru, Kecamatan Melonguane Timur, Kabupaten Talaud, melaporkan Ismail Gan (34), pria asal Filipina yang menampung ratusan satwa yang dilindungi tersebut di sebuah rumah. Warga curiga pelaku membeli burung nuri tersebut dalam jumlah yang banyak di Desa Bengel, Kecamatan Beo. 

"Ratusan burung itu ditaruh dalam keranjang dan tubuh mereka disiram dengan air gula agar tidak bisa mengeluarkan suara," ujar Richter, warga Beo. 

Kepala Polres Talaud AKBP Budi Meidianto mengatakan, pihaknya telah melakukan penyitaan terhadap burung-burung tersebut. "Kami menerima laporan dari warga, dan setelah kami cek di tempat kejadian ternyata benar. Pelaku sudah ditahan dan akan diproses dan barang buktinya kami sita untuk selanjutnya akan dikoordinasikan dengan BKSDA (Badan Koordinasi Sumber Daya Alam) Provinsi Sulut," ujar Meidianto. 

Nuri talaud merupakan salah satu dari jenis burung yang terancam punah. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999, serta ketentuan internasional dalam Appendix I CITES ditegaskan bahwa Nuri Talaud tidak boleh diperdagangkan antarnegara. 

Menurut keterangan beberapa sumber, nuri talaud sudah diselundupkan ke Tawao dan Filipina sejak tahun 1960 bersama pala, kopra, dan cengkeh. Pada tahun 1990-an, penyelundupan burung nuri menjadi usaha sampingan para nelayan Filipina yang banyak melakukan penangkapan ikan secara ilegal di perairan Indonesia untuk dipasok ke General Santos Filipina.

Maraknya perdagangan gelap itu terjadi akibat lemahnya pengawasan oleh institusi penegak hukum, serta pemerintah daerah setempat. Para nelayan Filipina biasanya membeli nuri talaud dari penduduk dengan harga Rp 25.000 hingga Rp 50.000 per ekor. Perdagangan juga bisa dilakukan dengan sistem barter, yakni ditukar dengan panci aluminium, penggorengan, sangkur, dan minuman keras. Adapun para nelayan setiba di Filipina akan menjualnya kembali dengan harga hingga Rp 1 juta per ekor. 

Berdasarkan laporan investigasi Yayasan Sampiri, perdagangan nuri talaud masih berlangsung hingga saat ini. Dengan kalkulasi kasar berdasarkan hasil investigasi Yayasan Sampiri, total burung nuri talaud yang diperdagangkan di tiga kampung yang menjadi basis penangkapan selama periode 8 tahun terakhir adalah 6.480 ekor, atau rata-rata sekitar 810 ekor per tahun. 

Pemerintah sebenarnya telah berusaha menjaga kelestarian hewan-hewan langka tersebut, antara lain dengan menetapkan kawasan hutan konservasi di Kepulauan Sangihe, Talaud. Di Pulau Sangir Besar, tak kurang 3.549 hektar areal dijadikan Hutan Lindung Sahendaruman, sementara di Pulau Karakelang sekitar 24.669 hektar dijadikan Suaka Margasatwa Karakelang, dan 9.000 hektar sebagai areal hutan lindung. Sayangnya, keberadaan hutan konservasi tersebut sangat rentan akibat maraknya perambahan hutan, pencurian kayu, perburuan dan perdagangan satwa liar, serta pencemaran lingkungan.

Senin, 11 November 2013

Memburu Si Burung Pantai Yang Langka


Gudang BurungIngin mengulang kesempatan yang pernah terjadi tahun lalu, Kelompok Pengamat Burung (KPB) Bionic UNY menggelar Festival Burung Pantai 2013. Dengan mengambil spot pengamatan di Pantai Trisik, Kulonprogo, para peserta pengamatan berharap bisa melihat keberadaan burung-burung langka.


"Pantai Trisik merupakan tempat persinggahan burung-burung pantai yang melakukan migrasi akibat pergantian musim. Ada beberapa zona yang dapat dijadikan titik pengamatan monitoring burung pantai di Pantai Trisik, yakni persawahan, laguna, delta dan pantai," ujar Anggota KPB Bionic UNY Puspa Hening, Selasa (29/10/2013).

Puspa menjelaskan, pada festival tahun lalu, para peserta sempat dibuat takjub dengan munculnya burung jenis Pectoral Sandpiper (Calidris melanotos). Pectoral Sandpiper pernah tercatat di Delta Muara Sungai Progo. Dan kesempatan langka tersebut kembali mampu memuaskan para peserta karena burung dengan jenis yang sama muncul di lokasi yang sama.

"Belum pernah ada catatan lain mengenai lokasi kemunculan burung pantai ini di Pulau Jawa, bahkan mungkin di Indonesia. Boleh jadi ini merupakan sebuah keberuntungan bagi pengamat burung di Trisik karena dapat menyaksikan burung yang belum ditemukan di belahan kepulauan nusantara yang lain," imbuhnya.

Berbekal monokuler dan binokuler, para peserta melakukan pengamatan. Di areal persawahan yang belum ditanami padi, cukup banyak ditemui jenis Biru Laut Ekor Hitam (Limosa Limosa), sedangkan pada areal yang sudah menghijau terdapat sedikit Kedidi Leher Merah (Red-neck Stint/Calidris ruficollis) yang berlalu-lalang di sela-sela tanaman padi.

Melangkah ke selatan areal persawahan, terdapat beberapa Cerek Jawa (Charadrius javanicus) dan Trinil Semak (Tringa glareola).

"Di spot laguna hanya Kuntul Besar yang tampak, sedangkan di zona pantai dari kejauhan kami menangkap sekawanan Kedidi Putih mendominasi wilayah ini bersama Cerek Besar," ungkapnya.

"Untuk pengamatan di delta Muara Sungai Progo, yang tampak ialah burung pantai dari famili Trinil-Trinilan (Scolopacidae) seperti Trinil Pembalik Batu (Ruddy Turnstone/Arenaria interpres), Trinil Kaki Merah (Tringa totanus) dan Trinil Kaki Hijau (Tringa nebularia)," tambahnya.

