Sabtu, 11 Mei 2013

Barbet Sira, Spesies Baru dari Peru


Gudang Burung - Para ilmuwan telah mengidentifikasi spesies burung baru yang memiliki banyak tanda merah di tubuhnya dan hidup di hutan pegunungan di Peru.

Diwartakan Live Science, Kamis (9/8/2012), sebuah tim dari empat ornitolog muda menemukan burung tersebut selama perjalanan ke wilayah tersebut pada September 2008 dan mempublikasikan hasil penelitian mereka di jurnal The Auk edisi Juli 2012.

Burung-burung kecil itu seringkali terlihat berpasangan, menjelajahi kanopi rendah untuk mencari buah dan makanan ringan lainnya. Wajah mereka seolah memiliki masker hitam, tenggorokan putih dan tanda berwarna merah darah terang di atas kepala mereka. Warna merah ini juga turun sampai ke bagian dada burung.

Para ilmuwan menamai burung ini Barbet Sira atau Capito Fitzpatrick dalam bahasa ilmiah resmi. Habitat burung muncul terbatas pada bagian kecil dari hutan yang beruap dan padat yang mengerumun di lereng tinggi Andes timur.

Data genetik mengungkapkan spesies baru ditemukan erat terkait dengan Barbet merah. Namun, yang burung-burung baru ditemukan memiliki warna merah lebih terang ketimbang sepupu dekat mereka.


Nama spesies tersebut diambil dari John W. Fitzpatrick, seorang ahli ilmu burung terkenal yang memimpin ekspedisi lapangan ke Peru pada 1970-an dan 1980-an. Dia juga bekerja membantu mengidentifikasi enam spesies burung baru bagi ilmu pengetahuan. Saat ini dia adalah direktur Cornell University's Laboratory of Ornithology.

Jumat, 10 Mei 2013

Manusia Sebabkan Spesies Burung Punah di Pasifik


Gudang Burung - Para peneliti mengatakan aksi penjajahan oleh manusia menjadi penyebab kepunahan ribuan spesies burung pada ribuan tahun lalu di Kepulauan Pasifik.

Dilansir NBCnews, Selasa (26/3/2013), beberapa spesies yang punah seperti Moa-nalos yang merupakan jenis unggas besar dari Hawaii dan Sylviornis, burung besar yang beratnya mecapai 66 pon (sekira 30 kilogram) dari New Caledonian. Tak hanya itu saja, burung terbang pun mengalami kepunahan juga.

“Jika kita menghitung semua pulau di Pasifik ini, total ada 1300 spesies burung yang punah termasuk burung laut (seabirds) dan burung kicau (songbirds),” kata direktur Zoological Society London, Tim Blackburn dalam sebuah pernyataannya.

Antara 700 dan 3500 tahun yang lalu, sekelompok pelaut menjajah pulau-pulau terpencil yang tersebar di seluruh Samudera Pasifik untuk berburu burung-burung lokal. Sejak saat itu jumlah spesies burung menjadi berkurang drastis sampai akhirnya mengalami kepunahan.

Peneliti belum dapat mengetahui secara persis berapa banyak spesies burung yang mati, karena cacatan fosil dari pulau-pulau di Pasisfik tidak lengkap. Tetapi, mereka dapat memperkirakan sekira 800 sampai lebih dari 2000 spesies yang mati.

Blackburn beserta anggota tim menganalisis 41 pulau yang tersebar di sepanjang Samudera Pasifik  untuk menemukan catatan fosil yang mendukungnya.

Mereka kemudian menciptakan model perhitungan matematis untuk memperkirakan berapa banyak hewan yang punah di masing-masing pulau ini.

Hasilnya, tim menemukan bahwa setidaknya terdapat 983 spesies burung mati setelah penjajah itu datang. Penjajah asal Eropa yang singgah ke Pasifik jelas menyebabkan kepunahan. Temuan ini dimuat dalam jurnal Proceedings of National Academy of Science

Kamis, 09 Mei 2013

Mati Pada Perayaan Tahun Baru 2011


 


Gudang Burung - Sekira 1.000 burung kecil berwarna hitam mati dan terjatuh dari langit di atas sebuah kota Arkansas, Amerika Serikat. Salah satu dugaan menyebutkan burung-burung tersebut mati karena terkejut akibat suara kembang api menyambut perayaan tahun baru.


Komisi Arkansas Game and Fish Commission mengatakan bahwa mereka mulai menerima laporan tentang burung mati sekitar jam 11:30 sore, atau setelah malam pergantian tahun. Burung-burung jatuh di daerah tersebut dan survei udara menunjukkan bahwa tidak ada unggas mati lainnya yang ditemukan di luar daerah itu.

Komisi ornitologi Karen Rowe mengatakan, burung yang mati menunjukkan trauma fisik, dan dia berspekulasi bahwa kawanan burung tersebut bisa saja terkena petir atau hujan es. Demikian yang dilansir Fox News, Senin (3/1/2011).

