Tampilkan postingan dengan label Sangkar Burung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sangkar Burung. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 November 2013

Bahan Baku Naik, Pengrajin Menjerit+



Gudang Burung - Sejumlah perajin sangkar burung di Desa Wirun, Kecamatan Kutoarjo, Purworejo mengaku kelabakan setelah harga bahan baku pabrikan naik. Kenaikan harga bahan pabrikan seperti lem, cat, kawat dan plastik itu terjadi sejak beberapa waktu lalu dan membuat perajin sempat mengurangi jumlah produksi. Bahkan, perajin pun terpaksa menaikan harga jual sangkar agar tidak mengalami kerugian.


Salah satu perajin, Sukirman (32) warga RT 02 RW 8 Desa Wirun, Kecamatan Kutoarjo mengatakan, kenaikan harga itu diantaranya harga cat naik dari Rp 30.000 menjadi Rp 35.000 per kaleng. Untuk harga plastik saat ini mencapai Rp 28.000 atau naik dari harga sebelumnya Rp 26.000. 

Sementara untuk harga lem saat ini mencapai Rp 12.000 atau naik dari harga sebelumnya Rp 10.000. 

"Sekarang semua bahan pabrikan naik," tuturnya saat dikonfirmasi, Senin (18/11).
Dia menjelaskan, untuk menutupi membengkaknya biaya produksi perajin pun terpaksa menaikan harga jual sangkar dari Rp 45.000 menjadi Rp 50.000 per buah. Pada tahap awal menaikan harga setor, perajin sempat mendapat protes dari para pembeli atau pengepul. 

Bahkan, tingkat penjualan relatif turun. Namun, sejak embeli memahami kondisi perajin, akhirnya pembeli itu mau mengambil produk perajin. "Waktu awal-awalnya menaikan harga, sempat terjadi ribut antara perajin dengan pembeli," katanya.

Perajin lain, Budiyono (35) mengatakan, selama ini perajin sangkar burung Desa Wirun menyuplai kebutuhan sejumlah pasar, diantaranya Pasar Magelang, Temanggung dan Purworejo. Jenis sangkar burung yang diproduksi terdiri atas berbagai macam. 

Namun, salah satu produk yang cukup dikenal adalah jenis sangkar burung perkutut. Kendati harga sangkar burung kini mengalami kenaikan, namun permintaan barang relatif stabil lantaran peminat burung saat ini sedang membaik. "Permintaan pasar stabil Mas. Hanya saja, memasuki musim hujan kali ini perajin mengalami kesulitan menjemur," ujarnya.

Kamis, 17 Oktober 2013

Tembus Pasar ASEAN Setelah Nyaris Bangkrut


Gudang Burung Nyaris gulung tikar akibat dari maraknya unggas khusus jenis burung kicau akibat flu burung yang melanda Indonesia maupun dunia internasional, kini pengrajin sangkar burung kicau di Dusun Botokan, Desa Argosari, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali bergairah untuk memproduksi sangkar burung jenis kicau.

Di Dusun Botokan ini hampir separuh penduduknya yang berjumlah sekitar 200 kepala keluarga menggantungkan hidupnya dari produksi sangkar burung kicau. Dari sekitar 200 kepala keluarga itu mereka bekerja secara berkelompok antara 5 hingga 10 orang dalam satu kelompok pengrajin sangkar burung kicau.

Meski sudah berupaya untuk menggenjot produksi sangkar burung, dengan asumsi setiap pengrajin dalam dua hari dapat menyelesaikan satu sangkar burung belum termasuk prosesfinishing-nya, kelompok pengrajin sangkar burung ini belum mampu untuk memenuhi permintaan dari pemesan.

“Kita bahkan sering mendapatkan titipan uang terlebih dahulu dari pembeli meski sangkar burung yang dipesannya belum jadi,” kata Sugito, salah seorang pengrajin sangkar burung kicau di Dusun Botokan, Desa Argodadi, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, DIY, Selasa, 12 Maret 2013

Sugito menceritakan, kerajinan sangkar burung kicau ini merupakan warisan turun-temurunan dari nenek moyang yang tinggal di Dusun Botokan dan diteruskan oleh keturunannya. Sehingga banyak masyarakat di Dusun Botokan ini tidak perlu lagi belajar jauh-jauh untuk merangkai sebuah sangkar burung kicau.