Anggota KPB Bionic UNY lainnya Nizzar Fachry menuturkan, melalui kegiatan pengamatan burung, para peserta mampu lebih memahami kenekaragaman hayati dan konservasi dengan cara pengamatan burung. Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki banyak manfaat sekaligus menyenangkan.

Senin, 21 Oktober 2013

Terkikisnya Hutan Sumba Juga Mengikis Keberadaan Julang Sumba


Gudang BurungKondisi hutan primer di di Pulau Sumba, NusaTenggara Timur kini semakin berkurang. Data Dirjen Planologi Kehutanan tahun 2009 silam menyatakan bahwa hutan primer hanya tersisa sekitar 4,5% dari keseluruhan daratan. Sementara, ketika pertama kali dipetakan tahun 1927 silam, hutan primer di kawasan ini tahun 1927, wilayah hutan primer mencapai 55%.

Sebagai salah satu kawasan utama burung endemik kawasan Wallacea, hal ini memberi dampak signifikan terhadap kelangsungan hidup berbagai jenis burung di pulau ini. Jenis paruh bengkok atau kelompok burung yang masuk dalam keluarga Psittacidae misalnya, pergerakannya menjadi semakin sempit karena habitatnya mengecil. Sebut saja perkici pelangi (Trichoglossus haematodus fortis), kakatua sumba, nuri bayan (Eclectus roratus cornelia), nuri pipi-merah (Geoffroyus geoffroyi floresianus) dan betet-kelapa paruh-besar (Tanygnathus megalorynchos sumbensis).
Hal serupa juga terjadi dengan gemak sumba (Turnix everetti), yang sudah tentu endemik Sumba. Hidup burung berbulu punggung merah-karat dan putih ini terancam akibat habitat alaminya berupa semak dan padang rumput terbakar.
Terkait hal ini, salah satu lembaga yang bergerak di bidang pelestarian berbagai jenis burung di tanah air, Burung Indonesia menempatkan Sumba sebagai salah satu lokasi utama proyek kerja mereka. “Sumba merupakan daerah yang sangat penting bagi burung. Burung Indonesia telah bergiat di Sumba sejak 1992” ungkap Ani Mardiastuti, Ketua Dewan Burung Indonesia, pada acara Merayakan Keragaman Burung di Indonesia, di Anakalang, Sumba Tengah tanggal 18 Oktober 2013 silam dalam rilis mereka.
Ani menjelaskan, kegiatan pelestarian burung kakatua sumba, penyelesaian tata batas seluruh desa yang berbatasan dengan Taman Nasional Manupeu Tanadaru, dan kurikulum muatan lokal “Hutan dan Burung di Pulau Sumba” merupakan wujud nyata kerja Burung Indonesia di Sumba. “Dukungan masyarakat Sumba dan seluruh masyarakat Indonesia sangat dibutuhkan dalam upaya pelestarian seluruh jenis burung dan habitatnya di Indonesia” jelas Ani.
Pulau Sumba adalah salah satu dari 23 Daerah Burung Endemik di Indonesia. Sumba juga memiliki enam Daerah Penting bagi Burung (DPB) yang dua diantaranya berstatus taman nasional: Taman Nasional Laiwangi Wanggameti dan Taman Nasional Manupeu Tanadaru. Sementara, empat DPB lainnya berstatus hutan lindung.
Laporan White & Bruce (1986) menyebutkan, sejarah eksplorasi ortnithologi di Sumba telah dimulai akhir abad ke-19 kala H.F.C. Ten Kate (1891-1892) mengunjungi Sumba dan beberapa pulau lain di Nusa Tenggara. Tak lama kemudian, tahun 1896, A.H. Everett yang menjenguk pulau ini.
Eksplorasi ini dilanjutkan oleh K.W. Dammerman tahun 1925. Kemudian G.H.W. Stein pada 1932, dan E.R. Sutter yang mengadakan ekspedisi khusus pada 1949. Terakhir, catatan White & Bruce mengungkapkan bahwa eksplorasi dilakukan oleh Food and Agriculture Organization (FAO)/United Nations Development Programme (UNDP) tahun 1979.
Sementara, informasi berupa catatan hasil kunjungan ke Sumba mulai ada pada dekade 1980-an. Umumnya berupa kegiatan di daerah Lewa, Luku Melolo, Panapa, Manupeu, maupun daerah-daerah pesisir pulau. Penelitian jenis tunggal seperti julang sumba (Aceros everetti) atau kakatua sumba (Cacatua sulphurea citrinocristata) mulai intensif dilakukan di penghujung 90-an. Tak ayal, keunikan burung yang ada di Sumba ini, membuat para pengamat burung dunia ingin langsung melihatnya.

Jumat, 11 Oktober 2013

Horned Sungem ( Heliactin cornutus )



Gudang BurungBurung Horned Sungem merupakan satu-satunya wakil dari genus Heliactin. Burung ini masih termasuk kedalam spesies burung hummingbirdyang terkenal dengan badannya yang super mungil. Nama ilmiah burung ini "bilophus" terkadang merujuk pada nomen oblitum. Sehingga ada yang mengatakan kalau burung ini akan lebih tepat jika diberi nama ilmiah Heliactin cornutus.

Burung yang betina memiliki warna hijau di bagian atas dengan warna putih bersih pada bagian bawah badan. Burung jantan memiliki mahkota indah berwarna biru dengan semacam bulu yang membentuk seperti tanduk (horn) di bagian kepalanya yang berwarna merah, biru dan emas. Burung jantan juga memiliki satu bulu ekor yang memanjang.

Burung Horned Sungem terkenal sebagai burung dengan kepakan sayap tercepat di dunia. Dalam satu menit, burung Horned Sungem ini dilaporkan mampu mengepakkan sayapnya sebanyak 10.000 kali. Anda tidak akan mampu melihat pergerakan sayapnya dengan mata telanjang.