Namun demikian spekulasi lain menyebutkan bahwa kembang api akibat perayaan tahun baru di daerah tersebut bisa saja mengejutkan burung-burung yang bertengger dan menyebabkan mereka mati karena stres.

Robby Raja, petugas satwa liar, mengumpulkan sekira 65 unggas yang mati, yang akan dikirim untuk pengujian ke laboratium ternak dan unggas serta ke laboratioum National Wildlife Health Center di Wisconsin, untuk mengetahui lebih lanjut mengenai masalah yang terjadi akibat matinya ribuan burung tersebut.

Kawanan Nazar Makan Jenazah Turus dalam 40 Menit


Gudang Burung - Tragedi mengerikan terjadi di Gunung Pyrenees, Prancis. Seorang turis tewas setelah jatuh ke jurang. Sebelum tim SAR berhasil mengevakuasi, jenazahnya habis dimakan kawanan burung nasar dalam 40 menit!

Pyrenees adalah destinasi wisata gunung di perbatasan Prancis dan Spanyol. Musibah menimpa seorang turis perempuan berusia 52 tahun yang sedang trekking di Pic de Pista bersama kawan-kawannya. Dia terjatuh ke jurang saat mencoba mencari jalan pintas.

Dilansir, News Australia, Senin (6/5/2013) Tim SAR lantas diterjunkan untuk mengevakuasi jenazah. Alangkah kagetnya mereka ketika menemukan korban tinggal tulang, baju dan sepatu. Diduga kuat, burung nasar yang pemakan bangkai, memakan habis jenazah turis malang itu.

Burung nasar memang tergolong hewan langka yang bisa ditemui wisatawan yang menjelajah alam liar di Eropa. Tapi burung nasar, tetap ditakuti masyarakat di Pyrenees. Burung nasar juga sering menyerang sapi di peternakan. Warga setempat yang marah, meminta pemerintah bertindak.

Hal ini diduga karena bangkai-bangkai sapi di kawasan Uni Eropa harus dibakar untuk mencegah penyakit sapi gila. Akibatnya, burung nasar kehabisan makanan dan terbang lebih jauh ke kawasan lain untuk mencari mangsa.

Walikota setempat Didier Pericou mengatakan Tim SAR melihat kawanan burung nasar saat sedang mencari korban. Namun saat itu mereka tidak menyadari apa yang dilakukan kawanan burung nasar itu.

"Tinggal tulang, pakaian dan sepatu yang tersisa di tanah. Mereka memakan tubuh korban dalam 40-50 menit," kata Pericou.

Rabu, 08 Mei 2013

Manfaatkan Limbah Kayu, 3 Generasi Proudksi Sangkar Burung


Gudang Burung - Sudah hal biasa jika hanya ada satu dua warga desa yang membuat satu jenis kerajinan. Tapi bagaimana jika satu kawasan, sebagian besar warganya justru membuat satu kerajinan yang sama. Itulah warga Desa Kebonbatur Kecamatan Mranggen, Demak yang tersohor sebagai daerah sentra produksi sangkar burung. Usaha tersebut sudah bertahan hingga tiga generasi.

Khudori (53), perajin sekaligus pengusaha sangkar burung mengatakan, Desa Kebonbatur merupakan daerah pertanian yang minus. Karena itu, untuk bertahan hidup warga merintis usaha pembuatan sangkar burung dengan memanfaatkan limbah kayu jati. ‘’Generasi pendahulu kami menjual sangkar burung ke Semarang dengan berjalan kaki,’’ kata pria yang telah 25 tahun melakoni usaha sangkar burung ini.

Desa Kebonbatur disebut sentra kerajinan sangkar burung sangatlah wajar. Sebab mayoritas yang memproduksi sangkar burung justru dilakukan anak-anak muda usia produktif. Jumlahnya lebih dari separoh.  Hampir setiap rumah bisa dilihat ada aktivitas membuat sangkar. Entah itu hanya berupa rangka dasar maupun finishing seperti mengoles vernis. Di rumah Khudori, ratusan sangkar tersimpan rapi di gudang.
Dalam sepekan, dirinya bisa dua hingga tiga kali mengirim 100-200 sangkar hingga ke Jakarta. Harga jual sangkar bervariasi tergantung tingkat kerumitan antara Rp 60.000-Rp 600.000. Ciri pembeda sangkar burung buatan dari Desa Kebonbatur, menurutnya, adalah bentuknya yang kotak. 
‘’Sangkar burung dari Solo bentuknya bundar, tapi kalau dari Desa Kebonbatur Demak bentuknya khas yaitu kotak,’’ imbuhnya.Terbuat dari limbah kayu jati, kata dia, keawetan sangkar burung dari Desa Kebonbatur ini tidak lagi diragukan. Sangkar burung yang juga dikombinasikan dari bambu ini bisa bertahan hingga 10 tahun.
Nahrowi (43), salah satu perajin mengaku keterampilan membuat sangkar burung didapatkan secara turun temurun. Menghasilkan satu sangkar burung, bukan pekerjaan mudah Cukup rumit dan butuh ketelatenan. Tergantung besar kecilnya sangkar burung yang dibuat. ‘’Biasanya, pengepul mempunyai pegawai khusus untuk mewarnai sangkar burung,’’ katanya.
Bapak tiga anak ini juga menyebut, ada banyak jenis sangkar burung. Seperti sangkar model hongkongan, solonan dan cak rowo. Kades Kebonbatur, Mahbub mengatakan, perajin sangkar burung ini jumlahnya ratusan. Usaha tersebut mampu menjadi mata pencaharian pokok warga setempat. ‘’Satu yang kami sayangkan hanya infrastruktur jalan. Kondisi jalan rusak sering dikeluhkan investor yang akan menanamkan investasi di Desa Kebonbatur,’’ tukasnya.-suaramerdeka