“Kerajinan sangkar burung kicau ini merupakan warisan dari nenek moyang sehingga tidak perlu jauh-jauh untuk belajar membuat sebuah sangkar burung kicau,” tandasnya

Sebelum tahun 1990, kata Sugito, bahan baku yang digunakan oleh para perajin sangkat burung kicau berasal dari rotan, namun karena bahan baku rotan semakin sulit didapatkan dan harganya juga mulai tidak terjangkau lagi oleh pengrajin, maka setelah tahun 1990-an, bahan baku yang digunakan untuk membuat sangkar burung kicau beralih ke bambu.

“Bahan baku bambu mudah diperoleh di sekitar kampung dan harganya relatif murah dan lebih tahan lama dibandingkan dengan bahan baku dari rotan,” paparnya

Ayah dari 3 anak ini mengaku pasar dari sangkar burung yang dipesan oleh pembeli tidak saja dikota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya dan kota-kota besar di luar Jawa, namun demikian ada juga pesanan sangkar burung kicau ini yang dijual hingga Negara Thailand.

“Untuk harga sangkar burung kicau yang standar berkisar antara Rp50.000 hingga Rp250.000, namun demikian untuk sangkar burung kicau yang istimewa atau dilengkapi dengan hiasan pada sangkar burungnya, harganya bisa mencapai R p.500.000,” tandasnya

Anggraito salah seorang pengrajin sangkar burung yang lainnya mengatakan, agar sangkar burung bertahan lama, maka bahan utama yaitu bambu terlebih dahulu dipotong-potong sesuai dengan ukuran dan kebutuhan. Selanjutnya bambu yang telah dipotong dibelah dan direndam dalam air dalam beberapa hari. 

Setelah itu, belahan bambu yang direndam dalam air diangkat dan dikeringkan. Selanjutnya belahan bambu itu diproses atau dibuat menjadi batangan bambu dengan ukuran sebesar lidi untuk pembuatan jeruji sangkar dan juga sebagian bahan bambu dibuat untuk kerangka sangkar burung kicau.

“Untuk membuat satu sangkar burung jadi belum termasuk proses finishing dibutuhkan waktu 2 hari,” katanya

Sedangkan untuk sangkar burung kicau yang istimewa dengan berbagai aksesoris dan pengecatan yang rumit, maka untuk membuat 2 hingga 3 sangkar burung kicau istimewa dibutuhkan waktu hingga 15 hari.

“Karena pengerjaannya sangat rumit dan butuh kesabaran maka waktu yang dibutuhkan cukup lama, bisa sampai setengah bulan untuk 2 hingga 3 sangkar burungkicau,” tandasnya

Lebih lanjut Anggraito mengatakan, masyarakat di dusun Botokan ini tetap mempertahakan kerajinan pembuatan sangkar burung ini dengan cara tradisional dan bukannya menggunakan alat pabrikan. Masyarakat lebih percaya dengan alat tradisional ini akan menjaga kualitas dari sangkar yang dihasilkan dan tidak terlalu membutuhkan biaya yang mahal untuk membeli mesin.

“Kualitas sangkar burung akan ditentukan oleh kesabaran dan keuletan serta kreatifitas dari masing-masing pengrajin,” kata dia.

Minggu, 25 November 2012

Mengenal Jenis Sangkar Burung


Bagi Anda para pehobi sejati terutama yang sangat menggemari memelihara burung, maka wajib hukumnya bagi Anda untuk mengenali berbagai jenis sangkar burung. Agar Anda tidak salah dalam menempatkan koleksi peliharaan burung-burung Anda.

Jenis Sangkar Burung - Fungsi Sangkar Burung

Tahukah Anda jenis sangkar burung? Memelihara burung tak lepas dari sangkarnya, karena sangkar dan isi termasuk burungnya merupakan sebuah keserasian yang enak dipandang.
Namun jarang sekali yang memiliki kesadaran akan pentingnya fungsi dari sangkar burung tersebut. Banyak orang yang beranggapan, memelihara dan menempatkan burung-burung peliharaan dapat dilakukan di mana saja.