Habitat burung horned sungem adalah di daerah semi terbuka atau terbuka yang kering seperti daerah padang rumput (savanna) dan cerrado, serta cenderung menghindari hutan-hutan yang lembab. Daerah penyebaran burung horned sungem yaitu di Bolivia, Brasil, dan Suriname.

Menurut Red List IUCN, populasi burung horned sungeberada pada status "Resiko Rendah (LC)".

Rabu, 09 Oktober 2013

Poʻouli ( Melamprosops phaiosoma )



Gudang Burung - Poʻouli atau Black-faced Honeycreeper memiliki nama latin Melamprosops phaiosoma. Burung ini adalah burung endemik Hawaii. Burung ini merupakan bagian dari subfamily Drepanidinae (Hawaiian honeycreeper) dan merupakan satu-satunya anggota dari genus Melamprosops.

Burung Poʻouli memiliki bulu berwarna cokelat pada bagian atas, putih keabuan di bagian bawah, dan area wajah berwarna hitam. Untuk yang sudah dewasa, terdapat bagian berwarna silver keabuan atas bagian wajah yang berwarna hitam. Untuk burung Poʻouli yang masih remaja, penampilannya nyaris sama. Yang membedakan adalah warna hitam pada bagian wajahnya lebih kecil, dan pada bagian atas wajah tidak ada warna abu-abu.

Burung Poʻouli baru diidentifikasi pada tahun 1973 oleh siswa dari University of Hawaiʻi, yang menemukan burung ini di bagian Timur Laut Haleakala di Pulau Maui. Burung ini ditemukan selama dilakukan proyek Hana Rainforest pada ketinggian 1.980 m di atas permukaan laut.


Poʻouli merupakan spesies pertama dari Hawaiian Honeycreeper yang sudah dicari sejak tahun 1923. Burung jenis ini tidak memiliki kemiripan dengan burung-burung Hawaii lainnya. Berdasarkan penelitian DNA, ditemukan bahwa burung ini memiliki hubungan dengan honeycreeperspurba. Konon tidak ada satu pun burung di dunia ini--- baik yang sudah punah atau yang masih eksis--- yang memiliki struktur mirip dengan burung Poʻouli ini.

Makanan burung Poʻouli antara lain siput, serangga, dan laba-laba. Sementara Habitat asli burung Poʻouli ini hanyalah di hutan ‘ōhi‘a lehua(Metrosideros polymorpha).

Sejak tahun 2004, dilakukanlah sebuah survey yang sangat ekstensive  untuk menentukan berapa jumlah burung jenis ini yang masih hidup di dunia. Namun tidak ada hasil. Meskipun demikian, BirdLife International dan IUCN menetapkan bahwa populasi burung ini masih berada pada status "Kritis (CE)", hingga baru-baru ini dikabarkan bahwa burung jenis ini benar-benar sudah punah.

Banyak faktor yang diduga menjadi penyebab menurunnya populasi burung Poʻouli secara drastis. Diantaranya adalah hilangnya habitat, menjangkitnya penyakit yang disebarkan oleh nyamuk, dimangsa oleh babi, hewan pengerat, kucing, dan juga musang kecil Asia, serta menurunnya jumlah siput pohon yang merupakan makanan utama burung Poʻouli.

Rabu, 02 Oktober 2013

Kisah Pemburu Rangkong di Belahan Utara Kalimantan Timur


Gudang Burung Kampung Merasa adalah salah satu dari ribuan kampung di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Kampung yang terletak  di Kecamatan Kelay, dan dipadati sekitar 1000 jiwa ini, berdiri sejajar dengan salah satu sungai utama yang bernama sama, Sungai Kelay. Nyaris semua aktivitas penduduk desa ini, tidak terlepas dari aliran sungai ini.

Bentangan alam yang indah serta hutan yang masih terlihat rapat di kawasan tersebut, menjadi rumah bagi keragaman hayati di dalamnya. Namun, seperti nasib banyak hutan lain di Indonesia, tangan-tangan jahil pun terus mengintai untuk mengekspolitasinya. Ratusan spesies mamalia, burung dan reptil hidup sebagai bagian dari sebuah rantai ekosistem di hutan ini. Burung Rangkong Badak (Buceros Rhinoceros) adalah salah satu spesies yang mudah ditemui di kawasan ini.
Burung yang memiliki jambul paruh berwarna merah tersebut, sejak tahun 2012 silam semakin marak diincar para pembeli dari luar negeri. Hal ini seperti disampaikan oleh Kepala Kampung Merasa, Effendi. “Warga kampung beberapa bulan lalu sering melakukan perburuan burung rangkong itu, karena banyak permintaan dan harganya cukup tinggi. Yang beli orang dari luar negeri, tapi lewat pengepul,” kata Effendi yang ditemui beberapa waktu lalu di Kampung Merasa.
Seiring ramainya perburuan rangkong di kampung Merasa, harga kepala rangkong pun meroket mencapai jutaan rupiah. Penduduk kampung yang mayoritas hidup dari berburu, mencari kayu gaharu  dan petani itu, sejak awal tahun ini semakin sering melakukan perburuan terhadap burung yang dilindungi tersebut.
Menurut Effendi, sebagai kepala kampung yang juga pernah mengikuti perburuan rangkong tersebut, setiap subuh, ia bersama para penduduk telah memasuki hutan yang ada di belakang kampung, bahkan ia bergerak bersama penduduk menyusuri sungai Kelay, untuk mencari lokasi dimana burung yang sering berkelompok tersebut bertengger.
“Saya waktu itu mendengar besarnya permintaan kepala burung rangkong itu. Bersama-sama penduduk kampung kami melakukan perburuan sejak subuh, kami ada yang membawa sumpit, ada yang membawa sejata rakitan, masuk ke hutan di belakang kampung, bahkan kami juga mencari dengan menyusuri sungai,” kata Effendi.
 “Kalau sudah dapat burungnya, kami langsung potong di tempat, kadang dagingnya kami makan, kepalanya kami simpan, kadang kami tinggalkan begitu saja. Kami kalau berburu bisa berhari-hari, bisa dua hari bahkan tiga hari. Sekali berburu bisa dapat tiga sampai empat ekor. Burung ini kadang berkelompok dan selalu berpasangan.”
Setelah kembali ke kampung, para pemburu tersebut mulai mengumpulkan hasil buruannnya. Lalu mereka menghubungi perantara pembeli untuk mengambil barangnya. Harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Burung enggang ini sempat menjadi primadona di kampung Merasa, namun saat ini aktivitas perburuan sudah terhenti.
Saat ini, permintaan anjlok dan harga semakin jatuh. Harga setiap paruh bahkan hanya mencapai Rp 100 ribu rupiah perkepalanya. “Kami saat ini sudah tidak lagi melakukan perburuan, karena harganya yang jatuh, bahkan hanya sampai ratusan ribu, tidak sesuai dengan biaya yang kami keluarkan dan resiko yang kami tanggung bila melakukan perburan,” lanjut Effendi
Menurut Effendi, kepala rangkong badak ini digunakan sebagai obat dan ukiran. Biasanya peminatnya dari Negara China. “Kalau kepala rangkong yang sudah diukir pasti sangat mahal, lalu ada yang bilang juga bisa sebagai obat, tidak tahu bagaimana caranya,” tambah Effendi.
Dari data yang ada, Indonesia merupakan rumah bagi 13 jenis burung rangkong yang tersebar di hutan hujan tropis, tiga diantaranya bersifat endemik. Mayoritas, rangkong banyak ditemukan di daerah hutan dataran rendah hutan perbukitan (0 – 1000 m dpl). Di daerah pegunungan (> 1000 m dpl) rangkong sudah mulai jarang ditemukan. Pulau Sumatera menempati jumlah terbanyak dengan 9 jenis, di susul dengan Kalimantan dengan 8 jenis. mongabay