Burung Laut Jadi Indikator Pencemaan Sampah


Gudang Burung - Di laut atau di pantai seringkali kita menemukan sampah plastik berserakan. Di Kimalo Point yang terletak di Pulau Hawaii, serpihan plastik bahkan ditemukan di kedalaman satu meter di bawah permukaan pasir.


"Di beberapa pantai lainnya, sulit untuk membedakan antara pasir dan plastik," kata Nicholas Mallos, peneliti puing-puing laut di LSM Ocean Conservancy kepada LiveScience, Januari lalu.

Untuk mengetahui tingkat pencemaran sampah di laut, para ilmuwan menggunakan burung laut sebagai alat ukur. Burung laut, termasuk burung pelikan dan burung camar, merupakan rantai makanan paling atas. Mereka menyerap racun dan polusi yang terkandung dalam ikan yang mereka makan. 

Karena burung laut mencari makan di area laut yang luas, tapi selalu kembali ke lokasi yang sama setiap tahun untuk berkembang biak, mereka memasok sampel polutan dari satu wilayah geografis yang luas kepada para peneliti. 

"Mereka terbang menyebar di atas lautan selama setahun sehingga bisa dibilang mereka mengambil sampel pencemaran bagi kami," kata John Elliot dari Environment Canada dalam jurnal Science, 3 Mei 2013. 

"Selama mereka mencari makan, mereka terpapar kontaminasi, terutama jenis bioakumulatif yang memang kami incar." 

Pemantauan racun pada burung laut tidaklah mematikan si burung. Ilmuwan menggunakan sampel bulu, darah, minyak, dan contoh jaringan tubuh tanpa membunuh burung. Sampel tersebut cukup untuk mengukur polusi yang terjadi. 

Burung yang mati kerap ditemukan dengan perut yang penuh plastik. Hal ini menunjukkan peningkatan kontaminasi di laut yang berasal dari limbah nelayan dan para pengunjung pantai. Monterey Bay Aquarium di California memperkirakan sekitar 1 juta burung laut, ditambah 100.000 hewan mamalia laut dan penyu, mati karena menelan plastik setiap tahun.-tempo

Selasa, 07 Mei 2013

Dilema RCI - I


Gudang Burung -  “Bubarkan Raptor Club Indonesia, selidiki MoU BKSDA Jogja dengan RCI, hentikan perdagangan satwa dan elang, hentikan eksploitasi elang atas nama konservasi. Indonesia tidak mengenal falconary, biarkan elang bebas dialam liar. Cabut MoU BKSDA Jogja dengan RCI, Bubarkan RCI, bubarkan RCI.” 

Berbagai tuntutan aksi disuarakan lantang oleh masa aksi, salah satunya oleh Dessy Zahara Angelina Pane atau yang akrab disapa Ina dari Animal Friends Jogja. Panas terik matahari tidak menyurutkan, replika burung elang berputar diareal lokasi aksi. 
Mereka yang tergabung dalam Liga Anti Perdagangan Satwa (LAPS) terdiri dari JAAN, WCS, Suaka Elang, IAR, ProFauna Indonesia, LASA, COP, AFJ, FHK, PPSC, ASTI sebagai kumpulan berbagai organisasi peduli satwa di titik Nol Kilometer, Yogyakarta, Kamis, 11 April 2013.
Menurut Ina, dalam orasinya, akhir-akhir ini semakin marak komunitas yang menggunakan satwa dilindungi dengan mengatasnamakan konservasi dan salah satunya yang terkenal adalah Raptor Club Indonesia. 
Komunitas tersebut memiliki sistem keanggotaan dimana masing-masing anggotanya memiliki minimal satu ekor satwa dilindungi. “Hal ini bisa dibayangkan berapa jumlah satwa dilindungi yang ada di komunitas tersebut, yang mengatasnamakan konservasi, tapi yang terjadi malah eksploitasi,” kata Ina.