Padahal sangat penting mengerti fungsi dari sangkar burung tersebut. Sangkar burung merupakan tempat untuk memelihara burung yang dapat mengakomodir semua kegiatan burung peliharaan. Baik dari hal makanannya, tempatnya bersarang apabila bertelur, bercengkrama dengan kelompok sosial  burung lainnya, serta tempat burung beristirahat.

Karena sifat burung yang suka terbang dan tak bisa dijinakkan begitu saja, juga menjadi alasan burung harus diberikan sangkar. Selain dari fungsi-fungsi sangkar burung yang telah disinggung tadi.
Berbagai Hal Tentang Burung

Di dunia penggemar burung ocehan maupun konkurs (penggemar burung perkutut), sangkar merupakan kebutuhan yang harus selalu diperhatikan. Sangkar burung yang representatif dan bersih, membuat burung menjadi betah dan sehat. Burung juga otomatis menjadi senang berkicau dengan sukacita.

Namun sebaliknya, apabila penggunaan sangkar yang tak tepat dan kurang representatif, dan juga tak dijaga kebersihan sangkarnya; sudah barang tentu akan mengundang penyakit bagi penghuninya. Akibatnya burung menjadi sakit-sakitan, tak suka makan dan akhirnya bisa mati. Bila ini terjadi yang rugi adalah Anda sendiri.
Karena itu cobalah untuk dengan bijaksana menyayangi, memberdayakan dan merawat burung Anda sesuai dengan porsinya. Apabila Anda melihat kelebihan burung tersebut, maka silakan diikutkan dalam berbagai lomba burung ocehan. Kalau Anda menyayangi burung Anda, maka rawatlah dengan layak. Misalnya dengan memberikan sangkar yang baik. Yang disesuaikan antara jenis sangkar burung dengan kebutuhan si burung tersebut.

Jenis Sangkar Burung - Bahan-bahan Pembuat Sangkar Burung

Setelah mengenal fungsi sangkar burung, juga Anda telah memiliki kesadaran akan perlunya sebuah sangkar yang layak bagi burung peliharaan Anda. Maka kini saatnya Anda mengenal  beberapa sangkar burung beserta bahan-bahan pembuatnya. Sehingga Anda dapat mengkalkulasikan dengan baik, antara kebutuhan dan harga-harga sangkar yang ditawarkan.
Anda dapat mengeceknya dari berbagai bahan pembuat sangkar burung tersebut. Berikut ini adalah beberapa bahan pembuat sangkar burung:

Kayu

Beberapa sangkar burung terbuat dari kayu. Jenis kayu yang digunakan adalah pematok dasar atas harga sangkar yang sudah jadi nantinya. Sebagai gambaran, sangkar yang terbuat dari kayu pipih biasa mungkin cukup dihargai sekitar Rp 100.000,- saja. Namun sangkar yang terbuat dari kayu ulin, kayu besi, kayu jati, kayu sungkai atau kayu nyatoh; semua rata-rata berharga cukup mahal.
Beberapa sangkar burung dari kayu sungkai dan nyatoh, dapat dibandrol mulai harga ratusan ribu. Sementara yang terbuat dari kayu jati, seharga satu juta rupiah lebih.

Kayu Solid

Sangkar dari kayu solid merupakan jenis sangkar yang cukup tinggi harganya. Karena penggunaan kayu solid untuk sangkar pada prinsipnya adalah menghindari adanya sambungan-sambungan. Sehingga kayu yang digunakan dalam pembuatan sangkar bisa merupakan kayu gelondong asli  yang kemudian diukir atau ditatah.
Biasanya kerajinan sangkar dari kayu solid biasa ditemukan di beberapa pengrajin di Bali. Apalagi ditambah dengan beberapa jenis ukir-ukiran khas Bali. Mungkin harga yang dipatok bisa mencapai jutaan.