Jumat, 27 September 2013

400 Burung Hampir Diselundupkan ke Surabaya


Gudang BurungBalai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah menggagalkan upaya penyelundupan 400 burung dilindungi jenis kacer, muray batu, dan cucak hijau dari Palangkaraya.

Sebanyak 400 burung itu akan dibawa menuju Surabaya, Jawa Timur, dengan menggunakan pesawat terbang Lion Air, Jumat (27/9) pagi.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah (Kalteng) Gunawan saat memimpin penangkapan di Bandara Tjilik Riwut, Kota Palangkaraya, mengatakan informasi tentang penyelundupan burung yang akan dikirim tanpa dokumen atau ilegal itu telah lama diperoleh petugas. Namun belum terbukti kebenarannya.

"Baru pagi tadi kami mendapat informasi valid bahwa ada pengiriman burung. Kami langsung bergerak ke bandara dan ternyata informasi itu terbukti. Sebanyak 400 burung itu sudah disegel dan siap dikirim," katanya.

Gunawan menduga penyelundupan 400 burung yang dilindungi tersebut dilakukan tiga warga Kota Palangkaraya. Dua di antara terduga pelaku berinisial AS dan
U, sedangkan satu orang lainnya sedang diselidiki.

Burung-burung tersebut, ujarnya, telah disita untuk diselamatkan dan dijadikan barang bukti.


"Kami juga sedang menggali informasi dari para pelaku terkait penyelundupan burung dilindungi tersebut. Kami ingin mendapatkan siapa saja yang bermain di penyelundupan itu," kata Gunawan.

Ia mengatakan, BKSDA Kalteng akan melibatkan aparat kepolisian untuk menyelidiki penyelundupan burung, serta memproses hukum para pelakunya. Aturan yang digunakan untuk menjerat para penyelundup adalah Undang-Undang Nomor 25 tahun 1990 tentang Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem di Dalamnya. 

Kamis, 26 September 2013

Balai Karantina Gagalkan Penyelendupan Burung


Gudang BurungPetugas Balai Karantina Pertanian Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, menggagalkan pengiriman 420 ekor burung dengan tujuan Surabaya, Jawa Timur, Jumat (27/9/2013).

Ke-420 burung itu terdiri dari berbagai jenis, antara lain burung murai batu, kacer, dan cucak hijau. Burung-burung itu akan dikirim ke Surabaya, menggunakan jasa pengiriman barang milik salah satu maskapai penerbangan Bandara Tjilik Riwut.
Meskipun burung-burung itu tidak termasuk dalam daftar burung langka dilindungi, pengiriman dalam jumlah banyak melanggar Undang-undang nomor 16 tahun 1992 tentang karantina hewan dan tumbuhan.
Menurut staf Balai Karantina Pertanian bandara Tjilik Riwut, Agus, dalam UU Karantina diatur batasan pengiriman maksimal dua ekor. Modus yang digunakan pelaku dengan memalsukan izin pengiriman satwa dimana jenis dan jumlah satwa yang dikirim tidak sesuai.
"Ini jelas melanggar undang-undang nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati, beragam antara 3 atau lima tahun penjara," kata Gunawan, Pelaksana Harian Kepala BKSDA Kalteng.
Ketiga pelaku, masing-masing A, U, dan AS, akan dijerat dengan UU nomor 16 tahun 1992 tentang karantina hewan dan tumbuhan dan undang undang nomor 5 tahun 1990 tentang koservasi sumberdaya alam hayati dengan ancaman pidana lima tahun penjara.

Rabu, 04 September 2013

Mengenal Lebih Dekat dengan Si Cucak Biru


Gudang Burung  - Burung Cucak Biru ini memiliki ukuran agak besar, sekitar 24 sampai 27 cm panjang. Mata berwarna merah serta kelopak mata berwarna merah muda. Sang jantan berwarna biru laut cerah pada bulu atas, yang dikombinasikan dengan warna hitam dan bagian ujung ekor berwarna hitam. Sedangkan betina didominasi oleh warna biru muda. Sehingga mudah membedakan antara burung Cucak Biru jantan dan betina. 
Burung Cucak Biru dari genus Irena ini memiliki kerabat, yaitu:
  • Irena cyanogastra (Philippine Fairy-bluebird), berasal dari Filipina. Memiliki warna yang lebih gelap dari Irena puella
  • Irena cyanea malayensis, yang berasal dari Semenanjung Malaysia, dimana memiliki corak warna yang hampir sama dengan Irena puella, hanya memiliki ukuran tubuh sedikit berbeda.