Besi

Penggunaan besi pun tergantung dari kelas-kelasnya. Ada besi pipih atau hollow, dan besi solid. Tentu saja harga sangkar burung akan berbeda, sesuai dengan pilihan besi dalam pengerjaan sangkarnya.

Bambu

Meski bambu tergolong bahan yang murah dan mudah didapat. Namun pengerjaan sangkar burung dengan nilai dan citra seni yang tinggi, akan tetap dapat menghasilkan sebuah sangkar burung yang memiliki nilai seni tinggi. Dan tentu saja akan berpengaruh dalam penentuan harga. Kebanyakan sangkar burung dari bambu, tidak dipatok terlalu tinggi harganya. Untuk sangkar burung dari bahan bambu yang terbaik masih dapat dicapai dengan harga sekitar tiga ratus ribu rupiah saja.

Kawat

Jenis sangkar burung yang teruat dari kawat, adalah yang tergolong paling murah. Selain hanya membutuhkan kayu pipih kecil sebagai rangka, selanjutnya hanya diselimuti oleh kawat seputar sangkarnya. Dengan uang Rp 50.000,- saja hingga Rp 100.000,- Anda telah dapat memiliki sangkar jenis ini.

Jenis Sangkar Burung Menyesuaikan Fisik Burung

Selanjutnya adalah penyesuaian antara sangkar dan bentuk fisik burung. Salah menempatkan akan berakibat fatal bagi burung Anda.
Burung yang memiliki bodi besar seperti burung Beo, jika ditaruh dalam kandang yang kecil tentu pergerakannya akan terbatas. Hal ini mengakibatkan burung itu stres, karena tak leluasa meloncat-loncat.
Demikian pula jika burung yang fisiknya kecil seperti kenari ditaruh dalam kandang yang besar dan luas. Akibat yang muncul adalah pergerakannya akan menjadi hiperaktif karena selalu meloncat dan berterbangan. Akhirnya, perfoma kicauannya tak keluar maksimal, karena tenaganya dihabiskan untuk bergerak ke sana-sini.
Sehingga pada intinya, sangkar memberi peranan yang tak kalah penting terhadap perfoma burung Anda. 
Bagi yang ingin memelihara burung sebagai hobi baru, sebaiknya memperhatikan kiat-kiat agar burung kesayangan Anda tidak stres karena kurang nyaman di kandang. Di pasaran burung kicauan, terdapat jenis-jenis sangkar yang terbuat dari aneka material seperti kawat, bambu, besi dan kayu; seperti yang telah disingggung sebelumnya. Demikian juga desain dan bentuknya pun berbeda. Contohnya, sangkar burung Perkutut berbeda sekali dengan sangkar untuk burung Cucakrowo.
  • Sangkar Burung Perkutut
Sangkar burung Perkutut memiliki ciri khas tersendiri, yakni berbentuk bulat, terbuat dari bilah bambu, kayu pada bagian tepi bawahnya, dan di bagian atas biasanya terdapat penutup/atap. Karena kebiasaan di alam bebas burung perkutut menyukai tempat teduh, maka sangkarnya rata-rata terdapat atap di atasnya. Fungsinya agar tak terkena langsung sinar matahari. Dalam sangkar burung perkutut terdapat satu palang tempat burung bertengger, satu tempat air minum, dan tempat makanan burung.  
  • Sangkar Burung Kenari
Sangkar burung Kenari ada beberapa versi, ada versi barat/impor. Kurungan ini berbentuk segi empat, terbuat dari ram besi, alas sangkar tertutup, sedangkan tenggerannya ada yang berbentuk gelang dan palang.
Bentuknya tak begitu besar. Mengingat burung ini merupakan burung asli Eropa yang diimpor dan dibudidayakan di Indonesia, maka sangkarnya pun masih banyak didatangkan dari luar negeri. Namun ada juga sangkar burung kenari yang buatan lokal. Sangkar ini dibuat dari bilah bambu, bentuknya seperti tabung, dengan sentuhan gaya khas kurungan oriental.  
Dalam sangkar burung terdapat dua palang tenggeran, satu tempat makan, dan satu tempat air minum. Uniknya tempat makan dan tempat air minum burung terbuat dari keramik halus. Fungsinya untuk estetika keindahan. 
  • Sangkar Burung Ocehan Besar
Dalam dunia ocehan, burung Beo, Kakatua dan burung Cucakrowo merupakan rajanya burung. Burung Beo selain pandai menirukan suara, burung ini aktif bergerak jika ditaruh dalam kandang. Sangkar burung Beo yang respentatif, ukurannya relatif besar, minimal 1 cm x 1 meter, dan tingginya 1,4 meter. Alasnya sebaiknya dilepas agar mudah dibersihkan dan atasnya sebaiknya diberi atap. Jenis sangkar burung pintar ini dibuat dari kawat.