Irena cyanogastra
Philippine Fairy-bluebird
Cucak Biru Filipina
Irena puella
Asian Fairy-bluebird
Cucak Biru Indonesia

Burung Cucak Biru, tersebar mulai dari Sri Lanka, India, kepulauan Andaman dan Nikobar, Asia Tenggara seperti diIndochina, Malaysia, Sumatera, Kalimantan, Jawa, Palawan Filipina, dan pulau-pulau terdekat yang lebih kecil. Burung ini berhabitat pada hutan cemara dari bukit-bukit dan dataran, tetapi di tempat lain itu biasa dalam berbagai jenis hutan lembab di dataran rendah hingga sekitar 300 sampai 1.600 m di atas permukaan laut.
Burung Cucak Biru dari species Irena puella, memiliki beberapa sub species, yaitu:
  • ssp puella, Latham, 1790 - India, China Selatan, Asia Tenggara termasuk Malaysia dan Vietnam.
  • ssp andamanica, Abdulali, 1964 - Kepulauan Andaman dan Nicobar.
  • ssp malayensis, F. Moore, 1854 - Malaysia.
  • ssp crinigera, Sharpe, 1877 - Indonesia di pulau Sumatra (kepulauan sebelah barat), Bangka, Belitung dan Borneo.
  • ssp turcosa, Walden, 1870 - Indonesia di pulau Jawa.
  • ssp tweeddalei, Sharpe, 1877 - Filipina Barat (Calamians, Palawan, Balabac).

Sedangkan Cucak Biru dari species Irena cyanogastra, terdiri dari:
  • ssp cyanogastra, Vigors, 1831 - Luzon, Polillo dan Catanduanes.
  • ssp ellae, Steere, 1890 - Samar, Leyte dan Bohol.
  • ssp hoogstraali, Rand, 1948 - Dinagat dan Mindanao.
  • ssp melanochlamys, Sharpe, 1877 - Basilan.
 
Bersarang pada ranting kecil di pohon yang tinggi, terkadang yang sudah berlumut. Jumlah telur biasanya sebanyak 2 butir berwarna putih kehijauan ditandai dengan corak warna coklat. 




Dalam pemeliharaan burung ini, tidak lah sulit, karena dengan perawatan biasa, cukup dengan buah-buahan setiap hari serta diselingi dengan jangkrik yang berukuran sedang sebanyak 2 ekor, dan juga kalau bisa mandi di keramba setiap pagi, dan menjemurnya sekitar 2 jam


Ini akan membuat burung ini rajin berkicau sepanjang hari. Burung ini menyukai suasana embun pagi, oleh karena itu alangkah baiknya apabila burung ini dikeluarkan pada pagi sekali.

Sabtu, 17 Agustus 2013

Nasib Burung Hantu Terbesar di Dunia Diujung Tanduk


Gudang BurungBurung hantu terbesar di dunia yang banyak hidup di Rusia, terancam punah. Berkurangnya populasi burung hantu turut menjadi indikator kesehatan hutan-hutan di Rusia. Pasalnya, berkurangnya spesies burung hantu disebabkan maraknya pembalakan yang terjadi di wilayah ini.
“Burung hantu Blakiston pemakan ikan ini merupakan indikator kesehatan hutan, sungai, dan juga populasi mangsa mereka, ikan salmon,” ujar Jonathan Slaght, seorang ahli biologi satwa liar di 
Wildlife Conservation Society kepada LiveScience, Jumat, 16 Agustus 2013.

Burung hantu yang bisa mencapai bobot 4,6 kilogram ini membutuhkan pohon-pohon besar yang menjadi penyokong kesehatan hutan Rusia. Jika populasi burung hantu menurun, ini menandakan pohon besar yang berkurang akibat pembalakan juga semakin banyak.




Para ilmuwan menemukan, baik populasi burung hantu maupun mangsanya, ikan salmon sangat bergantung pada pohon-pohon tua untuk berkembang biak dan makan. Pohon ini menyediakan rongga bersarang yang cukup besar untuk burung-burung. Dan, jika pohon mati, ia akan jatuh ke sungai di dekatnya. Pohon ini sangat penting bagi ikan salmon pada tahap yang berbeda dalam hidup mereka.

Namun, dalam beberapa dekade terakhir, penebangan dan kegiatan manusia lainnya telah menjadi ancaman bagi mereka. Penemuan baru menunjukkan, konservasi dan pengelolaan hutan primer sangat penting untuk mempertahankan populasi burung hantu dan ikan salmon, serta ikan trout, harimau siberia, beruang asia, dan babi hutan yangt juga hidup di sana.

Kamis, 01 Agustus 2013

Lebih Dekat dengan Kehidupan Kiwi


Gudang Burung - Burung kiwi merupakan salah satu ciri Selandia Baru. Salah satu atraksi wisata yang ditawarkan Selandia Baru adalah mengajak wisatawan untuk mengamati kehidupan burung kiwi yang memang banyak terdapat di salah satu wilayahnya.

Sudah sejak lama Selandia Baru menjadi rumah bagi ratusan spesies burung langka, reptil, serangga, dan pepohonan langka. Inilah salah satu tempat konservasi alam yang dimiliki Selandia Baru. Letaknya tak terlalu jauh dari pusat Kota wellington. Dengan berkendara, Anda dapat mencapainya hanya dalam 10 menit.
 
Zealandia Night Tour adalah salah satu jenis wisata yang ditawarkan di sini. Wisatawan akan diajak berjalan-jalan pada malam hari untuk mengamati kehidupan makhluk hidup yang dilestarikan di wilayah ini. Anda akan melihat burung beo serta mengamati burung kiwi yang sedang mencari makanan serta tempat tidur untuk beristirahat pada malam hari.

Senin, 29 Juli 2013

Biru Timur, SI Burung Terancam Punah


Gudang BurungBurung biru timur (Sialia sialis) telah lama hidup dan tinggal di pulau Bermuda, Inggris. Tak jarang banyak yang menganggap bahwa burung ini merupakan spesies asli Bermuda, bahkan beberapa sudah menjadikannya sebagai subspesies burung biru Bermuda (Sialia sialis bermudensis).

Sebuah studi genetik baru yang dipublikasikan dalam jurnal Molecular Ecology, menunjukkan bahwa burung biru (bluebird) ini bukan merupakan spesies asli Bermuda. Melainkan, mereka telah hijrah ke pulau ini setelah penduduk Eropa mengubah konsep wilayah Bermuda pada 400 tahun yang lalu.

Sebelum menetap di Bermuda pada 1609, tidak ada yang mengetahui darimana asal usul burung ini. Akan tetapi, perubahan habitat yang pesat dan munculnya predator-predator baru, menyebabkan spesies ini hampir mengalami kepunahan dalam tempo yang cukup cepat. 

Dilansir News-Republic, Selasa (9/4/2013), saat ini diketahui hanya ada tiga spesies burung bernyanyi (songbird) yang dianggap spesies asli Bermuda yakni bluebird, grey catbird, dan white-eyed vireo. Mereka umum ditemui di Pantai Timur Amerika Serikat (AS).




Namun, hingga saat ini belum pernah ditemukan fosil bluebirds di pulau Bermuda. Tidak ada pula tanda-tanda populasi yang berkembang biak di pulau-pulau terdekat sekitarnya. Hal ini menimbulkan pertanyaan di benak banyak peneliti mengenai darimana asal-usul burung ini.

Untuk mengukur seberapa erat kaitannya antara burung Bermuda dengan jenis burung-burung darat lainnya, peneliti membandingkan 12 urutan gen dari burung bluebirds yang tinggal di Bermuda, sepanjang pantai Timur AS, dan Midwest.

Hasilnya, peneliti menemukan burung Bermuda memiliki banyak varian gen dalam jumlah populasi yang sedikit. Burung-burung ini rupanya tidak berkembang biak ketika banyak orang mendiami pulau tersebut. 

Dengan kata lain, mereka bukan merupakan spesies asli seperti yang selama ini diperkirakan, melainkan mereka adalah pendatang yang kemudian menetap di pulau sekira 400 tahun yang lalu. Perubahan pemukiman oleh manusia dianggap telah membuka kantong habitat yang sebelumnya tidak tersedia. 

Senin, 17 Juni 2013

BKSDA Amankan 2 Merak dari Hotel di Blitar

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi0TImUgB4DuXZ0kxe2H7Jemgw7fYjtW4CIPrcL2crDGepXGCqrVk8RYIpMXnqkzWp-LN_wbby_lufrhyphenhyphenwgXMRtZfULxWMs56BGkcNMzhMEqMdxD-mr9Wa2CGlkv7Bp6c1jsBkBC1A0X-IJ/s400/merak+hijau3.jpg

Gudang Burung - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) mengamankan dua burung merak dewasa yang dipelihara di Hotel Danau Dariza kawasan objek wisata Cipanas, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Selasa.

Kepala Seksi BKSDA Wilayah V Garut, Teguh Setiawan mengatakan, merak betina dan jantan itu diamankan karena termasuk hewan dilindungi undang-undang yang dilarang dipelihara oleh masyarakat.

"Merak itu salah satu jenis hewan yang memang dilarang dipelihara karena dilindungi undang-undang," kata Teguh.

Penyitaan dua merak tersebut berlangsung lancar, pihak pengelola hotel secara sukarela menyerahkan kepada petugas BKSD Garut. Selanjutnya petugas membawa hewan yang termasuk jenis burung itu ke penampungan sementara Taman Satwa Cikumbulan, Kecamatan Kadungora, Garut.

Merak tersebut akan dirawat dan dilatih agar bisa mencari makan sendiri sebelum akhirnya dilepas ke hutan kawasan Cagar Alam, Kabupaten Pangandaran dengan pengawasan petugas BKSDA.

"Kita rawat dan latih dulu merak itu di Cikumbulan, karena khawatir kalau dilepas langsung ke hutan nantinya tidak bisa cari makan sendiri," katanya.

Sebelumnya BKSDA sudah beberapa kali mengamankan sejumlah hewan lindung yang dipelihara warga atau diperjual belikan di sejumlah tempat pasar hewan di Garut.

Hewan yang berhasil diamankan sebanyak 14 ekor diantaranya binatang reptil, beberapa jenis burung seperti burung berparuh bengkok, jalak, kemudian kucing hutan, siamang, landak, dan elang.

"Kami mengamankan hewan lindung itu berdasarkan Undang-Undang nomor 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya," kata Teguh.

Minggu, 02 Juni 2013

Mirisnya Keberadaan Elang Jawa

 http://www.kotajogja.com/images/upload/kotajogja-elang-jawa-220022013095530.JPG

Gudang Burung - Keberadaan Burung Elang Jawa atau dikenal sebagai Burung Garuda kini menyedihkan. Burung yang menjadi lambang negara Indonesia itu kini diambang kepunahan.

Saat ini, populasi burung yang memiliki nama latin Nisaetus Bartelsi itu tinggal sekira 200 ekor di Pulau Jawa. Sementara di hutan lerang Gunung Merapi hanya tertinggal lima ekor. Guna menambah populasi, seekor Burung Elang Jawa jantan dilepasliarkan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, pada 26 Februari 2012. Burung itu berhasil hidup di ekosistem aslinya di hutan lereng Gunung Merapi.

"Di Merapi ini populasi ada lima ekor dan ditambah satu ekor yang dilepas beberapa waktu lalu. Kalau kami katakan, upaya pelepas liaran burung dengan habitat asli hutan Merapi tersebut cukup berhasil. Dan saat ini burung tersebut berhasil hidup di kawasan Merapi," kata Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) Asep Nia Kurnia, Selasa (28/5).