Rabu, 14 November 2012

Sangkar Burung Kenari


Sangkar Burung Kenari - Burung kenari termasuk jenis burung pipit, yaitu pemakan biji-bijian. Biji ini dikupas oleh paruhnya yang cukup keras. Besar burung ini umumnya sebesar burung gereja atau burung gelatik yang banyak kita jumpai. Ada pula yang ber badan lebih kecil dan lebih besar, sehingga dapat mencapai ukuran sebesar burung kutilang. Karena pemakan biji- bijian, maka kotorannya tergolong agak keras dan bersifat melekat. Boleh jadi karena binatang ini juga memakan hijau-hijauan maka kotorannya tidak sekeras kotoran burung perkutut. Dengan sifat kotoran yang lembek-lembek keras, atau keras-keras lembek, dan bersifat melekat sudah tentu ini perlu diperhatikan di dalam memilih sangkar.




Sangkar buatan dalam negeri umumnya memiliki jeruji (bambu atau kawat) sebagai penjaga burung agar tidak lepas, dan di bawah jeruji itu terdapat penampung kotoran. Pada jenis kurungan seperti ini, membersihkan kotoran agak sukar, sebab jerujinya pun akan terkena kotoran. Dan jeruji ini umumnya terpaku mati bersama sangkar. Sangkar yang jerujinya dapat dilepas, sangat mudah untuk dibersihkan. Pada sangkar buatan luar negeri, yang kita temukan di pasaran, kita akan melihat bahwa sangkar itu dibuat dan jeruji kawat dengan dasar sangkar dan plastik. Sedang penampung kotoran berada diatas pembatas kurungan yang biasanya bersifat tertutup rapat. Sangkar buatan Taiwan, misalnya, dasar sangkar juga diberi plastik sebagai alas agar kaki burung tidak mengenai kotorannya sendiri. Konstruksi sangkar ini sangat praktis sehingga mudah untuk dibersihkan. Sangkar yang di pakai adalah sangkar dan Jepang. Sangkar ini alasnya tanpa pembatas, sehingga kotoran akan dapat diinjak oleh burung. Pada alas itu terdapat potongan kertas koran yang harus diganti paling lama dua/tiga han sekali.

Ada juga orang yang memakai potongan plastik Sehingga dapat dicuci. Keuntungan memakai plastik adalah plastik ini tidak dapat dicabik-cabik oleh burung, yang terkadang mempunyai kegemaran menyobek-nyobek kertas koran. Tetapi menggunakan kertas koran juga mempunyai keuntungan lain, yaitu kertas itu dapat dibuang dan diganti potongan lain. Hal lain yang perlu diketahui ialah kebiasaan burung kenari yang gemar mandi atau cuci muka. Dengan kesenangan, burung akan berusaha mencelupkan paruhnya ke tempat minum. Kebiasaan ini juga perlu diperhitungkan, sebab di dalam kita meletakkan makanan hendaknya berada pada tempat sebegitu rupa sehingga percikan air tidak akan mengenai makanan sehingga menjadi basah. Selain dua hal di atas, penlulah kiranya diperhatikan pula bahwa memelihara burung kenari dalam sangkar haruslah satu sangkar dipakai untuk satu ekor burung jantan. Tentulah hal ini tidak aneh dan bukan barang asing.
Sebagai tambahan, dapat dikatakan bahwa argumentasi mengenai sangkar burung (dilihat dan segi apa dan bagaimana sangkar yang baik dilihat dan kegunaannya) telah berjalan cukup lama, yaitu hampir satu abad.