Menurutnya, sepekan pascadilepaskan di lereng Merapi, Elang Jawa atau Nisaetus Bartelsi di kawasan TNGM Dusun Turgo, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman tersebut sempat kesulitan cari makanan. "Saat itu terpantau elang turun ke pemukiman warga dan sempat memangsa beberapa ekor ayam," katanya.

Ia mengatakan, namun setelah itu burung terpantau sudah kembali ke hutan Merapi dan tidak pernah turun lagi ke permukiman warga. "Burung tersebut berhasil hidup di hutan lereng Merapi. Untuk makanan sudah bisa berburu tikus hutan atau ular hutan," tuturnya menjelaskan.

Asep berharap burung Elang Jawa jantan yang berhasil dilepasliarkan tersebut dapat membantu mempercepat menambah populasi burung asli Merapi tersebut. "Sebelumnya populasi Elang Jawa di Merapi tinggal lima ekor, dan saat ini menjadi enam ekor. Kami akan terus memantau perkembangannya. Mudah-mudahan segera dapat membantu perkembangbiakan Elang Jawa lereng Merapi," ujarnya berharap.

Elang Jawa berjenis kelamin jantan tersebut telah menjalani rehabilitasi selama dua tahun di Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta (YKAY), Kabupaten Kulon Progo. Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Yogyakarta Ammy Nurwati mengatakan alasan pelepasan Elang Jawa di Lereng Merapi ini karena hutan wilayah ini memiliki karakter yang cocok untuk Elang Jawa.

"Selain itu alasan lain adalah di kawasan lereng Merapi ini terpantau ada Elang Jawa betina, sehingga diharapkan dapat membantu meningkatkan populasi," katanya mengakhiri.

Rabu, 15 Mei 2013

Langka dan Punahnya Burung Hantu di Lebak


Gudang Burung  - Populasi burung hantu (spesies elang) di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, diduga sudah punah karena selama kurun tiga tahun terakhir tidak ditemukan lagi di pohon-pohon besar.



"Kami tidak mendengar lagi suara merdu burung hantu di malam hari, karena populasinya sudah punah," kata Sahrul Sabar, warga Judan Desa Rangkasbitung Timur, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Senin (14/3/2011).

Sahrul mengatakan, menghilangnya burung hantu di Rangkasbitung akibat kerusakan hutan yang menjadi habitatnya. Saat ini, burung hantu yang tinggal di di pohon-pohon besar, seperti pemakaman warga maupun hutan desa sudah tidak ditemukan.

Burung hantu adalah kelompok burung yang merupakan anggota ordo strigiformes. Burung ini termasuk golongan burung buas (karnivora, pemakan daging) dan merupakan hewan malam (nokturnal).

"Dengan menghilangnya burung hantu itu tentu kita merugi karena tnaman padi petani sering diserang hama tikus. Tikur adalah salah satu makanan burung hantu," ujar Sahrul seorang pencinta burung hantu.

Menurut dia, pada 1980-1990-an suara merdu burung hantu di Rangkasbitung masih ditemukan, namun beberapa tahun terakhir menghilang. Burung hantu di tengah masyarakat masih dianggap sebagai pembawa tanda buruk, seperti akan terjadi musibah bencana alam atau kematian.

Nana (45) warga Kongsen Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, menyatakan, sekitar tahun 1970-an di Kota Rangkasbitung hampir setiap malam suara burung hantu saling bersahutan mulai pukul 21.00 sampai 40.00 WIB.

"Jika burung itu bersuara maka suasana kampung sepi dan merasa ketakutan pertanda akan terjadi bencana," katanya.

Menghilangnya burung hantu selain karena menepisnya bahan makanan akibat kerusakan hutan juga banyak pemburu liar yang menangkap dan menjualnya ke luar daerah.

Selasa, 14 Mei 2013

Burung Tiong ( Eurystomus orientalis )


Gudang Burung Tiong-lampu biasa adalah burung yang mempunyai paruh, berdarah panas, dan bereproduksi dengan cara bertelur. Ia mempunyai tompok bulat pada sayapnya. Tiong-lampu Biasa memiliki panjang 30 cm, dan dapat ditemukan di Asia Timur, dari Australia Utara hingga kepulauan Jepang. Burung ini memakan serangga dan sering menyambar mangsanya di udara.




Tiong-lampu biasa memiliki tubuh ukuran sedang (30 cm). Paruh merah lebar (remaja: hitam). Warna bulu keseluruhan abu-abu kebiruan gelap, kecuali kerongkongan biru terang. Sewaktu terbang terlihat bercak bulat biru muda yang kontras di tengah sayap. 


Iris coklat, paruh merah dengan ujung hitam, kaki merah-jingga. Duduk pada pohon mati di daerah terbuka. Terbang mengejar serangga atau menukik cepat ke tanah. Terbang mirip Cabak, mengepak-epak berat. Sarang berupa lubang pohon mati atau sarang Pelatuk. Telur berwarna putih, jumlah 2-3 butir dan berbiak bulan Juni.

Penyebaran burung ini : 
  • Asia Timur, Asia tenggara, Jepang, Filipina, Indonesia, Australia.
  • Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua.

Minggu, 07 April 2013

Populasi Maleo Meningkat

 http://image.metrotvnews.com/bank_images/actual/144109.jpg

Gudang Burung - Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Kotamobagu (TNBNW), Sulawesi Utara, berhasil melepasliarkan anak burung Maleo sebanyak 10.005 ekor ke habitat alaminya selama kurun waktu 13 tahun terakhir.


"Karena dilepaskan, populasi (burung maleo) meningkat. Sebelumnya, hanya satu ekor yang bertelur per hari, saat ini bisa empat hingga lima ekor yang datang untuk bertelur," kata Kepala Balai TNBNW Agustinus Rante Lembang usai siaran pers di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Jumat (5/4).

Sementara, polisi hutan sekaligus pengelola lokasi peneluran TNBNW, Max W Lela, mengatakan sesuai plakat yang dikeluarkan International Union for Conservation Nature (IUCN), Maleo (Macrocephalon maleo) masuk kategori 14 spesies yang terancam punah.

"Sebelumnya, populasi burung Maleo menurun dari 25 ribu ekor hingga enam ribu ekor akibat perburuan liar, pencarian telur, dan pengalihan fungsi hutan," kata Max.

Selain itu, tanpa upaya konservasi atau pengembangbiakan semialami ini, populasinya menurun akibat pemangsaan telur oleh manusia, biawak, ular sawah, anjing, dan babi hutan.

Pelepasliaran anak burung Maleo ke 10 ribu dilakukan oleh Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA), Darori, di TNBNW, pada 30 Maret lalu.

Selain itu, juga dilepasliarkan burung Rangkong--jenis endemik Sulawesi--, Perkici Dora, Kus Kus, dan tukik penyu Sisik di Taman Wisata Alam Batuputih, Bitung.

Sabtu, 09 Maret 2013

Dijual Bebas!

http://images01.olx.co.id/ui/3/68/08/1352160281_452746008_4-Kepodang-Emas-Jossss-Asli-Jawa-Dijual.jpg

Gudang Burung - Kepodang adalah burung berkicau (Passeriformes) yang mempunyai bulu yang indah dan juga terkenal sebagai burung pesolek yang selalu tampil cantik, rapi, dan bersih termasuk dalam membuat sarang. 


Kepodang merupakan salah satu jenis burung yang sulit dibedakan antara jantan dan betinanya berdasarkan bentuk fisiknya. Burung kepodang termasuk jenis burung kurungan karena dibeli oleh masyarakat sebagai penghias rumah, oleh karenanya burung ini masuk dalam komoditas perdagangan yang membuat populasinya semakin kecil.  

Burung ini dapat saya temui di pasar tradisional di kota saya, Klaten. pasti ada seorang pedagang yang menjualnya secara terbuka, dan itupun hanya 3 ekor saja.

Dengan membawa uang sekitar Rp. 2.500.000 anda dapat membawa pulang burung berwarna kuning cerah ini. Sungguh harga yang sangat murah untuk jenis burung yang dilindungi dan semakin langka keberadaannya ini.

Perlu adanya koordinasi antara pemerintah daerah serta pecinta satwa untuk melestarikan populasi burung ini. Atau kita tidak dapat melihat jenis burung ini lagi.  

Rabu, 27 Februari 2013

Habitat Maleo Terancam

  http://www.kutilang.or.id/wp-content/uploads/2013/01/Maleo-senkawor_Macrocephalon_maleo_ccl.jpg

Gudang Burung - Laju kerusakan hutan di Gorontalo yang mencapai hampir 4.000 hektar per tahun telah mengancam habitat burung maleo (Macrocephalon maleo). Populasi burung yang kini berstatus genting ini hanya sekitar 10.000 ekor saja di Gorontalo. Padahal, 15 tahun lalu jumlah burung endemik Sulawesi ini masih 25.000 ekor.


”Penyebab utama menurunnya populasi burung maleo adalah perambahan kawasan hutan dan pengambilan telur maleo oleh manusia. Tingginya laju kerusakan hutan di Gorontalo yang hampir 4.000 hektar per tahun telah mengganggu habitat maleo,” ujar Amsurya Warman, peneliti senior dari Burung Indonesia, organisasi nirlaba bidang pelestarian burung di Indonesia, Minggu (20/11), di Gorontalo.

Amsurya menambahkan, maleo sangat sensitif terhadap segala bentuk aktivitas di sekitar habitatnya. Jika ada aktivitas manusia di sekitar lokasi bertelurnya, maleo akan berusaha mencari lokasi baru untuk bertelur. Aktivitas seperti perambahan hutan adalah aktivitas manusia yang paling mengancam kelangsungan hidup maleo.

Umumnya, maleo bertelur di daratan yang hangat, seperti tanah berpasir dekat pantai atau di kawasan hutan. Suhu tanah yang cocok untuk peneluran maleo berkisar antara 32-34 derajat celsius. Lokasi peneluran maleo di Gorontalo masih bisa dijumpai di kawasan Cagar Alam Panua dan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.

Adapun total luas hutan di wilayah Provinsi Gorontalo, menurut data Dinas Kehutanan dan Pertambangan Provinsi Gorontalo, tercatat 800.000 hektar.Asisten Peneliti dari Wildlife Conservation Society (WCS), organisasi nirlaba bidang pelestarian kehidupan alam liar, di Gorontalo.

Usman, mengatakan, pada akhir tahun 1970-an masih mudah ditemukan maleo di Gorontalo. Bahkan, persebaran burung maleo ibarat ayam yang dibiarkan bebas berkeliaran di permukiman warga. Di awal 1980-an mulai terjadi perburuan telur maleo.

”Telur maleo saat itu dipakai untuk perlengkapan upacara adat warga. Seperti telah menjadi keharusan, setiap upacara adat harus ada telur burung maleo. Akibatnya, kebutuhan terhadap telur maleo menjadi tinggi sehingga mengancam kelestarian burung tersebut,” kata Usman.

Sejak 2003, WCS mulai serius menjaga kelestarian maleo di Gorontalo. Usaha tersebut berupa pemindahan telur maleo di alam liar ke lokasi peneluran buatan.Pemindahan ini bertujuan untuk menyelamatkan ancaman pemangsa, seperti ular atau biawak, yang kerap mengincar telur maleo di alam liar. Hingga delapan tahun terakhir berhasil di lepas sekitar 3.200 ekor anak maleo dari lokasi peneluran.

”Jika tidak kami pindahkan telur-telur tersebut ke lokasi peneluran buatan, tingkat keberhasilan telur maleo menetas dan anaknya selamat tak sampai 50 persen. Ancaman predator alami, terutama di dalam kawasan hutan, masih tinggi,” ujar Usman.

Maleo mulai bertelur pada usia tiga tahun dan dalam setahun bisa menghasilkan rata-rata 10 butir telur. Maleo mengubur telurnya di dalam lubang berkedalaman hingga 60 sentimeter.Agar tidak diganggu predator, maleo selalu membuat dua atau tiga lubang galian dan hanya satu lubang yang berisi telur. Telur maleo akan menetas setelah berusia rata-rata 60 hari.